spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Teduhnya KH Hamri Has

SAYA tidak sempat melayat dan mengantarkan jenazah KH Hamri Has bin H Ali Saleh. Ulama kharismatik yang sempat menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltim dua periode itu,  meninggal dunia di kediamannya, Jl Angklung No 1, Kelurahan Sidodadi Segiri, Samarinda Ulu, Rabu (15/5) sekitar pukul 17.30 Wita.

Jenazahnya dimakamkan di pemakaman umum, Jl KH Abul Hasan, di samping kampus IAIN Samarinda, Kamis (16/5), ba’da dzuhur. Bersatu dengan makam orang tua, istri dan saudara-saudara beliau di sana.

Pemakaman di Abul Hasan itu terbilang pemakaman tertua di Samarinda. Wali Kota Andi Harun baru saja menutup dengan resmi karena sudah penuh. Hanya satu dua jenazah saja yang bisa, yang dimakamkan menyatu dengan makam keluarga sebelumnya.

Ribuan warga dan umat Islam mengantarkan jenazah KH Hamri Has.  Sebagian ikut menyalatkan. “Kaltim kehilangan salah satu ulama terbaiknya,” kata Rusmadi Wongso, wakil wali Kota Samarinda ketika melepas jenazah almarhum.

Saya kenal betul dengan beliau. Dulu saya tinggal satu kompleks. Di perumahan Prefab, samping Pasar Segiri. Di seberang rumah Pak Hamri, panggilan akrabnya, ada Masjid Al-Kautsar. Pak Hamri menjadi sesepuh di masjid itu. Saya sendiri sempat menjadi ketua Remaja Masid Al-Kautsar ketika masih kuliah.

Pak Hamri masih sempat salat ashar di Masjid Al-Kautsar.  Tidak sampai dua jam, didapat kabar dari kediamannya beliau telah meninggal dunia. Semua kaget mendengar pengumuman dari masjid berkali-kali.

“Innalillah, saya benar-benar kaget ketika dikabari Pak Hamri meninggal dunia. Padahal sehari sebelumnya saya sempat berkomunikasi. Beliau mau cek jantung di RSKD A Wabah Syahrani,” ujar KH Muhammad Haiban, wakil ketua MUI Kaltim.

BACA JUGA :  Penyebab dan Potensi Pencipta Munculnya Sebuah Isu

Menurut putra almarhum, Fauzi,  ayahnya beberapa tahun terakhir memang bolak balik ke rumah sakit untuk berobat jalan, terutama cek jantung. Selain itu juga menderita penyakit prostat.

“Hampir dua minggu sekali saya mengantar beliau ke rumah sakit. Beliau harus minum obat secara rutin,  kalau tidak dadanya sesak. Juga kontrol prostatnya,” jelas Fauzi.

Ucapan duka cita beredar di mana-mana, terutama melalui media sosial. Para calon gubernur dan kepala daerah lainnya juga memberikan ucapan yang sama. Rata-rata mengenal beliau dan sering mendengarkan tausiahnya.

Meski tak lagi menjadi ketua MUI, KH Hamri Has masih diamanahi tugas. Di antaranya sebagai ketua Dewan Penasihat MUI dan ketua Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Kaltim.  Sebelumnya dia juga pernah menjadi ketua Baznas dan ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kaltim.

Ikut menyalatkan jenazah KH Hamri Has di Masjid Al-Kautsar di antaranya Wakil Wali Kota Samarinda Rusmadi Wongso, Ketua MUI Kaltim KH Muhammad Rasyid, Ketua NU Kaltim Fauzi Bahtar dan sejumlah pejabat, tokoh masyarakat dan para ulama lainnya.

Dalam dua  bulan terakhir Kaltim kehilangan beberapa ulama dan tokoh agama terkemuka. Di antaranya KH Muhammad Fadli Suntung, Pimpinan Pondok Pesantren Subulus Salam Balikpapan. Kiai Fadli sempat mendirikan Pondok Pesantren Asy-Syifa. Juga diberi amanah sebagai Mustasyar PCNU. Ulama kelahiran Amuntai ini, meninggal dunia 28 April 2024 dalam usia 73 tahun.

Sebelumnya Kepala Kantor Kementerian Agama (Kamenag) Balikpapan, HM Izzat Solihin meninggal dunia, 19 Maret 2024 dalam usia 55 tahun akibat gagal ginjal. Menyusul kemudian mantan Kakanwil Kemenag Kaltim dan Kamenag Balikpapan Drs Saifi, M.Pd  yang meninggal pada 9 April 2024 dalam usia 57 tahun akibat serangan jantung.  Jabatan terakhirnya kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan dan Kerjasama (AAKK) UIN Antasari, Banjarmasin, Kalsel.

BACA JUGA :  Diversitas dalam Laras: Bingkai Multikultural jadi Sandungan Komunikasi Interpersonal
Pengusaha HM Jos Soetomo dan KH Hamri Has.
KH M Fadli Suntung (kanan) bersama KH Jailani Mawardi.
KH Hamri Has menyerahkan tugas ketua MUI kepada KH Muhammad Rasyid disaksikan KH Farid Wadjdy.
Wakil Wali Kota Samarinda Rusmadi Wongso ketika melepas jenazah KH Hamri Has.
Suasana pemakaman jenazah KH Hamri Has di pemakaman umum, Jl KH Abul Hasan Samarinda.

TAMPIL SEDERHANA

Yang tidak bisa saya lupakan dari KH Hamri Has adalah gaya tausiahnya yang teduh dan mudah dicerna. Juga sangat kuat dalam menyampaikan dalil-dalil, yang menjadi latar belakang pesan-pesan yang disampaikan.

Beliau juga berpenampilan sederhana. Mengenakan baju biasa dengan kopiah hitam. Hanya sekali-kali saja berpenampilan seperti kiai pesantren dengan baju jubbas atau gamis warna putih dan sorban yang melilit di kepala.

Jubbas adalah baju muslim laki-laki yang longgar dan memanjang hingga mencapai mata kaki. Di beberapa negara yang ada musim dinginnya, jubbas dibuat dari kain yang tebal dan berat, sehingga mampu menahan hawa dingin.

Sewaktu saya menjadi ketua Masjid Agung At-Taqwa  Balikpapan, saya ingin coba pakai jubbas atau gamis. Ternyata tidak cocok. Terutama perutnya. Jadi baju koko saja. Itu pun sekali-kali saja. Lebih banyak pakai kemeja biasa.

Tausiah dan dakwah KH Hamri Has sangat teduh. Tak ada kesan menyudutkan atau mengancam. Itu juga disampaikan oleh KH Muhammad Rasyid. “Komunikasi dakwah beliau sangat sederhana dan mudah dicerna. Jadi orang gampang memahami.  Di kalangan ulama beliau sangat senior, itu sebabnya kita meminta beliau sebagai ketua Dewan Pertimbangan MUI,” jelasnya.

“Mudah-mudahan sepeninggal beliau, banyak lahir ulama-ulama di Kaltim yang mampu membimbing umat seperti dilakukan KH Hamri Has.  Tanpa ada ulama, umat akan bingung ke mana harus bertanya dan belajar masalah agama,” kata Rusmadi Wongso.

KH Hamri Has lahir di Kampung Rebab Rinding, Kecamatan Muara Muntai, Kutai Kartanegara, 15 Januari 1939. Wafat dalam usia 85 tahun. Menurut Kiai Rasyid, KH Hamri Has menjadi orang yang terbaik menurut Nabi Muhammad SAW. Yaitu orang yang panjang umur dan banyak memberikan manfaat bagi orang lain terutama dari syiarnya di berbagai tempat, mulai di rumah-rumah sampai ke masjid-masjid.

BACA JUGA :  Andi 'Beluluk Lingai'

Pendidikan KH Hamri Has dimulai dari sekolah rakyat di kampungnya. Lalu meneruskan Sekolah Normal Islam di Samarinda. Lanjut ke SMA (MMT) di Yogyakarta sampai sarjana muda di IAIN Sunan Kalijaga. Kemudian S1-nya ditempuh di IAIN Sunan Ampel, Malang.

Dia memulai kariernya sebagai kepala Sekolah Normal Islam dan direktur Sekolah Persiapan Institut Agama Islam Negeri (SPIAIN). Juga menjadi kepala Biro Bina Mental Spiritual Sekretariat Kantor Gubernur Kaltim. Pernah menjadi anggota DPRD utusan Korpri (Golkar).

Saya jadi teringat ketika KH Hamri Has mengisi pengajian Majelis Taklim Ukhuwah Islamiyah Provinsi Kaltim di rumah dinas Wagub Hadi Mulyadi, empat tahun silam. Beliau bilang, kelak di akhir zaman umat Islam akan melupakan para ulama.  Jika hal ini terjadi, berarti menandakan keimanan umat Islam sudah runtuh. “Karena itu umat Islam harus selalu taat kepada Allah agar hal ini tidak terjadi,” jelasnya.

Ada pengalaman dramatis yang dialami KH Hamri Has. Ketika beliau bersama 10 tokoh lainnya dihajikan pengusaha HM Jos Soetomo di tahun 1979, mereka sempat terkurung 4 jam lebih di Masjidilharam menyusul terjadinya pendudukan berdarah yang dilakukan kelompok teroris. Tapi mereka semua selamat. KH Hamri Has sujud syukur. Allah menjaga beliau sampai kehidupan yang kekal di akhirat. Aamiin. (*

Catatan Rizal Effendi

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img