Nobar Film Pesta Babi di PPU Dipindah, GMNI Soroti Dugaan Intimidasi

PENAJAM PASER UTARA – Rencana kegiatan nonton bareng (nobar) film Pesta Babi yang digagas DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Penajam Paser Utara (PPU) mendadak dipindahkan setelah pengelola kafe yang sebelumnya menjadi lokasi acara membatalkan fasilitasi kegiatan tersebut.

Ketua DPC GMNI PPU, Ega Rahmadhani, menduga pembatalan itu dipicu adanya tekanan dari pihak tertentu terhadap pengelola tempat kegiatan. Adapun tempat yang ditetapkan sebelumnya ialah Kantin di Universitas Gunadarma, kemudian berpindah ke salah satu kedai yang ada di Desa Girimukti, Cafe 1.1 yang akhirnya juga dibatalkan.

“Kami sangat menyayangkan pembatalan terhadap kegiatan ini. Berdasarkan informasi yang kami terima di lapangan, kami menduga pengelola tempat mendapatkan tekanan dan situasi represif dari beberapa pihak sehingga akhirnya memilih membatalkan kegiatan nobar dan diskusi ini,” ujar Ega, Jumat (15/5/2026).

Menurutnya, kegiatan nobar dan diskusi film karya sutradara Dandhy Laksono tersebut merupakan bagian dari ruang intelektual mahasiswa untuk membangun budaya berpikir kritis dan membaca realitas sosial secara terbuka. Ia menilai forum diskusi publik semacam itu tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman ataupun direspons dengan tekanan terhadap penyelenggara maupun pihak tempat kegiatan.

“Mahasiswa hanya ingin membuka ruang dialog dan diskusi publik. Tidak ada unsur provokasi ataupun tindakan melanggar hukum dalam kegiatan ini. Tetapi sangat disayangkan ketika ruang intelektual justru dipersempit melalui tekanan terhadap pihak tempat kegiatan,” katanya.

Ega juga menyinggung pernyataan Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, terkait pentingnya menjaga kebebasan berekspresi dan ruang diskusi publik dalam negara demokrasi.

Menurut dia, karya film, ruang diskusi, dan kritik sosial merupakan bagian dari kebebasan berpikir masyarakat yang tidak semestinya dibatasi secara represif.

“Kalau ruang diskusi dan karya film mulai dianggap ancaman, maka demokrasi sedang mengalami kemunduran. Negara dan seluruh elemen di bawahnya seharusnya hadir melindungi kebebasan berekspresi masyarakat, bukan menciptakan ketakutan terhadap forum-forum intelektual,” tegasnya.

Meski batal digelar di lokasi awal, Ega memastikan kegiatan nobar dan diskusi tetap akan dilaksanakan di tempat lain pada hari yang sama.

Ia menambahkan, masyarakat yang ingin mengikuti kegiatan nobar dan diskusi dapat menghubungi nomor narahubung yang tercantum pada pamflet pengumuman perpindahan lokasi untuk memperoleh informasi tempat terbaru.

“Pembatalan tempat ini tidak akan menurunkan semangat teman-teman GMNI. Diskusi ini akan tetap hidup dan tetap terlaksana. Kami percaya ruang intelektual tidak boleh mati hanya karena tekanan dan sikap represif. Demokrasi harus tetap dijaga melalui keberanian untuk berdiskusi dan berpikir kritis,” tutupnya.

Pewarta: Robbi Lalat

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.