spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Proses Ferza Agustia Darma Jadi Kian Dewasa dalam Berpolitik

BONTANG – Ferza Agustia Darma, calon anggota DPRD Kaltim dari dapil Bontang, Kutim, Berau, memiliki latar belakang keluarga yang kuat di bidang politik. Ia adalah anak dari pasangan Almarhum Adi Darma dan Najirah, mantan walikota dan wakil walikota Bontang. Ia juga cucu dari anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 1983 silam yang juga merupakan salah satu pendiri PPP di Kaltim.

Ferza mengaku sulit untuk berbelok arah dari dunia politik. Musabab sedari kecil, ia telah melihat karena melihat kakek, ayah, dan ibunya melayani dan mengabdikan diri kepada masyarakat . “Jadi memang garis keturunan kita melayani masyarakat. Selalu ingin bermanfaat buat orang banyak,” ujarnya kepada Media Kaltim.

Ferza sendiri sebenarnya bukan tanpa pengalaman politik. Ia pernah menjadi legislator DPRD Kaltim termuda pada periode 2014-2019 silam dari Dapil Bontang, Kutim, Berau. Kala itu, ia mengaku gejolak idealisme masa muda, dan hasrat untuk menjadi politikus sangat menggebu-gebu. Jelas saja, pria yang kerap disapa Eza ini terpilih duduk di kursi “Karang Paci” di usia 25 tahun.

BACA JUGA :  Ratusan Warga Bontang Ikut Mudik Gratis, Najirah Apresiasi Kontribusi PKT

“Jujur saja waktu itu saya lebih memikirkan pelantikan, jadi anggota dewan. Yah, dengan idealisme anak muda lah,” ungkapnya.

Pada Pileg 2019 pun ia kembali mencalonkan diri, hanya saja harus rela melepaskan kursinya karena persaingan ketat di partainya kala itu Golkar. Dari sini lah, ia memutuskan hiatus dari dunia politik dan kembali menggeluti dunia bisnis yang memang sebelumnya pernah ia jalani.

Namun, takdir membawanya kembali ke politik, ketika DPP PDI Perjuangan menunjuknya sebagai calon Walikota Bontang pada tahun 2020 pasca wafatnya sang Ayah yang kala itu mencalonkan diri sebagai calon Walikota Bontang.

Ferza mengaku sempat mengiyakan tawaran partai koalisi yang hanya menginginkan keluarga mendiang Adi Darma yang menggantikan pencalonan walikota Bontang. Setelah berdiskusi panjang dengan keluarga khususnya Ibunya, ia memutuskan untuk mendorong Ibunya Najirah, untuk maju bersama Basri Rase kala itu.

“Saat itu, saya bilang ke ibu, ikhlaskan saya sebagaimana kamu mengikhlaskan Almarhum.  Namun setelah saya diskusi, dan merenung, kita putuskan mendorong ibu. Jadi bentuk berbaktinya ibu kepada bapak. Karena 16 program prioritas dibuat itu kan buah pemikiran almarhum. Jadi kami merasa bertanggung jawab menjalankannya,” katanya.

BACA JUGA :  Desak Perbaikan Jalan Bonles, BW: Malu Pemkot Kalau Dituntut Warganya

Hal ini lah yang menarik Ferza kembali ke dunia politik, hingga ia kembali mencalonkan diri sebagai Calon Anggota Legislatif DPRD Kaltim pada Pileg 2024 nanti dari PDI Perjuangan.

“Jadi semenjak wafat, justru yang menarik saya. Saya ini sekarang, bisa dikataka berbeda 2014 dan 2024.  Dulu saya mengharapkan sekali dukungan orang, sekarang saya lebih memikirkan apa yang bisa saya lakukan untuk masyarakat. Nothing to lose lah, niatnya sudah beda,” bebernya.

Ferza mengatakan, ia tidak ingin hanya duduk di kursi legislatif, tetapi ingin turun langsung ke masyarakat dan membantu mereka. Ia juga mengaku tidak ada konflik antara bisnis dan politik, asalkan bermanfaat bagi banyak orang.

“Apapun yang saya bisa lakukan, untuk masyarakat. Saya banyak mendampingi ibu banyak mendengar menyampaikan dan merealisasikan. Akhirnya saya maju ini tanpa saya sadari, sudah melakukannya. Sudah berbeda lebih menghayati ruhnya politik ketimbang dulu. Buat saya dulu duduk atau tidak duduk itu nanti. Yang penting saya turun ke masyarakat saya langsung,” tuturnya.

BACA JUGA :  Sosialisasi Wawasan Kebangsaan, Kadir Tappa: Ilmu yang Diperoleh Dapat Diterapkan dalam Kehidupan Sehari-hari

Lebih lanjut Ferza menyatakan, jauh dari stigma hanya terdompleng nama besar orang tuanya. Justru ia menyatakan, mendapat sambutan yang antusias dari masyarakat Bontang, yang dikenal sebagai kota yang kritis dan lantang. Ia merasa apa yang ia lakukan tulus dan mendapat feedback yang positif.

“Sejauh ini enggak ada (stigma), menurut saya Bontang ini sangat kritis. Orang di sini lantang yang saya dapati sekarang ini orang menyambut saya antusias,” ucapnya.

Meski demikian, Ferza mengakui tidak mudah mengikuti jejak ayahnya, yang memiliki nama harum di kalangan masyarakat. Ia berharap bisa tampil sempurna di depan orang yang sayang padanya.

“Sebetulnya tidak mudah, ada nama harum almarhum yang menjalani, di depan orang sayang harus tampil sempurna. Yah mudahan saya bisa melanjutkan perjuangan orang tua kami,” tandasnya.

Pewarta : Andi Desky
Editor : Nicha R

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img