spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Waduk Manggar Mulai Surut, Wali Kota Balikpapan Ingatkan Warga Hemat Air

BALIKPAPAN – Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud mengingatkan warga berhemat dalam penggunaan air bersih, mengingat penyusutan permukaan air hingga 60 cm di Waduk Manggar, Balikpapan, Kaltim.

Oleh sebab itu, ia mengimbau warga untuk irit terhadap penggunaan air, serta meminta masyarakat Kota Balikpapan untuk bersama-sama melantunkan doa agar hujan tetap mengguyur wilayah ini.

Selain penyusutan yang terjadi di Waduk Manggar, akhir-akhir ini fenomena kebakaran lahan juga kerap terjadi di Kota Balikpapan kendati berhasil ditangani oleh personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Balikpapan, fenomena Ini terjadi karena adanya fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang terjadi di Samudra Hindia.

Fenomena El Nino adalah sebuah fenomena cuaca yang terjadi akibat peningkatan suhu permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur yang menjadi lebih hangat dari biasanya.

Fenomena alami ini menyebabkan anomali pola cuaca global, yang berdampak signifikan pada iklim di berbagai wilayah di dunia, termasuk di Indonesia

BACA JUGA :  Bangun Kantor, Perusahaan di Balikpapan Tebang Hutan Mangrove Tanpa Izin

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan BMKG, indeks El Nino pada Juli ini mencapai level moderate, sementara IOD sudah memasuki level index yang positif.

“Fenomena El Nino dan IOD Positif saling menguatkan sehingga membuat musim kemarau 2023 menjadi lebih kering,” jelas analis cuaca BMKG Balikpapan Dian Novita.

Kendati demikian bukan berarti tidak ada potensi turunan hujan, beberapa waktu yang lalu di Kota Balikpapan sempat diguyur hujan angin.

“Tapi itu hanya hujan lokal, dan intensitasnya sangat-sangat rendah,” paparnya.

Puncak kemarau kering 2023 diprediksi terjadi pada Agustus hingga awal September dengan kondisi akan jauh lebih kering dibandingkan tahun 2020, 2021, dan 2022.

Sepanjang musim kemarau ini, Dampaknya pun tak main, selain kekeringan fenomena ini juga berpotensi mengganggu ketahanan pangan bahkan berskala nasional.

“Jadi ada ancaman gagal panen pada lahan pertanian tadah hujan,” ungkapnya.

Sektor pertanian akan dapat terdampak, terutama lahan pertanian tadah hujan yang masih menggunakan sistem pertanian tradisional.

Lanjut Dian, kondisi kekeringan ini juga dapat berujung kepada bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang jika tidak terkendali dapat menimbulkan krisis kabut asap yang berdampak pada kualitas lingkungan, ekonomi, sosial, hingga kesehatan masyarakat.

BACA JUGA :  Imbas Proyek PGN, Jalan Projakal Rusak dan Bahayakan Pengendara

Selama fenomena ini berlangsung, kondisi suhu di Kota Balikpapan masih berada di kisaran normal antara 25-31 derajat Celcius.

“Saat ini juga masih terdapat awan di wilayah Balikpapan yg bisa menahan radiasi matahari sehingga ketika malam hari suhunya tidak turun drastis,” pungkasnya.

Belakangan ini beberapa kawasan di Indonesia sedang mengalami kekeringan alias tengah memasuki musim kemarau.

Jika melihat informasi yang beredar di luar Pulau Kalimantan, fenomena ini sudah terjadi sejak beberapa pekan terakhir dan banyak kawasan yang telah merasakan dampaknya. (Ant/MK)

Pewarta : Novi Abdi, Editor : Tunggul Susilo

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img