spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Prihatin Angka Kematian Akibat DBD, Dinkes Kaltim Harapkan Vaksinasi Jadi Program Nasional


SAMARINDA– Diperkirakan ada sebanyak 390 juta infeksi virus dengue pertahun. Setiap 12 menit, 1 orang meninggal akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti terutama anak-anak.

Menurut Data WHO perihal Dengue and Severe Inforgrafic 2019, Infeksi Dengue merupakan penyakit yang ditularkan melalui vektor dengan penyebaran tercepat di dunia.

Dilansir dari Kementerian Kesehatan pada 2020, Indonesia secara konsisten menjadi salah satu dari tiga negara teratas dengan beban dengue tertinggi secara global.

Dari situ, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur, Jaya Mualimin menginisiasi pemberian vaksinasi DBD kepada anak-anak khususnya di Kalimantan Timur.

Sebanyak 9.800 dosis berhasil memberikan dampak kepada anak-anak di Balikpapan dengan menurunkan angka kematian. Kemudian dilanjutkan Juli di Samarinda dengan 5.500 dosis.

“DBD itu harusnya bisa ditanggulangi dengan cepat. Kenyataannya setiap minggu itu ada yang meninggal,” ucap Jaya saat ditemui di kantornya pada Senin (8/7/2024).

Sebab nyamuk tidak bisa dihilangkan, akan tetap selalu ada. Meskipun dapat dikurangi populasinya dengan 3M, Menguras, Menutup dan Mengubur. Menurutnya semua sudah dilakukan namun tidak dapat mengurangi angka terjangkit DBD.

BACA JUGA :  Surat Tugas Konsolidasi Demokrat untuk Hendra Ekayana Berakhir, Dua Syarat Belum Terpenuhi

“Maka harus ada terobosan-terobosan salah satunya adalah vaksinasi,” urainya.

Belajar dari vaksinasi Covid-19 lalu yang berhasil menurunkan angka kematian akibat virus. “Covid aja bisa kita vaksin maka DBD yang sudah lama nggak bisa,” tambah Jaya.

Untuk itu, pihaknya mempelajari seperti apa efek dari vaksin dan tingkat keselamatannya. Ternyata dalam temuannya efektif bagi anak-anak untuk kebal dari DBD.

“Kayaknya ini bisa kita lakukan di Provinsi Kalimantan Timur dan kita coba melakukan beberapa kajian-kajian,” terusnya.

Kemudian ia berharap program vaksinasi DBD di Kaltim dapat menjadi penggerak program Nasional. Hal itu tentu bertujuan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 nanti.

Proyeksi ke depan adalah dapat melakukan vaksinasi ke Kabupaten/Kota yang memiliki angka terjangkit tinggi. Seperti misalnya Kutai Barat. Dengan begitu, Kaltim bisa mengurangi secara signifikan kematian anak dikarenakan DBD.

Pewarta: Khoirul Umam
Editor : Nicha R

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img