spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ahmad Aseng, Membangun Pariwisata Kaltim dengan Kedekatan Personal di Pantai Pasir Putih Lima Putri

MUARA BADAK – Seorang pria paruh baya menghampiri dengan senyum terukir di wajahnya. Dialah Ahmad Aseng atau biasa dipanggil Pak Aseng. Ia senang sekali mengobrol dengan pengujung yang datang ke pantainya.

Dengan senyum ramah khas miliknya, ia selalu menanyakan pengunjung perihal apa yang mereka butuhkan.

“Kalau ada yang kurang, ngomong aja, dek. Kalau mau kayu bakar, ada di sana. Di sini juga saya siapkan itu tempat bakar-bakar dan listrik,” sapanya saat Media Kaltim mengunjungi pantai miliknya.

Pak Aseng bersama istrinya, Kamsia, membangun warung dan rumah di wilayah pantai miliknya. Di sana dia berjualan aneka macam makanan, bahan-bahan dapur, air mineral dan kebutuhan pengunjung lainnya. Ada juga anak-anaknya yang tinggal bersama, membantu dirinya menyiapkan pesanan serta membersihkan area pantai.

Pak Aseng mengelola pantai pribadi miliknya, yang diberi nama “Pasir Putih Lima Putri” di daerah Pangempang Desa Tanjung Limau, Muara Badak. Untuk dapat menikmati pantai tersebut, para pengunjung harus menyeberangi muara sungai Pangempang sekitar 8 menitan. Tidak jauh, namun tetap harus menggunakan perahu.

BACA JUGA :  Mendadak Gas Elpiji Melon Kosong di Tenggarong, Ini Penyebabnya 

Lalu setelah sampai, pantai yang dikelola pak Aseng itu masih perlu dicapai dengan berlajan kaki. Melewati semak-semak dan jalanan yang lumayan becek, bahkan kadang terendam banjir jika air pasang.

“Yang masih kurang memang aksesnya, kasihan pengunjung jalan dari depan sampai masuk kesini. Tapi saya belum bisa membangun itu sendiri,” jelasnya.

Pantai Pasir Putih Lima Putri itu memang dikelola secara pribadi oleh pak Aseng dan istri. Aseng mengatakan, kalau tanah seluas 74×100 meter tersebut merupakan pemberian dari tetua di keluarganya. Dari situ, pak Aseng merapikan area pantai, mengangkat kayu, membangun pendopo dan juga fasilitas-fasilitas seperti kursi, ayunan, menanam pinus, menanam kelapa, dan lain-lain.

“Pantai ini sudah saya kelola 5 tahun lamanya. Tapi ini masih jauh, ini baru 20 persennya saja. Saya mau membangun pantai yang bagus, yang bisa memanjakan para pengunjung untuk menikmati pantai saya,” tutur Pak Aseng dengan logat Bugis khas miliknya.

Pantai itu memang tidak terlalu luas, namun pemandangannya sangat nyaman dipandang mata. Pasirnya bersih, serta air laut yang berwarna biru kehijauan. Meski belum memiliki fasilitas seperti villa,  Aseng memberikan listrik serta kebersihan pantai yang luar biasa.

BACA JUGA :  Penabrak Jembatan Martadipura Diminta Ganti Rugi Rp 700 Juta

“Istri saya itu dari pagi sampai malam bersih-bersih pantai. Memang dia suka bergerak, enggak bisa diam. Kadang saya kasihan juga, tapi mau gimana,” ungkapnya.

Berkat Kamsia, kedekatan pengunjung dan pemilik pantai terasa hangat. Bahkan sesekali mengobrol dengannya terasa menyenangkan. Sosok perempuan yang tangguh sekaligus menyenangkan. Sepertinya keluarga Aseng memang suka menyambut tamu.

“Kalau soal pendapatan saya tidak hanya dari sini saja. Tapi juga punya kebun di darat sana. Pemasukan pantai ini lumayan juga, walaupun modalnya juga besar. Ada peningkatan pengunjung, saya senang. Saya memang senang mengurusi ini,” terang Aseng.

Modal membangun pantai dari nol hingga saat ini bukanlah sedikit. Aseng menghabiskan Rp 400 juta lebih dari 5 tahun yang lalu. Semua itu dicicil satu per satu. Namun modal besar itu tidak membuat dirinya menyerah, sebab dia  benar-benar memiliki keinginan membangun tempat wisata berkualitas.

“Ini semua soal alam, nanti pasir-pasir pantai ada saatnya terbawa oleh arus dan ada saatnya terkumpul kembali. Biarkan alam yang bekerja, saya hanya menambahkan beberapa kebutuhan pengunjung,” begitu katanya sambil tersenyum.

BACA JUGA :  Mayat Pria Ditemukan Mengambang di Sekitar Pantai Jodoh

Aseng mengaku belum mendapatkan perhatian pemerintah, bantuan apalagi kunjungan. “Selama ini belum ada,” ucap Aseng. Sehingga ia benar-benar membangun semuanya sendiri.

Apa yang dilakukan Aseng membuat pengunjung merasa tersambut. Dengan rogoh kocek Rp 25.000 untuk penyeberangan dan Rp 20.000 ribu untuk uang masuk, pengunjung sudah seperti menikmati pantai pribadi.

Ke depan, Aseng akan terus membangun fasilitas-fasilitas lain, itu semua demi membahagiakan para pangunjung pantainya. Aseng memang pria yang penuh semangat dan energi, namun yang terpenting ia sangat menyenangkan.

Pewarta: Khoirul Umam
Editor : Nicha R

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img