spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Kurikulum Merdeka Fasilitasi Siswa Belajar Kearifan Lokal Daerah

SANGATTA– Menambahkan muatan lokal dalam pembelajaran menjadi salah satu yang ditawarkan dalam penerapan Kurikulum Merdeka.

Kabid Pendidikan Menengah Pertama, Disdik Kutai Timur (Kutim), Ilham mengatakan, sekolah dapat menambah muatan lokal yang ditetapkan oleh pemerintah daerah sesuai dengan kearifan lokal atau karakteristik daerahnya.

“Dan ruang itu cukup besar sebenarnya, karena pendidikan itu kan berakar pada budaya bangsa. Artinya semua kondisi budaya dan karakteristik daerah itu punya ruang yang cukup luas di dalam kurikulum,” ujarnya saat ditemui, Rabu (14/9/2022).

Kearifan lokal, kata Ilham, sebenarnya masih terkait dengan salah satu karakter dalam profil pelajar Pancasila, yaitu berkebhinekaan global, di mana generasi Indonesia bisa mengangkat keberagaman daerah menjadi suatu keunggulan lokal dan bisa mengglobal dengan keunggulan lokal tersebut.

“Jadi ada rasa bangga dengan potensi lokalnya, bisa mengembangkannya dan mengeksplornya, bahkan anak-anak bisa mengglobal dengan keunggulan lokal yang dimiliki,” sebutnya.

Kabid Pendidikan Menengah Pertama Disdik Kutai Timur (Kutim), Ilham. (Ramlah/Media Kaltim)

Ilham menjelaskan, muatan kearifan lokal bisa dimasukkan sekolah melalui 3 opsi.

Pertama, mengembangkan muatan lokal menjadi mata pelajaran sendiri. Kedua, mengintegrasikan muatan lokal ke dalam seluruh mata pelajaran. Ketiga, melalui proyek penguatan profil pelajar Pancasila.

Sebelumnya, lanjut Ilham, ruang-ruang untuk muatan lokal belum digunakan secara optimal karena masih didominasi oleh faktor keseragaman, baik secara materi maupun kurikulum operasional sekolah.

Sekolah dinilainya masih ragu untuk membuat kurikulum yang berbeda dan beragam satu sama lain, meskipun regulasi memberikan ruang yang cukup bagi daerah untuk mengangkat keunggulan lokal, kearifan lokal, dan segala keunikan lokal melalui Kurikulum Merdeka.

“Misalnya dalam kurikulum operasional satuan pendidikan. Di situ kurikulum harus menunjukkan warna dari satuan pendidikan. Warna itu bisa dari karakteristik daerahnya, bisa dari tradisi peserta didiknya, atau bisa dari sumber daya yang ada di sekitarnya. Jadi setiap sekolah punya ruang yang cukup besar untuk mengangkat kearifan lokal dan budaya lokal,” tandasnya. (ref)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img