spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Menilik Komunikasi Multikultural dalam Program MBKM di Era Normal Baru

Oleh: Ahmad Adha Febrian, Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman

Pada awal tahun 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A. mencanangkan suatu program yang bernama Merdeka Belajar-Kampus Merdeka. Salah satu programnya adalah pertukaran mahasiswa antaruniversitas di Indonesia maupun luar negeri.

Tentu program ini adalah program yang melatih kemampuan mahasiswa terutama kemampuan komunikasi multikultural mereka, karena mahasiswa diajak untuk belajar di luar kampus asli mereka bahkan di luar negeri, sehingga mahasiswa akan lebih banyak bertemu dengan orang baru yang berasal dari jenis kelamin yang berbeda, suku yang berbeda, ras yang berbeda, program studi yang berbeda, universitas yang berbeda, serta budaya yang berbeda pula.

Namun sebagai penulis dari opini ini, saya merasa program MBKM ini belum sepenuhnya dilakukan secara optimal, dikarenakan ini merupakan tahun awal pemberlakuan program. Ditambah dua tahun ini yaitu sejak awal program MBKM ini dilaunching, Indonesia masih dilanda oleh pandemi COVID-19.

Rektor Univesitas Widyatama Bandung, Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, S.IP. M. Si mengatakan, bahwa salah satu hambatan dari program MBKM ini adalah masih adanya kultur teknis yaitu budaya minta petunjuk dan takut akan melakukan kesalahan di antara para pihak penyelenggara MBKM, sehingga tidak terbentuk kemerdekaan dalam berinovasi di dalam program ini jika budaya ini terus menerus dilakukan (Egi, 2021).

Kemudian menurut salah satu peserta program pertukaran mahasiswa dalam negeri program MBKM angkatan 1, dengan inisial A yaitu salah satu mahasiswa Unmul yang sekarang tengah menjalani program MBKM di Universitas Ahmad Dahlan ketika saya wawancarai, A mengatakan bahwa program ini masih sangat perlu ditingkatkan lagi kedepannya.

BACA JUGA :  Buruh Bukan Musuh Perusahaan, SBSI '92 Bertemu Karyawan PT MIL 

A selaku angkatan pertama masih merasakan beberapa masalah terutama masalah finansial, seperti yang ia katakan pada saat saya wawancarai pada tanggal 15 Desember 2021 via whatsapp. “Uang lambat cair… padahal dijanjikan uang kos, uang biaya hidup, uang PCR”.

Kemudian jalannya program ini tidak sepenuhnya luring, tetapi A sempat menjalani program MBKM ini secara daring karena terhambat oleh meluapnya kasus COVID-19 pertengahan-akhir tahun lalu hingga akhirnya pada tanggal 31 Oktober 2021 ia baru mendarat di Jogja.

Memang permasalahan utama dalam MBKM adalah masalah finansial, karena menurut A ketika pemerintah memberangkat seseorang maka seharusnya pemerintah bertanggung jawab untuk “memberi makan” orang itu.

Kemudian masalah selanjutnya adalah soal pemilihan tempat, pada saat mendaftar, A tidak mengetahui kota mana yang ingin dituju. A hanya mengetahui pulau yang ingin dia pilih.

Selain dari permasalahan diatas, A merasa program MBKM ini sangat perlu diapresiasi. Dalam program ini A banyak sekali belajar terutama tentang komunikasi multikultural. A mengetahui banyak tentang bahasa-bahasa dalam suatu suka di Indonesia, yang dimana satu suku bisa mempunyai banyak bahasa. Dia juga merasa pada saat di Pulau Jawa, orang-orang di sana lebih ramah kulturnya,

“Orang-orangnya lebih ramah daripada orang-orang di Samarinda, jadi kayak ramah banget. Kita sering lihat orang ramah di Samarinda, tapi lebih ramah lagi orang di Jogjakarta. Tata kramanya, bahasanya, ngomongnya halus banget. Itu si yang kaget, awalnya sih kaget, takut aja kita ngomongnya kekencangan,” ucapnya.

BACA JUGA :  Perda Ketenagalistrikan Akan Direvisi, Pansus Tambahkan Pemanfaatan Energi Terbarukan

Kemudian program MBKM juga melatih komunkasi multikultural dari A sendiri. A merasa dia lebih tau bahasa suku lain serta aksen dan logat suku lain.

A juga mengatakan bahwa dalam program MBKM juga ada yang namaya Modul Nusantara, yaitu dimana mereka para mahasiswa pertukaran diajak untuk berkeliling ke situs-situs bersejarah di lokasi pertukaran. Mereka juga diajak untuk mengetahui budaya setempat seperti tempat wisata sampai tokoh-tokoh penting.

Modul ini sejenis dengan mata kuliah tetapi mereka kuliah dengan jalan-jalan untuk lebih mengenal kota tempat pertukaran dan kemudian menuliskan laporannya.

Dalam modul nusantara ini terdiri dari beberapa bagian yaitu Bhineka, Refleksi, dan Inspirasi. Bhinneka yaitu kegiatan berkunjung serta visitasi untuk lebih mengenal kota tempat pertukaran untuk kemudia ke bagian selanjutnya yaitu Refleksi.

Refleksi berisi kegiatan tukar pendapat serta berbagi pengetahuan antarpeserta pertukaran tentang apa saja yang telah didapat selama kegiatan Bhinneka. Kemudian Inspirasi yaitu kegiatan mengunjungi tokoh masyarakat dan tokoh penting di kota tempat pertukaran tersebut.

Tentunya karena program ini berjalan pada saat new normal. Banyak kegiatan pertukaran pelajar ini yang harus disesuaikan demi mengikuti protokol kesehatan. Seperti beberapa mata kuliah yang diambil A harus dilaksanakan secara hybrid dan tidak full tatap muka sehingga vibes pertukaran pelajar agak kurang terasa.

BACA JUGA :  Polresta Samarinda Tetapkan 3 Tersangka Lakalantas di Tol Balsam

Pada saat kegiatan Bhinneka pun dilakukan dengan protokol kesehatan seperti harus memakai masker, menggunakan hand sanitizer, serta tidak boleh ada banyak orang yang ikut dalam kegiatan Bhinneka ini begitu juga jika ingin ke kampus UAD tetap harus menerapkan protokol kesehatan.

A merasa dirinya tidak merasakan kesulitan melakukan komunikasi multikultural dengan peserta yang lain, karena menurutnya Jogja merupakan kota pendatang sehingga bahasa yang dipakai sama-sama Bahasa Indonesia, dan juga mereka juga bisa saling bertanya jika ada bahasa yang tidak lazim di daerahnya masing-masing.

Program MBKM terutama subprogram pertukaran mahasiswa ini merupakan program yang sangat bagus dan patut untuk dilanjutkan setiap tahunnya. Selain melatih komunikasi muktikultural mahasiswa, program pertukaran pelajar ini juga memperluas wawasan mahasiswa akan dunia mereka juga pasti akan memiliki koneksi yang luas setelah menyelesaikan program ini.

Di dalam program ini pun mahasiswa dilatih untuk keluar dari “zona nyaman” mereka masing-masing. Mahasiswa dipaksa untuk beradaptasi di luar lingkungan mereka yang biasanya. Namun, memang perlu ada perbaikan sistem di beberapa bagian terutama masalah finansial para peserta pertukaran pelajar, tetapi hal ini wajar terjadi karena program ini baru mencapai 1 angkatan sehingga pasti ada error ketika program dijalankan. Big applause mari kita berikan kepada bapak Nadiem yang telah mengusung program yang luar biasa ini. (**)

Referensi
Abinowi, E. (2021, May 31). Implementasi dan Problema Merdeka Belajar – Kampus Merdeka. Komunita Widyatama. https://komunita.widyatama.ac.id/implementasi-dan-problema-merdeka-belajar-kampus-merdeka/#

 

 

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img