spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Tingkatkan Kewaspadaan Hepatitis Akut

Oleh: Elfrida Sentyana Siburian

(Mahasiswa Universitas Mulawarman, Program Studi Ilmu Komunikasi)

Pandemi Covid-19 belum usai, kini dunia kembali diserang penyakit misterius yang semakin mengganas. Sosial media dihebohkan dengan temuan penyakit baru yang tidak diketahui etiologinya sehingga menimbulkan ketakutan di masyarakat. Hal ini berawal sejak pasca tiga anak meninggal dunia yang diduga terkena hepatitis misterius di Jakarta. Berdasarkan hal tersebut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Dirjen P2P) mengeluarkan surat edaran tentang kewaspadaan terhadap penemuan kasus hepatitis akut.

Hepatitis akut merupakan liver yang mengalami radang atau inflamasi yang disebabkan oleh infeksi virus. Pasalnya hepatitis akut ini cukup umum ditemui dan menyerang lebih banyak pria dibandingkan dengan wanita. Berdasarkan data dari Kemenkes RI ada 170 kasus hepatitis akut yang sudah tercatat lebih dari 12 negara.

Awalnya penyakit misterius ini menyerang anak-anak di Eropa, Amerika, dan Asia dengan rentan usia 1 bulan sampai 16 tahun. Namun hingga saat ini, penyebabnya belum juga diketahui secara pasti sehingga WHO menyebut hepatitis akut yang belum diketahui etiologinya.

Penyebab hepatitis ini bisa berasal dari dua faktor yakni hepatitis akibat virus dan non-virus. Untuk hepatitis akibat virus ini akan mempengaruhi tingkat keparahan dan lamanya penyakit yang nantinya dibagi ke dalam lima kelas. Mulai dari hepatitis A- sampai hepatitis C. Penyebaran virus hepatitis ini biasanya terjadi di daerah yang kekurangan air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan. Sedangkan untuk hepatitis non-virus bisa melalui racun dan penyakit auto imun yang nantinya menyebabkan peradangan akut pada hati.

Melihat hal tersebut Prof. Dr. dr. Hanufah Oswari, Sp.A (K) Ahli GastroHepatologi dan Spesialis Anak RSCM FKUI memberikan himbauan agar masyarakat tetap waspada. Kemenkes juga meminta pihak terkait untuk menginformasikan kepada masyarakat untuk segera mengunjungi fasilitas layanan kesehatan terdekat apabila mengalami sindrom penyakit kuning, serta membangun jejaring kerja serveilans dengan lintas sektor dan program.

Untuk mencegah penularan tersebut saya mengajak seluruh pihak bergandengan tangan dalam mengatasi masalah ini. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa bantuan masyarakat. Begitu pun sebaliknya. Jika kita bisa melewati keganasan pandemi tentunya kita juga bisa melewati dan meminimalisasi penyakit misterius ini. Mulai dari hal kecil, karena kekayaan sejati adalah kesehatan dan kesehatan bukanlah sesuatu yang dapat kita beli, namun sesuatu yang dapat menjadi investasi yang sangat berharga. (*)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Di Luar Ruangan Masyarakat Bebas Tanpa Masker, Ini Penjelasan Presiden Jokowi

0
JAKARTA - Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan melonggarkan aturan kewajiban penggunaan masker untuk mencegah penularan virus corona penyebab Covid-19. Kini masyarakat diperbolehkan tidak...

Pasca Liburan, 398,6 Kg Sampah Terkumpul di Pulau Beras Basah, Sedotan Plastik Setara Luas...

0
BONTANG - Pasca libur panjang Hari Raya Idul Fitri, aksi bersih-bersih dilakukan di Pulau Beras Basah, pada Minggu (15/5/) hingga Senin (16/5). Yang cukup...