spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Mungkinkah IKN Memulihkan Keanekaragaman Hayati Sepaku?

Oleh: Sunarto Sastrowardojo
Direktur Rusa Foundation Indonesia

Mungkinkah IKN Memulihkan ekosistem Keanekaragaman Hayati di hutan Sepaku. Pertanyaan kritis ini saya baca di WhatsApp Grup yang anggotanya terdiri dari berbagai kalangan masyarakat dari berbagai disiplin ilmu dan latar belakang suku. Salah satunya adalah mahasiswa arsitektur saya di Universitas 17 Agustus 1945, Samarinda.

Pertanyaan kritis itu langsung ramai jadi pembahasan kritis, mendalam, ilmiah dan menggelitik. Mahasiswa saya ini kebetulan kelahiran Sepaku. Kalau dari titik nol, katanya tidak terlalu kelihatan kondisi kehutanan Ibukota Nusantara ini. “Coba dari lapangan helikopter keliling sejauh mata memandang adalah pohon minyak kayu putih”.

Mungkin maksudnya adalah acacia mangium dan eucalyptus sp, hutan tanaman industri yang memang menjadi konsentrasi perusahaan, yang katanya, milik keluarga besar Sukanto Tanoto. yang katanya pula tumbuhan multi fungsi. Bisa untuk membuat kertas, tapi juga obat obatan. Konon luas konsesi perusahaan ini 161.127 hektar.

Presiden Jokowi beberapa waktu lalu menyatakan bahwa ibukota Nusantara adalah kota di tengah hutan. Hutan eucalyptus dan acacia, maksudnya. Coba kita telusuri nalar para perencana kota baru di Sepaku itu.

Kecamatan Sepaku itu  merupakan wilayah kecamatan terbesar di Kabupaten Penajam Paser Utara  dengan 14 kawasan administratif, 10 di antaranya desa dan sisanya adalah kelurahan, masing masing Kelurahan Maridan, Pamaluan, Sepaku dan Mentawir dan ditambah satu kelurahan dari Kecamatan Penajam yang strategis disebut sebut sebagai pelabuhan logistik IKN.

Lima ribu hektar lebih kawasan Sepaku ini akan jadi kawasan ini pemerintahan. Istana negara, kantor kementrian hingga fasilitas umum, umumnya sebuah kawasan kota baru yang dibangun dengan uang rakyat melalui pajak.  Sisanya 200 ribu hektar lebih yang termasuk  dalam kawasan desa dan kelurahan di Kabupaten Kutai Kartanegara yang akan jadi kawasan pengembangan Ibukota Nusantara.

Dua kabupaten ini menjadi sumber penghasilan utama pebisnis Jakarta yang memiliki tambang dan tanaman, HTI di dua kabupaten itu. Terbayangkah, bagaimana sebenarnya kondisi hutan di kawasan IKN?

Siti Nurbaya ketika mendampingi Presiden RI ke Sepaku menjelaskan beberapa hal di antaranya adalah persemian Kelurahan Mentawir  seluas 120 hektar, dengan area persemaian dan bangunan sekitar 32,5 hektar. Persemaian ini merupakan kerjasama antara pemerintah dan swasta. Persemaian ini dapat memproduksi bibit 15 – 20 juta per tahun. Kelak, jutaan bibit yang dihasilkan dari persemaian Mentawir ini akan dibawa ke IKN untuk kemudian ditanam di lahan-lahan kritis.

Persemaian Mentawir saat ini sudah memasuki tahun kedua. Sudah barang tentu targetnya 6 bulan bisa memperoduksi bibit lokal kayu nyatoh, meranti, kapur, ulin, gaharu, hingga jambu-jambuan. Pohon pohon ini yang kelak ketika IKN benar benar dihuni manusia di tahun ke sepuluh sudah sekaligus jadi rumah satwa baru, selain hunian manusia yang ideal, modern tapi juga membangun, mengembalikan alam  dan menghargai alam.

“Inilah yang sudah sering saya sampaikan bahwa pembangunan IKN akan kita awali dengan merehabilitasi hutan-hutan yang ada, agar area-area di IKN dan sekitarnya kembali pada fungsi semula yaitu sebagai hutan tropis dan bukan hutan monokultur yang homogen,” ujar Presiden yang dikutip banyak media awal tahun lalu.

Presiden juga menyebutkan, kontur lahan di IKN akan dipakai sebagai model baru perencanaan kota masa depan. Dalam ilmu arsitektur, kontur adalah representasi relief muka bumi. Konon IKN akan memanfaatkan kontur tanah ini sebagai model pembangunan IKN atau dengan kata lain tidak banyak memotong tanah.

Atau lebih jelasnya begini keberadaan garis kontur pada peta topografi, misalnya. Ia merupakan sebuah hal atau data yang penting. Hal ini dikarenakan garis kontur yang tergambar pada peta menunjukkan ketinggian dan kemiringan suatu daerah sehingga topografi daerah tersebut dapat direpresentasikan dengan baik sehingga menjadi dasar pengembangan informasi medan bagi perencana kota untuk melakukan kegiatan.

Sampai di sini mudah mudahan maksud dari konsep Jokowi membangun IKN Nusantara di tengah hutan dapat dipahami antara lahan gundul, penyiapan bibit di persemaian, luasan lahan, penyiapan air hingga isi kepala Nyoman Nuarta dengan tahapan teknis pembangunan dapat dipahami sebagai upaya yang terukur dan terstruktur.

Kota Hijau, Smart, moderen dan berkelanjutan hingga 20 tahun kemudian IKN itu jadi kota ideal yang benar benar ramah lingkungan dan berkelanjutan sudah barang tentu melibatkan arsitek, termasuk Kengo Kuma, orang Jepang yang santer disebut sebut sebagai kontributor konsep IKN.

Terakhir Bambang Susatyo, Ketua MPR RI diterima oleh Park Mooik, orang selevel Bambang Susantono, Mooik sepertinya Kepala Otorita Nasional Pembangunan Kota Sejong, Calon Ibukota Administratif Korea Selatan yang dibangun untuk menggantikan Seoul yang terlalu dekat dengan saterunya Korea Utara. Sudah barang tentu Korea ingin membangun ibukota barunya pun dengan konsep arsitektur modern yang dapat dengan mudah disebut sebagai kota yang layak dan nyaman huni.

Sudah barang tentu yang mampu memahami banyak hal tentang Sejong diantaranya karakter masyarakaat, budaya setempat corak arsitektur adalah seniman, arsitek, insinyur dan para penulis Korea, bukan arsitek dan seniman, pematung Indonesia.

Arsitektur merupakan cerminan budaya. Bahkan siklus peradaban manusia. Dia berasal dari  pandangan hidup yang bukan semata-mata menyangkut teknik  atau estetika  saja, tapi merupakan ruang fisik aktivitas manusia yang memungkinkan pergerakan dari satu tempat ke tempat lainnya. Bahkan menciptakan hubungan antara dalam dan luar ruangan.

Konsep arsitektur semacam ini hanya bisa dipahami oleh para arsitek negeri itu bukan oleh arsitek negara lain. Apalagi investor negara lain yang akan menanamnkan modal di IKN pasti akan merancang konsep berdasarkan peradaban dan konsep arsitektur negaranya.

Konsep membangun, menyiapkan dan merawat luar ruangan ini merupakan proses membangun persepsi dan imajinasi manusia sebagai penghuninya. Dalam teori human ecology disebutkan hunian sebagai suatu hasil karya arsitektur manusia penghuninya merupakan sebuah sistem lingkungan hidup yang mempunyai ketergantungan dan kesetimbangan antara eco system dan social system.

Eco system yang terdiri dari unsur boitik dan abiotik yang memuat kondisi fisik dan fisiologis lingkungan dalam suatu standar untuk mencapai kenyamanan dan kepuasan fisik maupun fisiologis; sedangkan social system memuat unsur jiwa manusia sebagai pribadi dan sosial yang memiliki kehendak untuk memenuhi kebutuhan psikologis dalam berkegiatan dan berperilaku dengan lingkungannya.  Keduanya merupakan sebalik mata uang.

Sebuah keluarga, masyarakat dalam kaitannya dengan lingkungan eco system merupakan suatu unit organisasi manusia yang berkembang secara individu, namun memiliki tujuan, pola hidup dan komitmen secara bersama sama untuk mendiami suatu lingkungan pemukiman berdasarkan sumberdaya yang ada.

Sumberdaya tersebut terdiri dari fisik (lingkungan alam) dan non fisik (lingkungan sosial), sehingga secara fisikal dan psikologikal akan mendukung sistem kehidupan dan penghidupan masyarakat untuk mencapai kenyamanan dan kepuasan bermukim.

Kepuasan bermukim, menurut Mc. Andrew (1993), ditentukan oleh rona lingkungan fisik yang meliputi iklim, teknologi, sumber daya alam, selera dan sumberdaya lingkungan, serta rona lingkungan non fisik yang meliputi privasi, hubungan sosial, bentuk kekerabatan, kekeluargaan, status, identitas, rasa aman, dan teritori.

Arsitektur hunian merupakan perwujudan bentuk keberadaan penghuni untuk berlindung, menempa pengalaman, bergerak, mencerap, mencipta, berfikir dan bercerita tentang kehidupan dan penghidupannya.

Oleh karena itu, akan selalu terjadi hubungan timbal balik antara penghuni dan huniannya, sehingga perubahan apapun (sosio-kultural dan sosioekonomi) yang terjadi pada manusia sebagai penghuni akan mempengaruhi arsitektur huniannya.  Kota kota lain di Indonesia wajib iri dengan Daerah Khusus Ibukota Sepaku yang dibangun dengan konsep memanusiakan manusia melalui alam ini. (**)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Pasca Liburan, 398,6 Kg Sampah Terkumpul di Pulau Beras Basah, Sedotan Plastik Setara Luas...

0
BONTANG - Pasca libur panjang Hari Raya Idul Fitri, aksi bersih-bersih dilakukan di Pulau Beras Basah, pada Minggu (15/5/) hingga Senin (16/5). Yang cukup...

Kebakaran di Area Pertamina RU V Balikpapan, Dikabarkan 5 Orang Terluka

0
BALIKPAPAN - Area kilang Pertamina Refinery Unit (RU) V Balikpapan terbakar Minggu (15/5) sekira pukul 11.00 siang tadi. Dikabarkan 5 pekerja terluka, dan satu orang...