spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Kinerja Industri Pengolahan di Kaltim Tumbuh 5,31 Persen

SAMARINDA – Kinerja industri pengolahan di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada triwulan IV 2022 tercatat tumbuh positif sebesar 5,31 persen, lebih tinggi jika dibandingkan dengan triwulan tahun sebelumnya yang tercatat 3,63 persen.

“Dilihat dari pangsanya, sektor industri pengolahan di Kaltim terutama bersumber dari industri minyak dan gas (migas) dengan pangsa sebesar 56,4 persen,” ujar Kepala Bank Indonesia Provinsi Kaltim Ricky Perdana Gozali di Samarinda, Kamis (20/7/2023).

Diikuti industri petrokimia dan minyak sawit atau crude palm oil (CPO) yang masing-masing dengan pangsa 18,6 persen dan 15,1 persen kemudian industri lainnya dengan pangsa 9,9 persen.

Capaian peningkatan kinerja industri pengolahan bersumber dari kinerja produksi migas Kaltim yang lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.

Sejalan dengan kinerja Industri pengolahan yang meningkat, kinerja industri migas di Kaltim pada triwulan IV 2022 tercatat meningkat, yakni pada triwulan IV 2022 industri pengolahan minyak bumi tumbuh 13,31 persen, mengindikasikan perbaikan setelah terkontraksi dari triwulan sebelumnya yang sebesar 25,25 persen.

BACA JUGA :  Bertema Mahakam Dine, Restoran Mandalaya Kolaborasi dengan Chef Vindex Tengker

Selain itu, kinerja industri pengolahan gas pada triwulan IV 2022 turut membaik dari kontraksi 13,71 persen (yoy) pada triwulan III, menjadi kontraksi 2,35 persen (yoy) pada triwulan IV 2022.

Selain itu, di industri bahan kimia organik dan CPO, perbaikan didorong oleh ekspor yang mengindikasikan perbaikan, yakni triwulan IV 2022 ekspor kimia organik tumbuh 142,10 persen, meningkat dari triwulan sebelumnya yang terkontraksi 98,82 persen.

Dari industri CPO, ekspor tumbuh 27,73 persen persen (yoy), mengalami peningkatan dari pertumbuhan ekspor triwulan III 2022 yang sebesar 6,22 persen.

Berdasarkan harganya, CPO Kaltim pada triwulan IV 2022 masih berada pada level tinggi, meski sedikit terkontraksi dari triwulan sebelumnya.

“Tingginya harga komoditas ini mendorong korporasi untuk mengupayakan produksi dan berdampak pada kenaikan ekspor, termasuk mendorong kinerja industri pengolahan turunan kelapa sawit,” kata Ricky.  (Ant/MK)

Pewarta : M.Ghofar

Editor : Ahmad Wijaya

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img