spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Tanggal 29 Ke-29

Catatan: Rizal Effendi

JUDUL  tulisan saya agak unik. Tanggal 29 ke-29.  Maksudnya  tanggal  29 Juni 2022. Pada tanggal itu kebetulan  kita memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-29. Sepertinya jadi angka atau nomor cantik. 29 – 29.  Dalam numerologi, angka 29 itu termasuk angka keberuntungan. Mudah-mudahan saja Harganas tahun ini membawa keberuntungan bagi keluarga kita semua, setelah dua tahun  dihantam wabah Covid-19.

Banyak warga masyarakat yang kehilangan anggota keluarga  mereka akibat Covid-19. Berdasarkan catatan  terakhir, ada 6 juta orang di Indonesia yang terpapar dan 157 ribu meninggal dunia. Banyak ibu yang berstatus janda, dan banyak anak yang menjadi yatim atau yatim piatu.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil secara khusus mengambil anak angkat, di mana kedua orangtuanya meninggal dunia akibat Covid. Sang anak masih berusia 2 tahun bernama Arkana Aidan Misbach. Cahaya yang menerangi dunia.  Arkana sekarang menjadi cahaya bagi Emil dan istrinya, Atalia Praratya menyusul terjadinya musibah yang menimpa anak sulungnya, Emmeril Kahn Mumtadz.

Peringatan Harganas sudah dilaksanakan sejak 29 Juni 1993. Kemudian diperkuat lagi melalui Keputusan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono No 39 Tahun 2014.

Ada dua hal melatari ditetapkannya peringatan Harganas. Pertama, berkaitan dengan sejarah perjuangan bangsa. Seminggu setelah tanggal 22 Juni 1949, di mana Belanda akhirnya menyerahkan kedaulatan Bangsa Indonesia secara utuh, maka para pejuang kita baru bisa kembali ke rumah masing-masing untuk berkumpul dengan keluarga.

Suasana itu dirasakan para pejuang dan keluarga sesuatu yang sangat istimewa  dan  penuh sukacita. Walau ada juga yang bersedih karena sang ayah yang ditunggu tidak kembali. Dia gugur di medan perang demi membela bangsanya.

Kedua, tanggal 29 Juni bertepatan dengan dicanangkannya Gerakan Keluarga Berencana (KB) Nasional atau hari kebangkitan keluarga Indonesia. Tepatnya dicanangkan Presiden Soeharto pada tanggal 29 Juni 1970. Berkat Gerakan KB yang dahsyat itu, jumlah keluarga di Indonesia bisa dikelola dengan baik. “Dua anak cukup.” Begitu semboyannya waktu itu. Dan Indonesia berhasil meraih penghargaan UN Population Award dari PBB.

BACA JUGA :  Abdunnur,  Rektor Baru Unmul

Penggagas Harganas adalah Prof Dr Haryono Suyono, kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional  (BKKBN) pertama yang sangat populer pada tahun 1983. Dia juga konseptor Posyandu yang awalnya tempat konsultasi KB (Pos KB).  Lagu KB karangan Mochtar Embut sangat populer. “Keluarga Berencana sudah waktunya……” Pada era Presiden BJ Habibie, Haryono diangkat  sebagai menteri koordinator bidang kesejahteraan rakyat (menko kesra) dalam Kabinet Reformasi Pembangunan.

Tema Harganas tahun ini tidak terlalu jauh bergeser dari tahun sebelumnya. Kalau tahun lalu  “Keluarga Keren Cegah Stunting,” maka tahun ini mengangkat tema “Ayo Cegah Stunting Agar Keluarga Bebas Stunting.” Itu menunjukkan bahwa kita semua harus benar-benar serius dan peduli dengan masalah stunting karena sangat merugikan kualitas anak bangsa di masa mendatang.

Gubernur Kaltim Dr Isran Noor, seperti pernah saya tulis,  sering mengawali sambutannya dalam berbagai acara dengan canda soal stunting. Sambil menurunkan tiang mikrofon, dia bilang:  “Susah juga kalau jadi orang stunting.” Undangan tentu tertawa. Tapi di balik canda itu, sebenarnya Gubernur ingin mengajak masyarakat agar memperhatikan benar-benar kasus stunting di tengah lingkungan atau keluarga kita.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah 5 tahun) akibat o kekurangan gizi kronis sehingga anak tidak tumbuh atau terlalu pendek untuk usianya.

Bagaimana kita tahu anak masuk kategori stunting? Lihat saja apakah pertumbuhannya melambat. Wajah lebih muda dari anak seusianya. Pertumbuhan gigi terlambat. Kemampuan fokus dan memori belajarnya tidak terlalu baik. Biasanya pada usia 8 – 10 tahun dia lebih pendiam. Tidak banyak melakukan kontak mata terhadap orang di sekitarnya.

BACA JUGA :  DBH, Pajak dan CSR

Ada anjuran untuk mengurangi risiko anak mengalami stunting sejak masa kehamilan sang ibu.  Di antaranya kita harus memenuhi kebutuhan nutrisinya. Lakukan pemeriksaan kandungan secara rutin. Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Hindari paparan asap rokok. Lalu berolahragalah secara rutin.

Indonesia masih memiliki angka prevalensi stunting cukup tinggi, yakni 24,4 persen. Padahal WHO meminta di bawah 20 persen. Bahkan Wapres Ma’ruf Amin memasang target turun menjadi 14 persen pada 2024. Ini akibat tingginya angka anemia dan kurang gizi pada remaja putri sebelum nikah.  Sehingga pada saat hamil kemudian menghasilkan anak stunting.

Menurut Kepala BKKBN Dr (HC) dr Hasto Wardoyo, SP.OG berdasarkan  Survei Kementerian Kesehatan masih terdapat remaja putri usia 15 – 19 tahun dengan kondisi berisiko kurang energi kronik sebesar 36,3 persen. Wanita usia subur 15 – 49 tahun dengan kondisi yang sama 33,5 persen dan mengalami anemia sebesar 37,1 persen.

Saya kenal baik dengan dr Hasto. Sebelumnya dia menjadi bupati Kulonprogo (2011 – 2019) dengan berbagai prestasi. Saya sempat ke sana. Diberi minuman air kemasan bermerek AirKu (Air Kulonprogo), produksi Pak Bupati. Supaya warganya tak beli air kemasan dari luar. Dan dia pernah bertugas di Kaltim. Menjadi kepala Puskesmas Kahala dan Melak, Kukar. Juga di Lok Tuan Bontang.

Menurut dr Hasto, sangat penting inisiasi program wajib pendampingan, konseling, dan pemeriksaan tinggi serta berat badan bagi wanita yang akan menikah. Biar bisa dilakukan antisipasi jika sudah menikah dan hamil. Sekarang ini ada 200 ribu Tim Pendamping Keluarga (TPK) terdiri bidan desa, kader PKK dan KB, yang siap membantu.

Dalam keterangan terpisah, Ketua Umum Ikatan Bidan Indonesia (IBI)  Dr Emi Nurjasmi, M.Kes menyatakan 3.000 bidan yang tersebar di seluruh Indonesia siap mendukung upaya pengentasan stunting.

BACA JUGA :  Berau dan Makmur

Dikatakannya, ada tiga strategi pengentasan kasus stunting di Indonesia. Selain pendekatan pendampingan remaja sebelum menikah, pendampingan ibu saat hamil dan pendampingan saat lahir dan usia dua tahun.

Puncak Perayaan Harganas akan berlangsung di Medan, Sumatera Utara. Tadinya tepat dilaksanakan 29 Juni,  tetapi karena Presiden Jokowi masih bertugas ke luar negeri, maka diundur tanggal 7 Juli. Meskipun begitu, tanggal 29 Juni akan tetap dilaksanakan Apel Siaga Hari Keluarga Nasional serentak seluruh Indonesia di lingkungan BKKBN.

Menurut Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Nopian Andusti, ada empat kegiatan unggulan yang telah diusung BKKBN dalam acara Harganas tahun ini. Yakni Bapak Asuh Anak Stunting, Sepekan Elsimil (Elektronik Siap Nikah dan Hamil), Semarak Kampung KB, dan Pelayanan KB Serentak Sejuta Akseptor (PSA).

Ada cerita duka tentang Rifka Dina Aulia. Nasibnya tidak semujur Arkana yang diasuh keluarga Ridwan Kamil. Anak perempuan berusia 7 tahun ini juga yatim piatu. Ayah ibunya sudah meninggal. Arkana sehat, tapi Rifka yang tinggal di Dusun Krajan, Probolinggo, Jatim ini dalam keadaan lemah karena mengalami gizi buruk dan stunting. Dia hanya terbaring di gubuk yang reyot.

Nenek dan pamannya yang mengasuh tak mampu membiayai pengobatannya. Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang dimiliki juga tak bisa dimanfaatkan secara maksimal. “Kami ingin Rifka sembuh, tersenyum dan bisa bersekolah bersama teman-temannya,” kata sang paman pilu ditayangkan Kompas.TV.

Coba kita cermati lingkungan di sekitar kita. Bisa jadi banyak Rifka lain yang nasibnya juga seperti itu. Stunting memang harus kita entaskan. Itu baru Harganas punya arti. Tidak sekadar kegiatan, yang besoknya sudah hilang tanpa bekas (***)

Penulis adalah Wali Kota Balikpapan 2011–2016 dan 2016–2021 dan Pengurus PWI Kaltim

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img