spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Rizal Effendi, Walikota Balikpapan yang Mengakhiri Masa Jabatannya (1);  Dikenal Mahasiswa yang Kritis, Wartawan yang Takut Hantu

Masa jabatan Rizal Effendi sebagai pemimpin Balikpapan berakhir 31 Mei 2021. Wali kota dua periode ini dulunya wartawan yang hidup sengsara. Seperti apa sebenarnya sosok Rizal Effendi?

Rizal masih berusia 17 tahun ketika menginjakkan kaki di Fakultas Ekonomi, Universitas Mulawarman. Ia baru saja lulus dari SMEA Negeri Samarinda pada 1975 itu. Tidak pernah terpikir olehnya, kehidupan kampus akan menentukan jalan hidupnya hingga sekarang. Seorang wartawan ternama sampai menjadi wali kota Balikpapan.

Jalan kehidupan Rizal Effendi yang berliku sebetulnya baru benar-benar dimulai 46 tahun silam. Mahasiswa ekonomi ini, entah kenapa, tertarik dengan buletin kampus. Rizal gemar menulis kolom di buletin tersebut sekaligus melahirkan berbagai genre artikel. Sebagian besar tulisannya seputar pembelaan hak mahasiswa. Kepeduliannya itu membuat namanya dikenal seantero universitas.

“Rizal memperoleh ilmu jurnalistik di kampus,” terang Prof Eny Rochaida, kini guru besar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Unmul. Eny adalah adik tingkat Rizal di fakultas tersebut. “Rizal memiliki kemampuan public speaking yang bagus. Seingat saya, ia vokal melawan ketidakadilan,” sambung Prof Eny sebagaimana ditulis Majalah Integritas Unmul (2018, hlm 24).

Kakak tingkat Rizal yang terpaut setahun, Zamruddin Hasid, adalah guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang lain. Menurut Zamruddin, Rizal juga aktif di radio, majalah, hingga teater kampus. Rektor Unmul periode 2010–2014 itu menambahkan, Rizal adalah mahasiswa yang kritis. Pernah suatu hari, Rizal memprotes Prof Sambas Wirakusumah, rektor Unmul yang pertama. Rizal yang tak puas dengan jawaban rektor meneruskan protesnya hingga ke menteri pendidikan. “Hebat benar dia,” kenang Zamruddin Hasid.

Rizal akhirnya menyandang gelar sarjana ekonomi pada 1984. Waktu itu, ia sudah tercatat sebagai reporter di Mimbar Masyarakat. Surat kabar harian ini dipimpin Alwi AS, seorang begawan pers di Kaltim. Alwi AS turut melahirkan nama Dahlan Iskan, jurnalis Samarinda yang pernah menjadi menteri negara BUMN.

Dari Mimbar Masyarakat, Rizal kemudian menulis buat surat kabar Suara Kaltim. Senyampang itu, ia punya “pekerjaan sampingan” sebagai pembantu Majalah Tempo di Samarinda. Tugas tersebut Rizal dapat secara estafet dari Dahlan Iskan yang menjadi kepala biro Tempo di Surabaya pada akhir dekade 80-an (Tokoh Pers Kaltim, Sejarah, Karya dan Pengbadian, 2003, hlm 125).

Menjadi jurnalis pada masa itu bukanlah pekerjaan mentereng. Rizal hanya digaji Rp 25 ribu sebulan, itupun dibayar tidak pasti. Padahal, dia sudah menikah dengan Yohana Palupi Arita. Untungnya, istrinya waktu itu juga bekerja. Rizal pun terpaksa hidup dari gaji istrinya. Menurut Rizal, banyak wartawan semasa itu terpaksa hidup miskin (hlm 126).

Pendapatan Rp 25 ribu sebulan yang tidak pasti diterima Rizal amatlah kecil. Pada dekade itu, Rizal tinggal di sebuah rumah sewa di dekat Pasar Merdeka, Sungai Pinang. Harga sewa rumah itu saja Rp 75 ribu sebulan atau tiga kali lipat dari gaji Rizal sebagai jurnalis. Rumah itu bak gubuk derita bagi Rizal dan Arita. Mereka mandi air hujan. Tidak ada aliran listrik resmi. Rizal terpaksa ikut-ikutan mencuri listrik. Suatu hari, aksi itu terbongkar ketika petugas PLN datang. Petugas tersebut sangat bingung. Bisa-bisanya, ada wartawan yang terlibat pencurian listrik (hlm 127).

Kehidupan Rizal pelan-pelan berubah ketika dihubungi Dahlan Iskan, seniornya di Mimbar Masyarakat dan Tempo, pada pembuka 1990-an. Dahlan Iskan waktu itu ditugasi Tempo untuk mengurus surat kabar Jawa Pos di Surabaya. Seturut pengembangan media, Dahlan ingin membangun koran di Kaltim. Rizal dihubungi untuk terlibat dalam lahirnya ManuntunG.

Di surat kabar yang kelak bernama Kaltim Post tersebut, Rizal meniti karier selama 15 tahun. Ia menjadi reporter, redaktur, redaktur pelaksana, hingga akhirnya pemimpin redaksi pada awal 2000-an. Rizal  pun menjadi sosok penting di dunia pers Kaltim dan nasional. Catatan-catatan kritisnya sering menghiasi surat kabar tersebut. Penggemar berat Manchester United ini akhirnya melepas jabatan pemimpin redaksi pada 2006 setelah memutuskan maju di Pilkada Balikpapan (baca serial berikutnya).

“Sebenarnya, wartawan bukan cita-cita saya. Jadi dokter juga tidak, apalagi gubernur atau presiden. Hidup saya ini mengalir saja seperti Sungai Mahakam,” tutur Rizal, masih dalam buku yang diterbitkan Persatuan Wartawan Indonesia Kaltim tadi (hlm 125).

Sepanjang menjadi wartawan hingga pemimpin redaksi, Rizal akrab dengan malam. Kerja redaksi media cetak memang hingga dini hari. Bagi Rizal, ini masalah. Ia selalu pulang kerja pukul tiga subuh. Setiap waktu itu tiba, ia ketakutan. “Maklum, saya ini wartawan yang takut hantu,” aku bapak tiga anak tersebut (hlm 127).

Pergelutannya di dunia pers memberikan banyak pelajaran. Rizal mengetahui seluk-beluk manajemen perusahaan pers dari Dahlan Iskan, juga Zainal Muttaqin yang waktu itu CEO Kaltim Post Group. Menurut Rizal, ada tiga kunci utama keberhasilan. Ketiganya ialah kerja keras, inovatif dan kreatif, serta kejujuran dan kesederhanaan. Itulah yang membawa Jawa Pos dan Kaltim Post menjadi perusahaan media terbesar di wilayah masing-masing pada masanya.

Setelah hampir seperempat abad menjadi jurnalis, Rizal naik ke panggung politik pada 2006. Ia mendampingi Imdaad Hamid dalam pemilu langsung pertama di Balikpapan. Setelah menjadi wakil wali kota, Rizal menjadi wali kota dua periode sejak 2011 hingga berakhir 31 Mei 2021. (fel/kk/bersambung)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img