spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

 Waspada! Motif Ekonomi Penyebab Tertinggi Kasus Perceraian

BONTANG – Masalah ekonomi tak bisa dipandang sebelah mata dalam membangun bahtera rumah tangga. Lantaran faktor ekonomi masih menjadi penyebab tertinggi perpisahan pasangan suami istri (pasutri) alias bercerai.

Selama tahun 2022 ini, Pengadilan Agama (PA) Bontang mencatat kasus perceraian di Bontang menembus angka 560 kasus. Faktor penyebabnya mayoritas masih terkait masalah ekonomi.

Humas PA Bontang, Ahmad Farih Shofi Muhtar mengatakan, mayoritas kasus perceraian tahun ini masih didominasi masalah ekonomi, sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kasusnya seringkali sang suami sudah tidak memberikan nafkah lahiriah, atau suami memilih meninggalkan dan menelantarkan istrinya.

“Persentase faktor ini mencapai 70 persen,” kata Ahmad Farig saat diwaancarai media ini.

Ditambahkannya, selain masalah ekonomi penyebab lainnya adanya pihak ketiga, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), hingga menurunnya kemampuan suami dalam memberikan nafkah biologis alias lemah syahwat.

Hal yang sama pun terjadi di tahun 2021. Mengutip dari Bontangpost.id, alasan terbanyak pengajuan cerai di PA Bontang yaitu motif ekonomi. Berikutnya, hadirnya orang ketiga dan KDRT.

BACA JUGA :  Tim Supervisi Polda Kunjungi Bontang, Bahas Lanjutan Penanganan Covid-19

“Secara umum 3 alasan utamanya itu. Dari persentase, paling besar motif ekonomi. Sekitar 70-80 persen,” ungkap Ahmad Farih.

Terdapat perbedaan alasan perceraian karena motif ekonomi. Misal, dari sisi laki-laki, meminta cerai lantaran merasa nafkah yang diberikan ke pihak perempuan tidak pernah cukup. Sementara dari sisi perempuan, menggugat cerai karena laki-laki tidak sanggup menafkahi keluarga.

“Motifnya sama-sama ekonomi. Tapi alasan spesifiknya kedua pihak yang berbeda,” pungkasnya. (al)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img