spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Inflasi Gara-gara Soto

Catatan Rizal Effendi

SAYA kaget juga membaca siaran pers Bank Indonesia (BI) Balikpapan. Kenaikan harga soto ikut memberi tekanan terhadap angka inflasi di kota ini. Tapi itulah fakta yang terjadi. Menarik juga, sebab saya salah seorang pencinta berat soto.

Hampir dua hari sekali saya makan soto, terutama soto banjar. Maklum saya orang banjar. Ada dua jenis soto banjar. Kalau dibilang soto, maka nasinya dalam bentuk lontong atau ketupat. Tapi kalau yang dipesan nasi sop, maka nasinya bukan ketupat atau lontong, tetapi nasi seperti biasanya sebagai makanan pokok kita.

Selain soto banjar, sesekali saya makan soto ambengan, sop ceker, soto lamongan, soto kuali, soto kikil, soto betawi atau yang berasal dari Makassar, yang dikenal dengan nama coto mangkasara. Semua menu itu ada dijual di Balikpapan. Dan saya suka.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan R Bambang Setyo Pambudi mengungkapkan angka inflasi Kota Balikpapan pada bulan Oktober 2022 mencapai 0,09 persen, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 0,88 persen. Tapi secara tahunan inflasi IHK Balikpapan tercatat sebesar 6,30 persen atau lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional, yang tercatat 5,71 persen dan inflasi Kaltim 5,84 persen.

Secara umum inflasi diartikan sebagai kenaikan harga barang atau jasa secara umum dan berlangsung terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Sedang deflasi sebaliknya, di mana terjadi penurunan harga barang secara terus menerus.

Menurut Bambang, inflasi yang terjadi di Balikpapan pada bulan Oktober lalu itu didorong oleh kenaikan harga nasi dengan lauk dan soto seiring dengan banyaknya kegiatan MICE di kota ini. Selain itu juga bensin atau BBM masih menjadi penyumbang inflasi disebabkan adanya penyesuaian subsidi agar lebih tepat sasaran. Inflasi juga disumbang oleh komoditas pisang dan bayam akibat berkurangnya volume pasokan dari sentra produksi.

Sementara deflasi terjadi di beberapa kelompok makanan. Di antaranya cabai rawit, cabai merah, bawang merah, telur ayam, dan minyak goreng yang masih melimpah di pasaran. Alhamdulillah, biasanya harga cabai selangit.

Saya tak menyadari adanya kenaikan harga soto. Maklum kalau makan di warung soto, biasanya kita membayar satu paket dengan minuman dan makanan camilan lainnya. Jadi kita oke-oke saja dengan tagihan yang disodorkan. Harga soto di Balikpapan bervariasi antara Rp 15 ribu sampai Rp 25 ribu per mangkuk.

Tak semua penjual soto menaikkan harga jika harga bahan melonjak. Adakalanya mereka menyiasati dengan mengurangi volume. Terkadang suwiran ayamnya yang dikurangi. Atau irisan telur dibatasi. Bisa jadi yang biasa ayam kampung di-mix dengan ayam potong.

Memang komponen utama soto pada umumnya didatangkan dari luar Balikpapan. Mulai beras, telur, dan ayam. Ada yang didatangkan dari Jawa Timur, ada juga yang didatangkan dari Sulawesi Selatan. Harga komoditas ini memang fluktuatif, terkadang naik kalau pasokannya berkurang.

Kalau dibaca dari penjelasan Kepala Perwakilan Bank Indonesia tadi, ada kecenderungan permintaan atau orang yang mengonsumsi soto meningkat. Itu karena meningkatnya beberapa kegiatan di Balikpapan, sehingga banyak orang yang datang ke kota ini. Bisa jadi berkaitan dengan mulai ramainya pelaksanaan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan pasca-Covid, sehingga banyak even dilakukan di Balikpapan berkaitan dengan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition).

Soto cenderung menjadi menu sarapan pagi. Tapi ada juga yang jualan sampai malam hari. Kalau hari Jumat menjelang salat Jumat di Masjid Agung At Taqwa, saya menikmati soto di warung Atek. Dekat situ di seberang kantor Pemkot Balikpapan, ada tiga penjual soto banjar. Semuanya enak-enak. Termasuk di lorong samping gedung DPRD.

Terkadang saya makan soto Depot Cenderawasih di Karang Rejo. Ini soto kesukaan Pak Dahlan Iskan. Di situ ada es campur dan es kacang merah yang enak. Ada soto banjar di Gunung Kawi, kesukaan almarhum mantan Wagub Pak Mukmin Faisal dan Pak Ruslan Aliansyah, pemilik Hotel Sagita. Di sini telurnya pakai telur bebek. Ada soto Kuin Abdhu di Gunung Sari, yang sangat laris sampai pemiliknya sekarang ikut komunitas motor gede (moge).

Soto kikil paling enak ada di emper toko depan Hotel Benakutai. Jualnya malam hari. Di Balikpapan Baru, ada soto banjar enak. Namanya soto Majar. Sayang sekarang rukonya lagi direhab, jadi jualan sotonya ditutup untuk sementara. Soto lamongan di Km 10 juga enak. Dulu saya sering makan yang di Jalan Dondang.

Saya agak kaget juga kalau pisang ikut berkontribusi kepada angka inflasi karena pasokannya dari sentra produksi cenderung berkurang. Sebab, yang kita lihat di berbagai tempat pisang tak pernah langka. Baik yang dijual di Pasar Klandasan sampai di Pasar Pandan Sari. Apalagi di Pasar Buton. Atau warung-warung di pinggir jalan pasti ada jualan pisang.

Pisang yang sering dikonsumsi warga Balikpapan menurut saya ada enam. Pisang mahuli, pisang kepok atau manurun, pisang raja, pisang susu, pisang ambon, dan pisang cavendish. Pisang kepok dan cavendish mungkin yang paling laris.

Pisang kepok banyak disajikan di café-café menjadi makanan camilan. Dibuat jadi pisang goreng dengan beragam varian. Saya lebih suka yang digoreng polos tidak dilumuri tepung. Kalau di Samarinda ada yang diolah jadi lempeng atau kolak. Terkadang kolak pisang campur durian. Kaltim terkenal sebagai produsen pisang kepok, yang umumnya hasil budidaya dari Kabupaten Kutai Timur.

Pisang cavendish mengalahkan pisang ambon. Tapi ada juga yang menyebut cavendish sebagai pisang ambon putih. Banyak dijual di toko-toko modern seperti supermarket. Warna kuningnya cerah dan bersih, kulitnya keras dan lebih lama. Sehingga orang suka. Apalagi cavendish sangat kaya kandungan nutrisinya.

Orang mengira pisang cavendish pisang impor. Padahal asli Indonesia. Yang terbanyak Cavendish Sunpride, yang secara khusus dikembangkan di kebun milik grup Gunung Sewu Kencana di daerah Lampung dan Blitar.

Pisang kepok dan cavendish bisa jadi naik kalau pasokannya kurang, sehingga ikut memengaruhi angka inflasi. Itu yang mungkin terjadi di Balikpapan pada bulan Oktober lalu.

Sebaiknya masyarakat lebih cerdas. Jika ada salah satu jenis pisang sedang langka di pasaran, maka bisa beralih ke jenis pisang yang selalu ada. Lazimnya pisang mahuli, pisang susu, pisang raja, dan pisang ambon selalu ada. Karena ditanam di sekitar Balikpapan. Memang untuk pisang goreng, yang terbaik menggunakan pisang kepok. Tapi di Jawa terkadang mereka menggunakan pisang tanduk. Enak juga.

INSTRUKSI MENDAGRI
Dalam beberapa bulan ini, Mendagri Tito Karnavian sibuk dengan urusan inflasi. Apalagi setelah kenaikan harga BBM. Dia diperintahkan Presiden Joko Widodo berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menjaga dan menekan angka inflasi dengan kebijakan yang strategis dan tepat sasaran.

Sehubungan dengan hal itu, Mendagri kemudian menerbitkan surat edaran (SE) menindaklanjuti pengarahan Presiden. Dia meminta pemerintah daerah menyediakan anggaran untuk dua hal.

Mendukung tugas Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang diketuai kepala daerah sendiri dan mengendalikan harga barang dan jasa yang menjadi kebutuhan masyarakat, seperti penyediaan sembilan bahan pokok, melalui belanja tidak terduga yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan.

Selain itu, pemerintah daerah diperkenankan untuk memanfaatkan 2 persen dari Dana Transfer Umum (DAU) untuk penanganan inflasi. Saya belum tahu bagaimana pengaturannya. Selama ini DAU habis untuk membayar gaji PNS. Bagi daerah yang punya desa, 30 persen dari sisa dana desa dapat dialokasikan sebagai jaring pengaman sosial.
“Kalau semua daerah bisa mengendalikan inflasi masing-masing di daerahnya, maka otomatis angka inflasi nasional juga akan bisa dikendalikan,” kata Tito.

Beberapa waktu lalu, Bank Indonesia Balikpapan bersama Pemkot Balikpapan dan sejumlah distributor melaksanakan kegiatan pasar murah selama enam hari di areal gedung parkir. “Alhamdulillah masyarakat menyambut baik. Mereka ramai-ramai berbelanja karena harganya relatif lebih murah,” kata Bambang Setyo Pambudi.

Selain itu dalam waktu dekat ISEI dan BI Balikpapan akan melaksanakan seminar atau capacity building untuk mendorong Pemkot menggunakan Perusda terlibat dalam pengendalian harga dan pasokan dengan memanfaatkan dana subsidi 2 persen dari DAU. “Perusda Samarinda sudah berjalan dan lancar, kita bisa mencontoh,” kata konsultan BI Balikpapan, Bambang Saputra yang juga pengurus ISEI.

Dalam beberapa waktu terakhir ini saya sering makan sop singkong di Kedai Sehati kompleks ruko Balikpapan Baru. Saya kerap makan bersama anggota DPRD Kaltim Pak Adam Sinte, Hafni, Andi Poli, Makkulau dan teman-teman lainnya. Terkadang sambil main gaple.

Kalau soto banjar cenderung naik dan mengganggu angka inflasi, mungkin sementara saya melahap sop singkong saja. Kebetulan sop singkongnya enak. Sang pemilik, Pak Maman, masih muda tadinya bekerja di bank. Malah sudah jabatan general manager (GM). Tapi kemudian dia resign alias undur diri dan memilih jualan sop singkong saja. Pilihan yang berani dan hebat. Insyaallah sukses. Inflasi juga aman. (mk)

BACA JUGA

15.9k Pengikut
Mengikuti