spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Desa Penghasil Bibit Ikan Tawar Terbesar di Kaltim, Punya Jembatan yang Tak Kunjung Dapat Sentuhan

KUKAR – Sarmin Kepala Desa Ponorogan, melintasi jalan ke arah jembatan kayu di atas sungai Jepang. Dikatakannya, jembatan kayu yang menghubungkan Desa Ponoragan-Desa Sapakat ini sudah berusia 20 tahun. Namun sampai saat ini, belum mendapatkan sentuhan perbaikan.

Sembari menunjuk beberapa lubang di jembatan itu, ia menerangkan bahwa sejak tiga tahun terakhir warga telah mengajukan usulan perbaikan ke Pemerintah maupun DPRD Kukar, namun tak ada tindaklanjut.

Padahal ujarnya, desanya adalah penghasil bibit ikan terbesar di Kaltim. Jembatan yang menjadi alternatif warga itu, dapat memangkas jarak ke desa terdekat untuk membawa hasil perikanan hingga hasil pertanian.

“Yang lewat di sini mulai dari pertanian, tanaman pangan dan perikanan. Dahulu mobil lewat sini terus, tapi setelah 3 tahun rusak sudah tidak berani lewat lagi. Kami larang juga khawatir jembatan rubuh sewaktu-waktu. Hanya mobil dengan muatan kosong yang masih bisa lewat,” ucapnya (28/2/2023).

Untuk itu ia meminta perbaikan jembatan yang dibangun dari swadaya masyarakat tersebut. Termasuk kepada Anggota Komisi V DPR RI, Irwan yang saat itu mengunjungi Desa Ponoragan dalam kegiatan serap aspirasi.

BACA JUGA :  Koramil Anggana Kembali Gelar Penyemprotan Disinfektan, Sasar Fasum dan Rumah Warga

Menanggapinya Irwan menerangkan bahwa ada beberapa opsi untuk perbaikan jembatan tersebut. Yang pertama melalui progran Pisew (Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah) yang dapat dialokasikan tahun 2024 mendatang.

Kedua melalui aspirasi yang dapat dialokasikan di APBD Perubahan 2023, Anggota DPRD Kaltim Fraksi Demokrat yang duduk di Badan Anggaran.

“Ada beberapa opsi, yang saya tawarkan. Jangka menengah yakni Pisew, karena kalau program Pisew satu Kecamatan hanya boleh satu. Kedua kebetulan kita punya Banggar juga Demokrat di DPRD Provinsi. Kalau tidak, saya coba usulkan di program penataan kawasan,” jelasnya.

Ia pun menyoroti Pemerintah Kukar yang tak kunjung memberikan perhatian ke Desa Ponoragan. Padahal desa tersebut semestinya mendapat prioritas mengingat statusnya sebagai desa penghasil bibit ikan tawar terbesar di Kaltim.

“Membangun itu harus pakai skala prioritas. Bagaimana menentukan skala prioritas dalam suatu pembangunan, maka tentukan dahulu isu strategisnya. Kalau desa ini isu strategisnya perikanan air tawar, maka dibangun aksesnya. Kalau aksesnya begini, bagaimana orang mau datang ke sini,” tegasnya. (eky)

BACA JUGA :  Kenali Hipertensi, Penyakit Berbahaya Akibat Pola Hidup Tidak Sehat
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img