spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Hilang, Sepatu Sang Calon (2)

Oleh : Muthi Masfu’ah

Entah dengan alasan yang belum aku memahami, Allah menetapkan dia menjadi bagian terbaik di hati dan pikiranku. Padahal mencintaimu tidak pernah ada dalam rencanaku. Entah seberapa besar aku mencintai dan menyayangimu sampai-sampai aku lupa cara mencintai lagi orang lain. Dengan mengingatmu saja, sudah membuatku tersenyum. Bahkan kadang menetesan air mata untuk menahan rindu. Bahkan tiga bulan, dia hilang tanpa kabar.. rasa itu tak kunjung hilang bersama orang yang menawannya.

Mas, kamu dimana?

Tanti menuliskannya dalam selembar kertas. Lalu kertas itu, ia bentuk menjadi kapal… ia hanyutkan di pinggir sungai yang arusnya cukup deras… dan tak  lama kapal pun menghilang…

Ingatan Tanti tak lepas dengan kejadian beberapa bulan lalu..

Ibu bersikeras, belum menerima lamaran Mas. Sementara Ayah menyerahkan sepenuhnya pada Ibu.

Value wanita itu ada pada integritasnya, teguh dengan pendiriannya, kuat pada prinsipnya, dia konsisten dengan apa yang dia katakan, sejalan dengan perilakunya. Pendiriannya teguh dan tak goyah, prinsipnya kuat dan tak mudah terbawa arus.“ Ibu dengan gaya tegasnya.

“Menjadi wanita yang ber-value itu memang harus berpendidikan tinggi. Meski sulit  menurut sebagian wanita, tapi asalkan ada tekad dan niat sungguh-sungguh maka bisa menjadikan wanita itu berilmu tentu saja ilmu yang paling penting adalah ilmu agama di samping ilmu-ilmu yang lain. Tanti sendiri masih belum lulus S1, masih jauh perjalanan.”

Ibu menghela nafas, tak lama ia melanjutkan lagi, “Wanita yang ber-value dia tidak haus akan pujian laki-laki, tidak baper sana-sini untuk dikagumi, karena kelasnya berbeda. Bukan sibuk mencari tapi sibuk menjadikan wanita yang berkualitas karena seleranya juga berkualitas bukan yang obral dan best seller.”

Kalau ibu yang berbicara, aku tak mampu menyela. Aku memilih diam mendengarkan nasehat ibu. Ayah pun sangat menghargai Ibu. Karena Ibu banyak mengurusi rumah tangga ini, apalagi sejak ayah pensiun PNS.

Aku pun belajar menghargai Ibu, termasuk keputusan ibu. Menunda menerima lamaran Mas, sampai aku lulus S1, 2-3 tahun lagi…

***

Aku sepatu butut dan sepatu Jim Joker, sepatu keren berwarna kuning kunyit pemberian Tanti sebagai kenang-kenangan untuk Mas, hanya mampu berdiam sedih. Karena majikanku sudah cukup usia untuk menikah dan Tanti adalah pilihan yang tepat untuk majikanku.

Aku tidak sesenang itu, aku hanya belajar mengendalikan perasaanku. Aku tidak seikhlas itu, aku hanya belajar menerima sesuatu yang tidak bisa aku ubah. Aku tidak sekuat itu, aku hanya belajar menerima semua menjadi takdirku. Aku tidak sepasrah itu, aku hanya percaya di setiap doa yang dilangitkan tidak akan kembali dengan sia-sia. Aku yakin itu.

Goresan pena Tanti pada sebuah kertas… kembali kertas itu, ia bentuk menjadi kapal dan… Ia hanyutkan di pinggir sungai yang arusnya cukup deras..

Berulang kali Tanti lakukan.. Beriring bulan yang terus berganti.

“Serapat-rapatnya kamu menyembunyikan diri,  pasti ada lelaki baik yang akan menemukanmu kelak,  dia akan datang dengan cara yang baik dan dia akan melihatmu dengan iman bukan dengan hawa nafsu.  Tersembunyinya apapun dirimu, kelak Allah akan mempertemukan ia padamu,”  nasehat Lala agar Tanti lebih tegar.

“Sebaliknya sebesar apapun usahamu, untuk menampakkan diri jika Allah tidak menghendaki datang, maka ia tidak akan datang padamu.” Lala terus menasehati dengan bahasa lembutnya, tak kalah dengan Tanti yang juga lembut.

Tanti menghela nafas, sambil matanya lurus menatap laut… Saat sore aku bersamanya.

“Jangan paksakan seseorang untuk cepat segera pulih dari pilu dan luka hatinya. Jangan pula membuat ia menjadi bukan dirinya,  ketika harus mencoba menghapus lagi di hatinya, untuk satu nama.” Mata Tanti kini berkaca.

Entah apa istimewanya Mas, sampai Tanti begitu sangat kehilangan, ketiak Mas tiga bulan tak ada kabar. Lala bergumam, ia tidak akan pernah faham,.

“Sabar Lala, beri aku waktu yang cukup untuk tegar, tetaplah ada dan terus yakinkan diri aku. Teruslah menjadi telinga utama dan bahu yang senantiasa menerima keluh kesahku  La…”

Tanti mengambil selembar kertas lagi. Ia menuliskan laranya…

Biarkan rasa itu tumbuh dengan sendirinya, biarkan cinta itu mekar pada waktunya. Bukankah, setelah patah seseorang butuh kembali menemukan dirinya butuh lepas dari duri lara yang menancap di dalam hatinya? Sebab penyembuh rasa sakit bukan hanya tentang siapa yang selalu bersama,  namun siapa yang berhasil membuatnya kembali percaya bahwa denganmu ia akan selalu bahagia dan memulihkan dari dukanya.

Aku mati-matian ingin melupakan, dan aku tahu  bahwa Allahlah meletakkan  cinta  dalam hatiku. Tidak ada yang bisa mengambil dari hatiku kecuali-Nya. Jika seseorang terus berada dalam hatiku, maka aku akan terus berdoa pada-Nya sebab Allah menaruh cinta di hatiku, pasti karena sebuah alasan.

Kertas itu ia lipat membentuk kapal, dan ia larutkan lagi di atas sungai yang deras… sederas air mata Tanti yang senantiasa tumpah… Tanti, serapuh itu… Lala tak kuasa…matanya kabur dibenuhi buliran air. Ia tak tega melihat Tanti.

Hati Tanti terlanjur tertawan. Entah bagaimana hati Mas sesungguhnya, ketika ia berkomitmen akan menunggu Tanti, sampai kapan pun tak akan menikah kecuali dengan Tanti… tapi nyatanya tiga bulan ini, ia tak ada kabar. Hilang begitu saja… Bahkan media sosialnya, sudah banyak teman perempuan baru yang ia ikuti dan saling like. Aku tak habis pikir… Lala terus tak faham.

***

Hidup kita adalah waktu yang dipinjam, harta kita adalah amanah yang dipercaya dan semua yang dimintai pertanggungjawaban karena umur kita layaknya es batu terpakai atau tidak pasti akan meleleh dan mencair dan tetap akan terus berkurang.

Aku, tidak tahu… Apakah kamu menganggap aku sebagai salah satu dari sekian banyak wanita yang kamu cari dan singgahi… Mungkin aku hanya sebatas rindang tempatmu berteduh sejenak, sedangkan untukku… kamu adalah sebuah istana yang tak bisa membuatku beranjak pergi…

Tanti kembali menuliskannya dalam selembar kertas… kertas itu dilipat menjadi kapal, dan dilarutkan dalam air sungai yang deras.

Biarkan rasa itu tumbuh dengan sendirinya, biarkan cinta itu mekar pada waktunya. Bukankah, setelah patah seseorang butuh kembali menemukan dirinya butuh lepas dari duri lara yang menancap di dalam hatinya? Sebab penyembuh rasa sakit bukan hanya tentang siapa yang selalu bersama,  namun siapa yang berhasil membuatnya kembali percaya bahwa denganmu ia akan selalu bahagia dan memulihkan dari dukanya.

Aku menggenggam tangan Tanti, aku menunjuk ke langit. Ada Allah di sana yang mengatur segalanya. Bahkan lebih indah, sangat indah takdir yang ia goreskan untuk kita…

Sementara di seberang sana, sepatu butut itu kini sedih dan menyendiri… Jim Joker kunyit tampan itu sudah berpindah majikan. Sepatu butut itu tidak tahu kapan akan bertemu lagi dengan Jim Joker, yang selalu membawanya bahagia dan mengingatkan pada sosok Tanti, gadis berjilbab yang gagal dilamar majikannya. (*)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img