spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Karst Sangkulirang Bakal Jadi Geopark, Didanai Pusat dan Provinsi

SANGATTA– Pemkab Kutai Timur (Kutim) berencana membangun geopark di kawasan karst. Tujuannya tak lain untuk menjadikannya sebagai objek wisata baru yang khas dari kabupaten pecahan Kutai tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata, Nurullah mengatakan, usulan membangun geopark sudah dilayangkan ke pemerintah pusat. Bahkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyambut baik usulan itu.

“Januari lalu sudah kami usulkan (geopark) dan Bappenas akan menindak lanjuti rencana itu,” ucap Nurullah saat ditemui, Senin (9/5/2022).

Ia menjelaskan, untuk proses pembangunannya akan dikerjakan langsung oleh pemerintah pusat dan Pemprov Kaltim. Sementara Pemkab Kutim hanya akan mengusulkan dan menyiapkan sarana pendukungnya saja. “Jadi ini masuk dalam program pemerintah pusat dan provinsi. Sehingga tidak akan menghabiskan APBD Kutim,” ungkapnya.

Nurullah juga menyebut sebanyak 550,09 hektare luas kawasan karst yang akan dijadikan geopark. Meliputi karst di Kecamatan Karangan atau di Sandaran. Ia menilai prospek dari rencana dibuatnya geopark ini sangat menjanjikan.

“Sangat bagus, seperti di Cina dan telah sukses jadi objek wisata dunia. Konsep itu yang coba diusung nantinya,” bebernya.

BACA JUGA :  Disperindag Kutim Periksa SPBU APT Pranoto, Ternyata Akibat Pertalite Tercampur Solar

Kabarnya persiapan untuk membangun objek wisata itu sudah berjalan. Salah satunya dengan menyiapkan tim akademisi untuk melakukan kajian di lokasi tersebut. Tak tangung-tangung, akademisi Sumber Daya Alam (SDA) dari Universitas Gadjah Mada (UGM) siap membantu mewujudkan rencana tersebut.

“Kalau itu jadi akan sangat luar biasa. Dipadukan dengan unsur budaya warga yang dulu mendiami gua-gua di kawasan karst,” ungkapnya.

Bila terwujud, sasarannya bukan lagi wisatawan dalam negeri, melainkan pelancong mancanegara. Ditambah dengan penguatan kawasan dengan mendaftarkan sebagai cagar budaya warisan dunia ke UNESCO juga akan dilakukan.

“Jadi keduanya berjalan. Selain jadi objek wisata juga jadi kawasan konservasi yang diakui dunia,” tandasnya. (ref)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img