spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Pengamat : Pasang APK Harus Tetap Perhatikan Aturan dan Estetika Wilayah

BONTANG – Mengenai upaya penataan Alat Peraga Kampanye (APK) para Calon Legislatif (Caleg) untuk Pemilihan Umum (Pemilu) di Februari 2024 mendatang, Pengamat politik dari Universitas Mulawarman (Unmul), Budiman memberi imbauan agar tidak memasang baliho di sembarang tempat.

Pemasangan APK caleg saat ini memang salah satu cara untuk menyedot perhatian publik termasuk kompetisi calon presiden-calon wakil presiden. Sehingga caleg harus bekerja lebih keras dan lebih kreatif untuk memikat atensi dari calon pemilih.

“Ini seperti bisa dilihat dari banyak warganet di media sosial. Bahkan tak jarang, karena sebagian masyarakat juga geram dengan pemasangan APK secara sembarangan,” ucapnya saat diwawancarai via telepon, Rabu (27/12/2023).

Hal lain yang juga patut diperhatikan, caleg harus hati-hati dalam memasang APK. Jika memasang APK sembarangan, sehingga merusak estetika, melukai pohon, dan di rumah-rumah warga tanpa seizin pemilik rumah, justru bisa menjadi bumerang bagi kandidat.

“Untuk pemasangan baliho dan spanduk kampanye terbilang masih efektif. Pasalnya, masyarakat Indonesia ini biasanya gampang lupa. Jadi dengan adanya baliho dan spanduk setidaknya selalu mengingatkan kepada pemilih siapa yang akan dipilih,” tambahnya.

Namun, model konvensional seperti itu tidaklah cukup meyakinkan calon pemilih. Pemilih harus mengenali betul calon yang akan dipilihnya. Untuk itu, caleg mau tidak mau harus rajin turun ke masyarakat, mengenalkan diri, termasuk mensosialisasikan program dan gagasannya jika kelak terpilih.

“Bagi saya, untuk pertemuan tatap muka dengan masyarakat tidak bisa digantikan oleh kehadiran APK seperti baliho dan spanduk saja. Pertemuan tatap muka, menyapa, menyalami calon pemilih sangat penting agar pemilih kenal calon,” jelasnya.

Program yang dibawa oleh setiap calon, juga harus relevan dengan kebutuhan dari semua masyarakat. Kebutuhan ini bisa berbeda-beda di setiap wilayahnya, dalam dapil sehingga calon harus siap dengan beberapa program dan mengkampanyekan program di satu wilayah sesuai dengan kebutuhan masyarakat di wilayah itu.

“Maka dari itu, agar nantinya program tepat pada sasaran dan menarik atensi pemilih, caleg dituntut untuk riset terlebih dahulu,” paparnya.

Selain kampanye tatap muka, menurut Budiman, para caleg harus memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan gagasan dan memperkuat citra.

”Apa yang dilakukan secara offline dikoneksikan ke media sosial agar dampaknya lebih luas,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Nicha R

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img