spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Bikin Sendok yang Bisa Dimakan hingga Bata dari Plastik, Ide Brilian Putra-Putri Kaltim Menjaga Lingkungan

Kerap menjumpai sampah plastik di sudut-sudut Bontang membuat hati Eka Putri Jenitasari gundah. Menurut remaja 20 tahun ini, sampah plastik bisa mendatangkan bahaya. Apalagi jika plastik dibuang ke perairan. Makhluk-makhluk di dalamnya bisa mati karena mengonsumsi plastik.

“Karena butuh waktu lama agar plastik bisa terurai secara alamiah,” kata perempuan berhijab itu kepada kaltimkece.id jejaring mediakaltim.com, beberapa hari lalu.

Tak ingin masalah tersebut terus berlarut-larut, Eka bersama seorang sahabatnya, Wempi Prayogo, melakukan pergerakan. Pada 2021, mereka meneliti barang-barang yang bisa meminimalisasi keberadaan plastik. Setelah melakukan serangkaian riset, mereka membuat sendok dari kulit pisang kepok. Caranya dengan mencampurkan kulit pisang kepok dengan hasil ekstrak buah mangrove.

Ada sejumlah alasan memilih kulit pisang kepok untuk meminimalisasi plastik. Pertama, beber Eka, kulit pisang mudah terurai. Sendok berbahan kulit pisang kepok inipun bisa dimakan. Oleh karena itu, sendok buatannya itu diberi nama serling alias sendok ramah lingkungan. Jangan khawatir mengenai kehigienisannya. Eka mengatakan, serling telah lulus uji laboratorium di Dinas Kesehatan Bontang.

BACA JUGA :  Baru Lulus SMA, Pemuda Muara Badak Nyambi Jual 10 Poket Sabu

“Dari hasil uji tersebut diketahui total angka kumannya (serling) nol dan E. coli (bakteri Escherichia coli) menunjukkan negatif,” bebernya.

Alasan kedua, sambung dia, kulit pisang kepok tidak sulit ditemukan. Mengingat, pisang kepok paling sering dikonsumsi masyarakat. Biasanya, kulit pisang tersebut tidak dimanfaatkan dan berakhir di tempat sampah. Dengan begitu, memanfaatkan kulit pisang kepok sekaligus mengurangi produksi sampah.

Alasan itu juga yang membuat Eka dan Wempi menjadikan kulit pisang kepok untuk mengurangi penggunaan plastik. “Karena sendok plastik paling banyak digunakan masyarakat,” imbuhnya.

Kerja keras Eka dan Wempi membuat sendok dari kulit pisang mendapat perhatian banyak orang. Sering tengah diikutkan Perlombaan Teknologi Tepat Guna (TTG) Kalimantan Timur VIII di Tenggarong, Kutai Kartanegara. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari sejak Sabtu, 25 Juni 2022, ini memamerkan peralatan hasil inovasi limbah organik dan rumah tangga yang memiliki nilai ekonomi. Para pesertanya datang dari 10 kabupaten/kota di Kaltim.

Eka mengatakan, tidak mudah mengikuti perlombaan tersebut. Sering mesti melalui seleksi ketat dari Pemkot Bontang terlebih dulu. “Waktu itu, kami bersaing dengan 18 peserta,” ucapnya.

BACA JUGA :  Mining Competition Hingga Kuliah Umum, Jadi Bagian Reuni Akbar 24 Tahun Fatek Unikarta

Perlombaan tersebut juga diikuti Roni Sulistio dari Kukar. Dalam TTG, ia dan timnya memamerkan paving block atau bata blok yang biasa digunakan untuk lantai. Bata tersebut tidak seperti pada umumnya. Roni dan kawan-kawan menggunakan plastik yang telah dicacah sebagai bahan baku pembuatan bata blok.

“Ini menjadi solusi akhir dari sampah plastik,” kata Roni, yang menjadi ketua Bank Sampah Desa Suka Maju di Tenggarong Seberang, Kukar.
Roni membeberkan, cara membuat bata blok dari plastik tidak susah. Cukup mencampurkan biji plastik yang sudah dicacah dengan sekam, serbuk kayu, abu, pasir, dan daun kering. Hasil olahannya kemudian dipanaskan menggunakan tungku lalu dicetak menjadi bata. Setelah kering, barulah bata blok siap dijual.

Roni menyebut, produk buatan timnya itu dipasarkan se-Kaltim. Satu bata blok dihargai Rp 8 ribu. Ia mengakui, harga tersebut memang mahal. Tapi bukan tanpa alasan. Bata blok buatan Roni cs diyakini lebih berkualitas dan tahan lama.

“Paving block buatan kami pernah diuji dilewati truk dan ekskavator, hasilnya tidak pecah,” bebernya. Ia menyebut, bata blok buatan timnya telah laku 8.000 bata. Dinas Pariwisata Kaltim disebut pernah membeli bata tersebut.

BACA JUGA :  Rakerda PKS Kukar Ikut Bahas Kelangkaan Minyak Goreng

Untuk membuat satu bata blok, sebutnya, diperlukan 2 kilogram plastik. Semua plastik ia dapatkan dari Bank Sampah Desa Suka Maju. Bank tersebut membeli plastik bekas milik warga seharga Rp 500 per kg. “Modal membuat satu paving block itu Rp 5.000. Keuntungannya kami masukan ke kas bank sampah,” katanya. (kk)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img