spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Lestarikan Budaya lewat Kesenian Jaranan, TGS Wakili Kaltim di Ajang ‘Seribu Barong’

Seni Jaranan merupakan pertunjukan seni tari tradisional dengan diiringi alunan musik kendang yang berasal dari Jawa. Jaranan berasal dari kata “jaran” yang berarti kuda.
Jaranan sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Dulunya hanya menjadi dolanan atau mainan anak-anak, yang menggambarkan kegagahan sekelompok prajurit yang tengah menunggangi kuda.

Ketua Paguyuban Seni Jaranan Nusantara Turonggo Galih Saputro (TGS), Sudarmanto, mengatakan kuda yang digunakan dalam tari tradisional jaranan ini berbeda-beda di tiap daerah.

“Tiap daerah berbeda-beda. Ada kuda lumping berarti kuda yang terbuat dari kulit, kuda kepang yang dibuat dari anyaman bambu, dan dilengkapi dengan properti lainnya seperti, cambuk, selendang, parang, gelang kaki dan tangan, dan lain-lain, ” ucap Sudarmanto saat menjadi bintang tamu dalam program Podcast “Meja Tamu” alias Media Kaltim-Praja Tatap Muka dengan tema “Melestarikan Budaya Dengan Kesenian Jaranan”.

Program tersebut tayang di kanal Youtube Praja TV Bontang, Rabu (15/12/2021), hasil kerja sama mediakaltim.com bersama Radio Praja TV, serta didukung Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Bontang.

BACA JUGA :  BKPSDM Bangga Jadi Bagian dari Pasukan Peringatan HUT ke-75 RI

Sudarmanto mengatakan, pementasan seni jaranan biasanya diawali dengan ritual untuk menghormati para leluhur yang telah mendahului. Namun hal tersebut seringkali diartikan masyarakat sebagai ritual pemanggil setan.

“Jaranan ini bukan ritual pemanggil setan. Kami melakukan ritual sebelum pementasan untuk meminta izin dan menghormati para leluhur kami. Tapi masih banyak masyarakat yang berpikir kami melakukan ritual untuk memanggil setan,” kata Sudarmanto.

Pementasan seni jaranan bukan sekadar permainan untuk menghibur, namun juga banyak nilai-nilai kebudayaan yang bisa masyarakat ambil dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Salah satunya yaitu saat makhluk barong tampil dengan liar dan terkena pecutan, itu mengingatkan kita bahwa seliar-liarnya hidup kita, masih ada yang mengingatkan kita untuk menjadi manusia yang lebih baik,” jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, seni jaranan terus mengikuti perkembangan zaman namun tidak mengurangi kekayaan seni dan ritual yang sudah dilakukan. “Semakin ke sini, kita perlu menyesuaikan zaman, dari mulai kostum sampai alunan musik, tapi tetap tidak meninggalkan nilai budaya dan ritual kepada leluhur,” ucapnya.

BACA JUGA :  Anak Bosan, Orangtua Bingung, Guru Tertekan, Setahun Terpaksa Belajar Daring Akibat Corona

TGS berdiri sejak 8 tahun lalu, tepatnya pada 2013. Hingga saat ini TGS memiliki 100 lebih anggota. Dari mulai penari, pemusik, dan pawang. Pada 2015, TGS berhasil mewakili Kaltim dalam ajang “Seribu Barong” di Kota Kediri.

“Alhamdulillah tahun 2015 sangat berkesan bagi TGS, karena kami mewakili Kaltim dalam ajang Seribu Barong, dan sebagai pengisi acara pementasan sekaligus membawakan tarian dari Kaltim, ” pungkasnya. (ahr)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img