spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Transisi Energi, Upaya Kurangi Emisi melalui “Jelajah Energi Kaltim” (2): Berkah Tumpukan Sampah, Pengolahan Gas Metana TPAS Manggar Aliri 305 Sambungan Rumah Tangga

MEDIA KALTIM, BALIKPAPAN – Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Manggar, Balikpapan, telah menerapkan pemanfaatan biogas sebagai sumber Energi Baru Terbarukan (EBT). Mereka mengambil gas metana yang keluar dari tumpukan sampah yang telah menumpuk di enam zona penumpukan sampah yang ada.

TPAS Manggar, yang terletak di RT 36 Jalan Proklamasi, Kelurahan Manggar, telah memanfaatkan gas metana sejak tahun 2012, atau sepuluh tahun sejak digunakan untuk mengolah sampah Kota Balikpapan.

Gas metana diambil dari zona 1 hingga zona 6 melalui pipa yang dipasang secara vertikal, berasal dari dasar tumpukan sampah. Secara biologis, tumpukan sampah akan mengeluarkan air pembusukan yang disebut Air Lindi. Air ini kemudian diolah dan diproses melalui Leachate Treatment Plant atau Instalasi Pengolahan Air Lindi (IPAL).

“Awalnya, gas metana digunakan untuk penerangan di TPAS Manggar dan sebagian warga sekitar,” ungkap Muhammad Hariyanto, kepala UPTD TPAS Manggar, dalam rangkaian kegiatan transisi energi yang dikelola oleh Institute for Essential Service Reform (IESR).

Melihat potensi EBT ini, Pertamina Hulu Mahakam (PHM) tertarik untuk memberikan bantuan berupa Corporate Social Responsibility (CSR) pada tahun 2018. Hasilnya, gas metana yang dihasilkan oleh TPAS Manggar tidak hanya digunakan untuk penerangan di TPAS saja. Saat ini, gas metana tersebut sudah disalurkan ke 305 rumah tangga, bahkan beberapa di antaranya adalah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

BACA JUGA :  BPIP Sebut Pancasila Perkuat Persatuan Bangsa dan Bernegara
Mesin pengolahan gas metana yang terletak di TPAS Manggar. (Rafi’i/Media Kaltim)

Biaya bulanan yang dibayarkan oleh setiap rumah tangga yang terhubung hanya Rp 10 ribu per bulan. Dana ini dikelola secara swadaya oleh kelompok yang sudah dibentuk. Sebagian digunakan untuk perawatan infrastruktur saluran gas ke rumah-rumah warga.

Dalam aspek ekonomi, penggunaan gas metana ini memberikan manfaat signifikan bagi warga. Dengan harga tabung gas sekitar Rp 30-35 ribu di tingkat eceran, kontribusi biogas yang lebih terjangkau membantu mengurangi beban biaya hidup, terutama bagi pelaku UMKM. Ini sangat berarti mengingat harga gas LPG 3 kg sempat mencapai Rp 40-45 ribu saat mengalami kelangkaan.

“Hanya ada iuran sebesar Rp 10 ribu yang dibayarkan kepada kelompok swadaya masyarakat atau RT di sekitar TPAS Manggar,” tambah Hariyanto.

“Dari tahun 2020 hingga saat ini, kami mencatat sekitar 960 ribu meter kubik gas metana telah disalurkan ke rumah-rumah warga,” tutupnya.

Sementara itu, Manajer Penelitian IESR, Julius Christian, mengungkapkan bahwa pemanfaatan gas metana tidak hanya membantu mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga memberikan bahan bakar gratis bagi warga di sekitar TPAS Manggar. Ini juga mengurangi risiko akumulasi gas di timbunan sampah yang dapat menyebabkan ledakan dan longsor.

BACA JUGA :  Pemkot Segera Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Tanah Bergerak di RT 37 Graha Indah

Penulis: Muhammad Rafi’i
Editor: Nicha Ratnasari

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img