spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Warga Nyaman Gunakan PLTS, Pembangunan Desa Muara Pantuan Terhambat

TENGGARONG – Desa Muara Pantuan, Kecamatan Anggana menjadi satu dari beberapa desa di Kutai Kartanegara (Kukar) yang belum merasakan nikmatnya listrik PLN selama 24 jam. Selama ini listrik hanya bisa dinikmati 12 jam, sejak pukul 18.00 hingga 06.00 Wita setiap harinya. Sementara pagi sampai ke petang hanya memanfaatkan tenaga listrik dari panel tenaga surya, itupun bagi yang mampu saja.

Menurut Kepala Desa (Kades) Muara Pantuan Edi, dari sekitar 3 ribu penduduk, hanya 60% saja menginginkan listrik selama 24 jam penuh. Selebihnya masih merasa “cukup” dengan yang ada saat ini. Yakni listrik menyala pada malam hari saja sampai pagi menjelang.

Mahalnya biaya listrik PLN menjadi alasan yang diungkapkan 40% warga Desa Muara Pantuan. Di sisi lain, PLN hendak memasang jaringan 24 jam penuh, jika seluruh warga desa setuju dipasang jaringan listrik.

“Kendalanya warga tidak mau beralih ke voucher (listrik), sebagian nggak mau karena (dianggap) mahal,” ungkap Edi saat diwawancarai, Ahad (18/9/2022).

“Dari survei Pemdes Muara Pantuan, ada sekitar 60 persen mau dipasang, 40 persennya tidak mau. Tapi PLN maunya 100 persen setuju dulu baru dipasang,” ungkap Edi.

BACA JUGA :  20 Tim Siap Adu Skill di Turnamen Sepak Bola Bupati Cup 2023

Untuk memastikannya, warga yang menolak dan pihak PLN pernah dipertemukan di Balai Pertemuan Umum (BPU) Desa Muara Pantuan. Warga yang menolak, jelas Edi, beralasan harga listrik PLN terlalu mahal. Selain itu mereka sudah merasa cukup dengan memanfaatkan panel tenaga surya. Walau hanya 40% warga Desa Muara Pantuan yang memiliki panel tenaga surya, selebihnya menunggu malam baru menikmati listrik.

Akibat adanya penolakan, pembangunan desa terhambat sebab kebutuhan pokok seperti listrik tidak dipenuhi. Padahal saat ini Desa Muara Pantuan sedang menyiapkan diri sebagai lokasi wisata pancing yang digarap bersama Pertamina Hulu Mahakam (PHM).

Diketahui, Desa Muara Pantuan merasakan sambungan listrik dari induk di Samarinda Seberang. Desa yang jaraknya sekitar 45 menit dari Kecamatan Anggana melalui jalur darat ini, berpenduduk sekitar 3 ribu jiwa dari 800 kepala keluarga (KK), terbagi dalam 20 Rukun Tetangga (RT) dan 5 dusun. (afi)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img