spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Kenali Penyakit Stroke, Masyarakat Disarankan Periksakan Diri saat Bergejala

BONTANG – Penyakit stroke merupakan penyakit kecacatan tertinggi dan penyakit penyebab kematian ke dua setelah penyakit jantung. Sehingga Kementerian Kesehatan  saat ini  berfokus untuk menurunkan angka kecacatan stroke dan angka kematian akibat stroke.

Dokter spesialis saraf RSUD Taman Husada Bontang, dr Atika Ridwan, Sp.N menerangkan dalam tulisannya bahwa berdasarkan data Riskesdas 2018 Provinsi Kaltim menempati peringkat tertinggi prevalensi stroke di seluruh Indonesia sebesar 14,7% yang meningkat dua kali lipat dibandingkan Riskesdas 2013.

Ia mengatakan pada 29 Oktober 2023 lalu, bertepatan dengan hari stroke di seluruh  dunia, Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi di seluruh Indonesia secara serentak mengadakan acara World Stroke Day (WSD) baik itu berupa penyuluhan offline maupun online dengan talkshow dan melalui media sosial.

Adapun, Ia mengatakan stroke terjadi akibat gangguan pada pembuluh darah otak dapat berupa penyumbatan maupun perdarahan pada otak. Ada dua macam  faktor risiko stroke yaitu faktor risiko yang tidak dapat diubah dan faktor risiko yang dapat diubah.

BACA JUGA :  Pentingnya Penggunaan "Buku Pink" KIA

“Faktor risiko yang tidak dapat diubah antara lain usia lebih 55 tahun, jenis kelamin laki-laki, ras dan genetik. Sedangkan faktor risiko yang dapat diubah antara lain hipertensi, kencing manis, obesitas, gangguan jantung, gangguan ginjal, gangguan darah, riwayat stroke sebelumnya, peningkatan kadar lemak dalam darah, kurangnya aktivitas fisik, sakit kepala migrain, penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, merokok, stres fisik dan mental maupun penggunaan kontrasepsi hormonal,” jelas dr Atika Ridwan, Sp.N, dikutip melalui tulisannya kepada Mediakaltim.com.

Selain itu, dr Atika mengatakan gejala stroke dapat terlihat berupa gangguan pada fungsi otak seperti kelemahan atau kesemutan  pada wajah dan atau sebagian tubuh, kesulitan berbicara, bicara tidak jelas, lidah terasa pelo  atau bicara tidak menyambung, kesulitan menelan, mengenal rasa atau mencium bau, pusing berputar atau terasa oleng atau tidak seimbang bila berjalan dan gangguan penglihatan  seperti penglihatan ganda, tidak dapat melihat sebagian atau buta total sementara waktu serta tidak dapat melirik ke kiri atau kanan.

“Gejala ada beberapa di antaranya gangguan pendengaran seperti tuli mendadak, sulit mendengar atau memahami pembicaraan atau telinga terasa penuh. Gangguan keseimbangan  dan koordinasi seperti gemetaran, tremor, sempoyongan.

BACA JUGA :  RSUD Bontang Raih Penghargaan BAPETEN 2023 Bidang Keselamatan dan Keamanan Radiologi

Gangguan memori seperti pikun, tidak mengenal orang, tempat, waktu atau benda. Sakit kepala hebat tiba-tiba yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Tidak sadar atau sulit dibangunkan,” terang dr Atika.

Dengan begitu, Ia menganjurkan kepada masyarakat ketika mengalami beberapa gejala seperti yang telah ada untuk mendatangi atau segera memeriksakan diri.

“Apabila salah satu atau beberapa gejala stroke terjadi segera ke RS terdekat untuk pemeriksaan ke dokter Spesialis Neurologi agar lebih cepat ditangani. Semakin cepat penanganan stroke, semakin besar kemungkinan sembuh. Apabila sudah pernah mengalami stroke juga harus memeriksakan diri secara rutin untuk mencegah serangan stroke berulang,” ungkapnya. (adv/yah)

Penulis: Yahya Yabo
Editor: Nicha Ratnasari

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img