spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Tengok Keunikan Masyarakat Desa Lebak Cilong “Kampung Tusuk Sate” di Muara Wis

KUKAR – Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memang diakui memiliki banyak sumber daya alam yang melimpah. Bahkan, potensi wisatanya juga mampu menarik minat para wisatawan domestik maupun mancanegara.

Namun, di samping itu ada beberapa hal yang menarik bagi para wisatawan. Salah satunya, ada suatu desa yang kegiatan masyarakatnya sebagian besar pekerjaannya adalah memproduksi tusuk sate.  Maka tak heran jika desa tersebut dijuluki Kampung Tusuk Sate.

Desa penghasil tusuk sate di wilayah Kaltim ini masih jarang diketahui oleh masyarakat luas. Yakni, Desa Lebak Cilong yang berada di Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Kegiatan sehari-hari mayoritas masyarakat Lebak Cilong khususnya ibu rumah tangga adalah memproduksi tusuk sate. Uniknya, tak sulit menemui warga desa yang sedang membuat tusuk sate, sebab hal ini mereka lakukan di mana saja. Misalnya, di teras rumah sendirian hingga di depan sekolah bersama ibu-ibu lainnya sembari menunggu anaknya pulang. Prosesnya pun tak mengenal waktu, bisa dilakukan pada pagi, siang, maupun malam hari.

BACA JUGA :  Jumlah Pemudik di Dermaga Aji Imbut Meningkat, Puncaknya Diperkirakan H-1 Lebaran

Banyaknya masyarakat yang menggeluti usaha tusuk sate di desa ini karena dilatarbelakangi oleh proses pekerjaannya yang cukup mudah dan irit bahan. Sebab, alat yang dibutuhkan hanyalah parang, gergaji, dan pisau. Tak hanya itu, melimpahnya bambu di desa ini juga sangat mendukung  untuk membuat usaha tusuk sate dapat tetap berjalan.

“Lebak Cilong ini bambunya banyak, artinya warga bisa memilih bambu apa sesuai kebutuhan. Tapi, kebanyakan yang dipakai itu bambu pering namanya,” jelas Udi selaku Kepala Lembaga Adat Desa Lebak Cilong pada Selasa, (1/8/2023).

Proses produksi tusuk sate diawali dengan mencari bambu tua di hutan karena kualitas bambu yang sudah tua lebih baik, kuat, dan tahan lama. Kemudian ditebang untuk dipotong sesuai dengan sukat atau ukuran sesuai standar. Lalu potongan bambu tersebut dibersihkan dan dicuci agar dapat beralih ke proses selanjutnya yaitu membelah bambu menjadi bagian-bagian lebih kecil. Setelah itu, bambu direbus selama kurang lebih 10 menit agar tahan lama, tidak cepat berjamur dan terhindar dari bubuk.

BACA JUGA :  Sempat Bungkam, Akhirnya Danyon Arhanud 16/3 Kostrad Buka Suara Terkait Kematian Serda Herdi
Para ibu rumah tangga di Desa Lebak Cilong yang sedang membuat tusuk sate di depan sekolah. (Dokumen pribadi penulis)

Langkah selanjutnya, potongan bambu dikikis dengan pisau agar bentuknya sama. Lalu, salah satu bagian ujungnya diruncingkan, setelah itu dijemur di bawah terik matahari selama kurang lebih dua hari. Terakhir, menghitung jumlah tusuk sate untuk diikat dan kemudian tusuk sate siap dijual ke pengepul. Satu ikatnya terdapat 1000 tusuk sate yang rata-rata dihargai Rp 15 ribu per ikat.

“Selain menjadi ibu rumah tangga, ibu mengisi waktu luang dengan membuat tusuk sate untuk membantu perekonomian keluarga,” ujar Sahwani, salah seorang perajin tusuk sate.

Dalam sebulan, Sahwani dapat mengerjakan kurang lebih 30 ikat tusuk sate dan menghasilkan pendapatan sejumlah 450 ribu. Sama seperti masyarakat pada umumnya, usaha ini ia lakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. (mhs)

Penulis : Annisa Larasati, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman (Unmul).

Editor : Nicha Ratnasari

16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img