spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Diversitas dalam Laras: Bingkai Multikultural jadi Sandungan Komunikasi Interpersonal

DIVERSITAS dalam realitas dewasa ini menjadi fenomena yang mudah ditemukan dalam kehidupan. Bumi Pertiwi, Indonesia disebut memiliki lebih dari 300 kelompok suku bangsa di Indonesia, yang kemudian dirinci terdapat sekitar 1.340 suku bangsa di Indonesia (Indonesia.go.id, 2017). Keberagaman suku dan budaya di Indonesia dilatar belakangi oleh letak wilayah, bentuk negara kepulauan, kondisi geografis, kepercayaan, kebiasaan sosial, hingga kondisi komunikasi yang dimiliki masing-masing daerah.

Ragamnya suku bangsa yang dimiliki, menjadikan Bumi Pertiwi merupakan salah satu negara yang memiliki bahasa daerah terbanyak di dunia. Sebuah survei yang dilakukan pada tahun 1991 hingga 2019 menyatakan bahwa, Indonesia memiliki bahasa daerah sebanyak 718 bahasa dari 2.560 daerah pengamatan. Hal tersebut melahirkan banyaknya aksen dalam cara berkomunikasi sehari-hari, bahkan tidak jarang masyarakat Indonesia dalam lingkup kecil dan besar saling bertukar ragam aksen dalam berkomunikasi.

Pada tataran komunikasi, cara berbicara merupakan suatu hal yang menjadi perhatian untuk menghadirkan kesinambungan antara ucapan dan perkataan masing-masing individu. Menelisik pada bidang linguistik, aksen memiliki pengertian sebagai penempatan tetap tinggi-rendah atau kuat-lemahnya bunyi pada tiap-tiap kata atau frasa dan atau adanya penekanan atau pola intonasi pada suatu kata yang muncul. Dalam komunikasi lisan, aksen dapat menghadirkan situasi yang khas bagi penutur, khususnya ketika dalam komunikasi verbal yang dipengaruhi oleh bahasa ibu atau bahasa daerah.

Beragamnya suku juga berimplikasi pada beragamnya bahasa daerah serta aksen yang terkandung di dalamnya. Aksen dalam berbahasa dapat ditemukan dari aksen bahasa daerah yang biasa didengar melalui pengucapan bahasa Indonesia seperti bahasa Banjar, Jawa, Madura, Papua, Kutai, Betawi, dan lain sebagainya. Kemultikulturalan yang ada di Indonesia dapat dengan mudah ditemukan dalam realitas kehidupan, seperti pada fenomena yang diangkat oleh penulis mengenai cara berkomunikasi melalui aksen atau dialek yang berbeda dalam masyarakat satu sama lain. Keragaman ini terkadang timbul karena perbedaan yang dimiliki oleh setiap suku, juga didukung oleh beberapa faktor, seperti geografis, motivasi, kebiasaan sosial, dan asal suku yang dimiliki. Dalam sekejap, faktor-faktor tersebut merupakan hal biasa yang dapat ditemui dengan mudah, tetapi memiliki dampak besar dalam keberlangsungan harmonisasi komunikasi dalam kehidupan saat mengadakan interaksi sosial dengan satu, dua, atau lebih orang.

Pemahaman akan sebuah makna pun menjadi beragam jika tidak memahami bagaimana bumi pertiwi memiliki perbedaan yang bermacam-macam. Pada masyarakat Jawa, misalnya penuturan atas aksen atau cara berbicara cenderung lembut dan tidak bersuara tinggi, namun berbeda pula dengan masyarakat suku Banjar yang memiliki cara berbicara tegas (bersemangat) dan cukup cepat. Kemudian, kedua suku tersebut juga berbeda dengan beberapa bahasa yang dimiliki oleh suku lainnya. Sehingga, tak ayal bahwa konflik kecil mengenai pemaknaan, suasana, dan proses berkomunikasi menjadi sandungan sebagai akar dari perbedaan latar belakang atas suku yang ada.

Sejauh ini pernahkah kamu merasakan gangguan komunikasi saat berbicara dengan orang-orang yang memiliki perbedaan suku di sekitarmu? Atau, pernahkah kamu berada dalam fase mispersepsi atas ujaran yang sebetulnya bagi lawan bicaramu biasa saja tetapi kamu menganggapnya dengan luar biasa serius?

BACA JUGA :  CSR (Corporate Social Responbility); Sebuah Kebijakan pre-emptive Manajemen Isu

Permasalahan Komunikasi Melalui Rona Perbedaan (Mispersepsi)

Begitu mendengar istilah ‘komunikasi antar persona’ apa yang terbayangkan di benak kamu untuk pertama kalinya? Tentu kebanyakan orang akan cenderung membayangkan suatu kondisi dimana terjadi komunikasi antara dua atau bahkan sampai dengan tiga orang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Asumsi ini tidak sepenuhnya salah karena berdasarkan definisi dari Bochner (1989) bahwa komunikasi interpersonal adalah komunikasi antar orang yang secara konseptual melibatkan 3 unsur; (1) terdiri dari dua komunikator atau lebih yang ingin berinteraksi, (2) komunikator berperan sebagai subjek dan objek, (3) memiliki action yang membentuk pandangan keduanya terhadap satu sama lain maupun orang lain.

Dalam ranah perkembangannya, ada suatu kutipan menarik dari kajian komunikasi antar persona, yakni “put yourself in someone else’s shoes”. Jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia, kutipan tersebut berarti “tempatkan dirimu pada posisi orang lain”. Kata shoes disini bukan serta-merta berarti ‘sepatu’, ya! Itu hanyalah perumpamaan yang secara harfiah diartikan untuk selalu menghargai orang lain dengan menempatkan diri di atas sepatunya atau lebih jelasnya mencoba peka terhadap situasi, kondisi, kebudayaan, dan hal-hal lainnya yang melekat pada diri orang lain. Hal ini penting dalam proses komunikasi antar persona untuk bisa membangun kondisi komunikasi yang sehat dan pengertian satu sama lainnya.

Oleh karena itu, perspektif tersebut harus menjadi fondasi dasar dari komunikasi interpersonal agar tujuan dalam bertukar informasi atau menyampaikan pesan dapat berjalan dengan efektif dan tepat sasaran.

Meski begitu, realitas masyarakat plural hari ini nyatanya tidak akan pernah terhindar dari hambatan komunikasi interpersonal yang dapat memicu mispersepsi. Devito (2016) mengungkapkan apa saja hal-hal yang dapat membuat suatu komunikasi berjalan tidak efektif. Penasaran? Simak penjelasan di bawah ini!

  1. Intensionalize, secara garis besar intensionalize terjadi ketika seseorang memperlakukan orang lain, benda, maupun peristiwa secara sama dan kerap merespon suatu komunikasi dengan apa yang dibicarakan bukan bagaimana kedua komunikatornya eksis. Gampangnya sih orang yang melakukan intensionalize tidak bisa menerapkan konsep “put yourself in someone else’s shoes”.
  2. Commit allness, atau berasumsi bahwa mengetahui segalanya. Tentunya ketika berkomunikasi dengan orang seperti ini hanya akan memberikan kesan kurang baik dan sombong!
  3. Merespon inferensi sebagai fakta, yang dapat diartikan ketika seseorang tidak bisa membedakan antara penjelasan atau interpretasi dengan sebuah fakta. Oleh karenanya, komunikasi dua arah penting untuk berjalan dengan baik agar tidak menimbulkan kesimpulan berbeda antar masing-masing komunikator.
  4. Mendiskriminasi bahwa item-item dibungkus label yang sama, baik itu berupa objek, orang, maupun peristiwa.
  5. Polarize, yang berarti komunikasi berjalan hanya untuk menjadi ekstrim dan tidak peduli garis tengahnya. Hal ini menjadi komunikasi yang tidak efektif karena bertentangan dengan salah satu tujuan dari komunikasi itu sendiri, yaitu sebagai jalan tengah dalam suatu perdebatan atau pembicaraan.
  6. Statistically Evaluate, merupakan kondisi seseorang yang gagal dalam mengenali perubahan yang tidak terhindarkan pada benda atau orang lain. Gagalnya pengenalan tersebut dapat menjadikan komunikasi sangat tidak efektif karena perbedaan persepsi terhadap suatu hal antara satu sama lainnya.
BACA JUGA :  Pesawat Penghancur Kanker Rp 60 Miliar

Di Indonesia yang masyarakatnya bersifat multikultural, tentu memiliki potensi kuat dalam mengalami mispersepsi yang merupakan buah dari komunikasi yang tidak efektif. Roald (2009) mengemukakan multikulturalisme adalah sebutan untuk menggambarkan berbagai perspektif mengenai corak kehidupan masyarakat atau peraturan untuk menerima adanya perbedaan budaya, kebhinekaan, kemajemukan, sebagai suatu kenyataan utama dalam kehidupan sehari-hari yang menyentuh nilai, konstruksi sosial, budaya, dan politik yang dianut oleh masing-masing kelompok. Perbedaan-perbedaan dalam lingkup masyarakat multikultural itulah yang dapat menjadi sebuah hambatan dalam komunikasi antar persona.

Salah satu perbedaan yang bisa menyebabkan hambatan komunikasi adalah ‘intonasi’ dalam berbicara. Yups! faktor-faktor seperti geografis, motivasi, kebiasaan sosial, hingga diversitas suku bangsa ternyata dapat menjadi alasan bagaimana setiap orang memiliki keragaman dalam intonasi berbicara. Inilah yang menjadi fenomena unik untuk ditilik bagaimana kemudian hal sesederhana ‘intonasi’ dalam berbicara bisa mengakibatkan mispersepsi yang berujung pada komunikasi tidak efektif. Yuk, lihat ulasannya!

Faktor geografis, perbedaan wilayah geografis tentu memiliki potensi besar dalam menyebabkan perbedaan intonasi atau aksen dari dua orang yang berbeda wilayah. Misal seseorang yang tinggal di wilayah pesisir pantai cenderung akan berbicara dengan suara sedikit nyaring karena menyesuaikan dengan suara deburan keras ombak yang di dengar setiap hari. Apabila Ia melakukan komunikasi dengan orang-orang yang bukan di wilayah pesisir, pastinya bisa berpotensi menimbulkan mispersepsi dari orang lain karena intonasi berbicara yang tidak lazim akibat perbedaan geografis tersebut.

Motivasi, setiap orang tentunya memiliki motivasi masing-masing dalam berinteraksi dengan orang lain. Jangan salah! Hal ini juga bisa menimbulkan perbedaan intonasi berbicara apabila motivasi antar kedua komunikator berbenturan. Misal ketika sedang marah, maka motivasi tersebut memengaruhi intonasi dalam berbicara yang menjadi jauh lebih keras. Jika dihadapkan dengan komunikator yang bersifat statistically evaluate seperti ciri-ciri komunikasi tidak efektif di atas, maka sudah bisa dipastikan akan timbul mispersepsi satu sama lain akibat perbedaan motivasi tersebut.

Kebiasaan sosial, perbedaan habits atau kebiasaan menjadi hal paling mendasar dari tidak efektifnya suatu komunikasi. Salah satunya dalam hal intonasi dan aksen berbicara. Contoh sederhananya, seperti adanya stereotip dari kebiasaan beberapa orang di Sumatera yang terbiasa berbicara dengan blak-blakan. Ketika dipertemukan dengan orang yang berbeda kebiasaan serta bersifat intensionalize, maka perbedaan cara bicara tersebut bisa menjadi hambatan komunikasi yang tidak efektif dan lagi-lagi memicu mispersepsi.

Variasi suku, tentu inilah faktor utama yang memunculkan adanya perbedaan intonasi maupun aksen dalam berbicara. Contoh konkritnya adalah bagaimana cara bicara suku Jawa dan Sunda yang terkesan ‘lembut’ yang pastinya akan berbeda dengan cara bicara suku Batak dan Madura yang terkesan ‘keras’. Tidak ada yang salah dengan perbedaan tersebut. Namun, perlu digaris bawahi apabila perbedaan ini tidak bisa didasarkan dengan fondasi “put yourself in someone else’s shoes”, maka sudah pasti akan menimbulkan kesalahpahaman antar satu suku dengan suku lainnya.

BACA JUGA :  Peran Milenial Meminimalisir Sikap Intoleransi Dalam Multikultural di Masa Kini

Realitas dalam Disparitas 

Menariknya, fenomena disparitas ini ternyata juga diangkat dalam sebuah film layar lebar berjudul ‘Budi Pekerti’. Film tersebut menceritakan sosok guru BK bernama Bu Prani yang menjadi viral di media sosial akibat perkataannya dalam bahasa Jawa “Ah, suwi!” yang artinya “Ah, lama!”. Ia mengucapkan hal tersebut ketika berselisih paham dengan salah satu pengunjung di pasar. Namun, karena hal tersebut diucapkan Bu Prani dengan intonasi keras, maka menimbulkan mispersepsi dari orang-orang yang mengartikan kata tersebut sebagai “Asu”. Bu Prani dan keluarganya kemudian harus menghadapi cercaan dan makian dari netizen Indonesia akibat masalah tersebut.

Hal ini menunjukkan bagaimana ‘intonasi’ dalam berbicara ternyata bisa se-powerfull itu dalam membentuk pemahaman dan persepsi orang yang berbeda-beda. Tentunya apabila hal ini tidak disikapi secara bijak, maka bukan lagi menyebabkan komunikasi tidak efektif, tetapi menjadi mispersepsi-mispersepsi yang bisa menimbulkan perpecahan. Oleh karena itu, pentingnya pondasi “put yourself in someone else’s shoes” yang harus menjadi bekal untuk melihat segala perbedaan realitas yang terjadi dalam berkomunikasi dengan masyarakat multikultural.

Contoh lainnya dalam kehidupan sehari-hari terjadi pada masyarakat di Tarakan misalnya, yang banyak diisi oleh orang Banjar dan atau bersuku Tidung. Suku tersebut merupakan salah satu suku yang ada di Tarakan, Kalimantan Utara. Salah seorang dari teman penulis merupakan masyarakat asli di sana, menetap di Tarakan sejak kecil hingga berusia remaja membuat ia juga mengerti berbagai aksen atau logat suku dalam berbahasa di Tarakan. Ia menyebutkan bahwa dalam suku Tidung, menyebut kata “Kau” dalam percakapan merupakan suatu hal yang biasa saja dan dapat diterapkan kepada segenap lapisan masyarakat tanpa terbatas oleh umur. Saat, Amelia, nama sebutan untuk teman penulis, datang ke Samarinda sebagai pendatang kemudian menggunakan bahasa tersebut, terkadang ia menemukan keraguan dalam berkomunikasi.

Khawatir apakah lawan bicaranya mengerti maksudnya dan atau tidak mengalami mispersepsi, bahwa penyebutan kata “Kau” dalam percakapannya dengan intonasi yang cepat sebagai rasa jengkel atau kemarahan. Beberapa orang yang ditemui di kota perantauannya, Samarinda mungkin tidak familiar dengan penggunaan kata tersebut dalam percakapan. Hal ini kemudian dapat dengan mudah menghadirkan gap komunikasi antara satu dengan lainnya.

Aktivitas komunikasi dalam kemultikulturalan merupakan hal yang menjadi sahabat dalam kehidupan sehari-hari. Kita hidup akan erat kaitannya dengan proses komunikasi serta pertukaran informasi guna memenuhi lanskap pengetahuan untuk kebermanfaatan hidup. Komunikasi yang efektif, mengerti, dan menghargai satu sama lain seharusnya dapat menjadi pengertian bersama untuk mengetahui bahwa perbedaan dalam keberagaman seperti mutiara dalam birunya lautan serta kuatnya dalam hijau pepohonan yang mengikat erat sebagai lambang keharmonisan hidup.

Penulis : Alyda Khairunnisa dan Yaasiina Nur Laila Aprilia, Mahasiswi Program Studi S1 – Ilmu Komunikasi, Universitas Mulawarman

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img