Sabtu, November 27, 2021
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Pesan Tersembunyi dari Insiden Orang Utan  Nyaris Tertabrak Mobil di Kutim

SANGATTA – Jalan poros Kutai Timur-Berau yang berpermukaan aspal masih basah karena tersiram hujan. Seekor orang utan tiba-tiba keluar dari pepohonan dan semak belukar menuju jalan raya. Satwa langka itu mulai menyeberangi jalan ketika sebuah truk bermuatan sedang melintas. Truk itu pun mengurangi kecepatan untuk memberinya jalan.

Sebagaimana rekaman yang diunggah di Twitter pada Selasa, 16 November 2021, orang utan tadi rupanya tidak benar-benar hendak menyeberang. Ia berhenti dan duduk di atas aspal, dekat markah jalan. Dari belakang truk, sebuah minibus putih kemudian berusaha menyalip. Minibus berpelat Kaltim itu sudah tepat di sebelah kanan truk dan nyaris menabrak orang utan. Spesies dengan nama latin Pongo Pygmaeus atau orang utan Kalimantan itu pun menyingkir sedikit ke tepi jalan. Ia sempat menoleh ke belakang dan menatap minibus putih yang hampir menubruknya.

Video ini diunggah oleh akun @Orangutan_COP. Kepada kaltimkece.id jaringan mediakaltim.com, Rabu, 17 November 2021, Kapten Habitat Centre for Orangutan Protection (COP), Arif Hadiwijaya, membenarkan peristiwa itu. Arif mengatakan, video direkam di wilayah Kutai Timur. Lokasi persisnya diduga di Jalan Ahmad Yani, jalur poros Simpang Perdau, Begalon, menuju Kecamatan Muara Wahau. COP tengah berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi Wilayah II Tenggarong untuk mengumpulkan data lebih banyak.

Berdasarkan laporan yang diterima COP dalam tiga bulan terakhir, setidaknya orang utan sudah 10 kali terlihat di kawasan tersebut. Ada satwa yang melintasi jalan, duduk di pinggir jalan, atau bergelantungan di pohon. Usia orang utan yang “bermain” di jalan raya ini bervariasi, mulai dewasa, remaja, hingga anak-anak. Adapun orang utan yang terekam dalam video viral tadi diduga berusia belasan tahun atau remaja.

Jalur Simpang Perdau-Muara Wahau membelah kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat. Hutan tropis basah di wilayah karst ini adalah “kediaman” fauna tersebut. Orang utan diduga terpaksa keluar dari rumah aslinya karena habitat yang makin sempit. Jalan poros Simpang Perdau-Muara Wahau, berdasarkan peta habitat, sebenarnya di luar habitat orang utan.

“Penyebab habitat orang utan makin sempit, kalau bicara mengenai Kaltim, ya, entah itu bersinggungan dengan konsesi pertambangan batu bara, perkebunan kelapa sawit, atau area yang digunakan masyarakat sekitar,” kata Arif.

Dalam laporan terdahulu kaltimkece.id, kawasan ekosistem karst Sangkulirang-Mengkalihat seluas 1,8 juta hektare diketahui telah dilabeli 193 izin. Sebanyak 90 izin di Kabupaten Berau, 103 izin di Kabupaten Kutai Timur. Perinciannya adalah pertambangan batu bara sebanyak 26 izin, perkebunan kelapa sawit 110 izin, hak pengusahaan hutan 30 izin, hutan tanaman industri 10 izin, pertambangan batu gamping 16 izin, dan satu izin pabrik semen. Data tersebut diperoleh dari Dinas Lingkungan Hidup Kaltim.

Kembali ke Arif, dalam setahun terakhir, orang utan disebut lebih sering terlihat di luar kawasan lindung. Mereka muncul di pemukiman atau di jalan raya. Walaupun begitu, COP belum menemukan orang utan yang mengganggu manusia. Orang utan punya kebiasaan menjauh ketika bertemu manusia.

“Mungkin, dia mencari makan atau mencari sumber pakan lain yang tak jauh dari lokasi sebelumnya. Jadi melintasi jalan dan melewati pemukiman,” terang Arif.

Dalam catatan BKSDA Kaltim, konflik orang utan dengan manusia banyak ditemukan di Kalimantan. Konflik tersebut kian bertambah pada waktu belakangan ditengarai karena alih fungsi lahan. Sementara itu, Kaltim sejauh ini hanya memiliki satu kawasan konservasi yaitu Taman Nasional Kutai bagi satwa yang punya DNA paling mirip manusia ini.

Adapun hasil penelitian Forum Orangutan Indonesia (Forina) yang dilansir Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, orang utan Kalimantan diperkirakan tersisa 57.350 individu pada 2016. Mereka hidup di habitat seluas 16 juta hektare di seluruh pulau Kalimantan yang tersebar di 42 kantong populasi. (kk)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Mengendarai Motor, Pria Misterius Ceburkan Diri ke Sungai Mahakam

0
SAMARINDA - Seorang pria yang belum diketahui identitasnya nekat bersama sepeda motornya menceburkan diri ke Sungai Mahakam, di Pelabuhan Samarinda, Jalan Yos Sudarso, Kecamatan...

Pengendara Tewas di Jalan Rusak Bonles, Nursalam: Keluarga Korban Bisa Menuntut

0
BONTANG – Kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di Jalan Soekarno-Hatta Kelurahan Bontang Lestari pada Kamis (25/11/2021) malam, mendapat sorotan dari sejumlah pihak. Termasuk kalangan pengusaha...