spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Hilang, Sepatu Sang Calon (1)

Oleh : Muthi’ Masfu’ah

“La, jangan disembunyikan donk sepatunya. Kasihan nanti Bapaknya nyariin,” suara gadis manis itu, sambil menarik tangan sahabatnya.

“Asyik lagi ngeliat wajah bingung, nyariin sepatunya,” gadis centil cuek itu, tarik-tarikkan tangan dengan sohibnya.

“La, kamu ini gak berubah-ubah sih. Kasihan tauuu.”

Sebel, gadis manis itu mencubit tangan Lala, itu nama sohib centilnya yang usil.

Gadis manis itu memaksanya duduk di samping masjid, baru saja usai sholat ashar.

Mereka menatapku… sepasang sepatu agak butut di samping masjid. Mereka yakin, aku adalah sepatu milik seorang pekerja rendahan yang mungkin bekerja di sawah.

“Kita tuh, tidak seharusnya bersenang-senang dengan mengorbankan orang tak punya. Kita dapat melakukan sesuatu yang lebih baik dan itu akan mendatangkan kesenangan besar dalam diri kita, La.” Gadis manis itu lebih dewasa berpikirnya.

“Caranya?”

“Caranya adalah memasukkan uang ke dalam ke dua sepatu bututnya. Setelah itu kita bersembunyi untuk melihat reaksi orang tersebut.”

Lala nampak cemberut, tapi mengikuti perintah sohibnya.

“Kok sepuluh ribu La, lima puluh ribu donk…siniii.”

Gadis manis itu menarik uang lima puluh ribuan dari dompet Lala.

Lala menuruti saja.  Lalu mereka bersembunyi dibalik semak-semak.

Aku menatap heran melihat mereka, tersenyum-senyum geli.

Mungkin mereka melihatku bagaikan sepasang sepatu butut yang menyertai tuannya, disertai dengan kesedihan dan air mata. Mungkin mereka mengira si empunya sepatu memang menghadapi belenggu kemiskinan. Padahal tak selamanya benar.

Aku sederhana, sama halnya dengan majikanku yang sederhana. Namun meski aku sederhana, majikanku bangga padaku. Dia berhasil menghabiskan banyak tenaga untuk membeliku dan teman-temanku. Dia adalah seorang kepala sekolah di sekolah swasta, sekolah untuk anak-anak orang kaya. Alhasil, dia bisa membeli aku yang sederhana ini dan membeli teman-temanku, dua pasang sepatu untuk adik-adiknya. Dia lelaki sederhana yang hidup di kota besar. Pengalaman berharga bagi semua orang, majikanku hidup mandiri sejak kecil bahkan sampai sekarang. Bermimpi besar dan selalu siap menghadapi berbagai rintangan dalam hidup, kesabaran, ketekunan dan ketekunan.

BACA JUGA :  Banjir Lagi di Kota Bontang, Warga: Ini Negeri Seribu Dongeng

“Hem, hem….”

Suara khas majikanku terdengar.

Tak lama kemudian, lelaki berusia tiga puluhan itu keluar masjid, menghampiriku dan bergegas mengambilku. Ketika memasukkan salah satu kakinya, ia merasakan ada benda yang mengganjal. Ia pun merogoh ke dalam sepatu. Ia nampak terkejut dan terheran karena ada uang dalam sepatunya.

Lima puluh ribuan?

Majikanku memegang sambil menatap uang tersebut, lalu melihat ke sekeliling apakah ada orang di sekitarnya. Tapi, ia tidak melihat seorang pun di sana. Lalu ia memasukkan uang tersebut ke kantongnya, sambil memasang sepatu lainnya. Tapi, lagi-lagi ia terkejut karena ada uang dalam sepatunya yang satu lagi.

Tak lama datang seorang pedagang krupuk tua, yang rajin ke masjid ini. Badannya agak bungkuk, masih berusaha kuat memanggul tumpukan krupuk dipunggungnya.

“Bapak ,saya dapat rizki, ini untuk Bapak,” ujar majikanku.

Penjual krupuk tua itu, hampir tak percaya.

Matanya berkaca. Perasaan haru menguasainya, ia jatuh tersungkur dan menengadah ke atas. Doa ucapan syukur terdengar jelas dari mulutnya. Ia berbicara mengenai istrinya yang sakit, serta anaknya yang beberapa hari tidak minum susu, karena tak cukup uang untuk membelinya. Lelaki tua penjual krupuk itu berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada majikanku. Ia sangat bersyukur atas kemurahan yang Allah berikan melalui orang yang belum ia kenal betul.

BACA JUGA :  Kunjungi Kodim 0908/Bontang, Pangdam VI Mulawarman Minta Anggota Jaga Kondusivitas Kota

Aku melirih ke arah semak-semak. Dua gadis berjilbab duduk bersembunyi, sepertinya memang masih anak kuliahan.

Yap tampak Lala tertunduk, matanya terlihat berkaca, melihat kejadian itu. Ia berpaling pada Tanti, rupanya itu nama gadis manis itu,  seraya berkata, “Ti, terima kasih sudah memberiku pelajaran yang gak akan aku lupakan. Kini aku mengerti bahwa lebih berbahagia memberi daripada menerima. Apalagi ternyata yang kita beri lebih membutuhkan daripada kita.”

Tanti tersenyum manis, bahkan bertambah manis.

“Tapi Ti, pemilik sepatu agak butut itu…. ganteng juga ya… aku kira sudah Bapak banget.”

“Ih, kamu ini La….”

Aku tersenyum mendengarnya silir-silir. Majikanku tidak tahu apa yang terjadi sesungguhnya.

Sungguh sore yang indah. Lebih indah dari yang aku kira.

***

Baru sebulan aku berkenalan dengan Jim Joker, sepatu krem kunyit yang ganteng itu. Yap, majikanku gantian memakainya. Kadang aku yang hampir butut ini atau Jim Joker yang keren itu.

Tapi majikanku tampak murung… bahkan sekarang Jim Joker itu jarang dipakainya, yang membuat Jim bertambah sedih. Kesedihan itu tampak terasa… Majikanku juga lebih banyak diam. Tapi kami tak dapat berbuat banyak, kami hanyalah sepasang sepatu dan Jim… adalah pemberian  tulus dari seorang gadis manis yang bertemu majikanku secara tak sengaja di masjid itu.

BACA JUGA :  Soal Satu Siswa SMP Reaktif Covid-19, Disdik Minta Sekolah Disterilisasi

Aku dan Jim berjingkit-jingkit ingin melihat layar laktop milik majikanku… Mengintip apa yang sedang ditulisnya…

Aku punya rindu untuk satu nama. Nama itu tak dapat dihapus oleh siapapun. Kecuali dia sendiri yang menghapuskan. Begitulah dengan rasa cintaku. Tidak akan pernah hilang kecuali dia yang menyuruhku untuk pergi dan menghapuskannya. Walau aku tahu, nama itu akan selalu hidup dalam hatiku.

Aku datang kepadamu untuk  pertama kali, dengan penuh keindahan. Aku melepasmu bukan berarti aku tidak menyayangimu, bukan tidak menginginkanmu,  aku juga bukan tidak mencintaimu… Melainkan  aku hanya tahu, mungkin  kebahagiaanmu bukanlah dariku. Dan aku pergi… Menghilang… adalah bukan keinginanku..

Aku dan Jim berkaca membacanya… Aku lihat majikanku menundukkan kepalanya. Ada sedih yang mendalam. Hening…

Sementara hembusan angin membaca sebuah untaian kata… Ya… milik Tanti gadis manis berjilbab itu..

Aku, tidak tahu… Apakah kamu menganggap aku sebagai salah satu dari sekian banyak wanita yang kamu cari dan singgahi… Mungkin aku hanya sebatas rindang tempatmu berteduh sejenak, sedangkan untukku… kamu adalah sebuah istana yang tak bisa membuatku beranjak pergi…

Suasana nampak hening… Jim ingin bertanya, aku mengisyaratkan… aku akan menceritakan semua kisah cinta ini padanya… tapi bukan hari ini…. (*)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img