spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Kalland Project Gelar Bateeq Noesantara, Ada Talkshow hingga Fashion Show

SAMARINDA – Kalland Project, sebuah Komunitas Faskriya (Fashion & Kriya) asal Samarinda, bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Samarinda, serta Dinas Koperasi UMKM dan Perindustrian Kota Samarinda menggelar event Bateeq Noesantara. Event ini berlangsung selama 3 hari, mulai tanggal 20-22 Oktober 2023 di Hotel Aston Samarinda.

Tujuan pelaksanaan event ini yaitu, melestarikan batik dan mendukung gerakan ‘Bangga Buatan Indonesia’, menciptakan ekosistem dan embrio baru industri fashion, serta membuka peluang pasar bagi para desainer lokal Sanarinda untuk menembus industri nasional.

Adapun rangkaian acara Bateeq Nusantara yaitu, Fashion Workshop, Beauty Class, Fashion Craft & Culinary Expo, Talkshow, hingga Fashion Show.

Dalam sesi Talkshow dengan tajuk Sustainable Fashion, menghadirkan fashion designer sebagai narasumber, yaitu Meinnisa Wiyandari dan Emelda Andayani.

Meinnisa Wiyandari yang akrab disapa Mei, menuturkan bahwa industri fast fashion menimbulkan permasalahan di hilirnya, yaitu limbah dan sampah pakaian yang sudah tidak terpakai.

Sehingga, menurut Mei untuk mengantisipasi penambahan sampah akibat fast fashion, yaitu menjadi konsumen yang bijak, mulai dari memilih pakaian yang timeless, kreatif dalam memadupadankan item pakaian, serta berhati-hati dalam memilih bahan pakaian.

BACA JUGA :  Bertambah 190 Kasus Positif, Ishak: Lawan Covid Tanpa Kenal Lelah

Berdasarkan data, terdapat 92 juta ton limbah tekstil setiap tahunnya. Sedangkan untuk pakaian berbahan polyester membutuhkan waktu 10-40 tahun untuk mengurai.

“Masalah zaman sekarang yaitu membeli baju karena dirasa lucu. Ini berkontribusi terhadap penambahan sampah fast fashion. Selain itu terjadi eksploitasi tenaga kerja akibat industri fast fashion ini. Maka, jadilah konsumen yang bijak dalam memilih produk yang akan digunakan,” ujar Mei.

Kegiatan Bateeq Noesantara di Hotel Aston Samarinda

Selain itu, Emelda Andayani menambahkan bahwa konsumen dapat menggunakan konsep ‘reuse’ dan berkreasi dengan item fashion agar menjadi berbagai macam ‘look’, dan untuk produsen diharapkan agar menggunakan bahan yang ramah lingkungan.

“Sebagai pegiat fashion, kita harus peduli dengan lingkungan. Salah satunya memilih bahan yang ramah lingkungan dan menggunakan konsep reuse, tidak harus pakaian baru untuk tampil menarik,” ujar Emelda

Sementara itu, Founder Kalland Project, Anas Maghfur, mengungkapkan bahwa anggota dari Kalland Project mencapai 80 orang, yang terdiri dari desainer, pelaku industri kriya, dan fashion enthusiast.

Anas berharap agar ke depannya seluruh pihak terkait untuk mendukung ekosistem fashion di Samarinda untuk dapat berkembang.

BACA JUGA :  Zona Merah Sisakan Balikpapan, Ishak Tekankan Patuh Prokes, Lapor Bagi yang Belum Vaksin

“Saya berharap industri fashion di Kalimantan Timur dapat berkembang. Tetapi ini butuh kerjasama semua pihak. Sehingga di Kalland Project memberikan wadah bagi mereka yang peduli dengan pengembangan industri fashion,” tutupnya.

Pewarta : Desy Alvionita
Editor : Nicha Ratnasari

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img