Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat, di mana pada penutupan perdagangan Jumat (22/5/2026), mata uang Garuda merosot hingga berada di level Rp17.717 per dolar AS. Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa tekanan yang membebani pergerakan rupiah saat ini merupakan imbas dari kombinasi sentimen negatif dari kondisi ekonomi global maupun dinamika di dalam negeri.
Dari faktor domestik, pergerakan pasar sangat dipengaruhi oleh atensi terhadap pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027 yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto. Selain itu, para investor internasional juga tengah memantau ketat rencana pemerintah terkait pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia yang diproyeksikan akan mengatur lalu lintas ekspor sejumlah komoditas strategis secara terpusat.
Pembaca Setia Media Kaltim!
Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Media Kaltim?
Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:
👉 https://koran.mediakaltim.com
📱 https://digital.mediakaltim.com/mk23mei2026/mobile/



