spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Dua Kasus Leptospirosis di Kaltim, Masyarakat Diminta Waspada Kencing Tikus

SAMARINDA– Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mengimbau kepada warga untuk mewaspadai penyakit leptospirosis yang disebabkan oleh kuman leptospira interrogans dari kencing tikus. Dan saat ini pihak Dinkes tengah menangani kasus tersebut.

“Hingga saat ini hanya ada satu orang yang dilaporkan mengidap leptospirosis dari Kutai Barat dan sudah sembuh. Sementara itu, tidak ada pasien yang dirawat akibat leptospirosis di Bontang, namun di sana ditemukan tikus yang positif bisa menularkan leptospirosis,” jelas Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin, Kamis (5/10/2023).

Dijelaskannya, leptospirosis bisa menular melalui kontak dengan air atau tanah yang tercemar kencing tikus. Adapun gejalanya yakni demam, sakit kepala, nyeri otot, kuning, dan gangguan ginjal.

Jaya menyebutkan, Dinkes Kaltim telah melakukan pemeriksaan hewan dari beberapa sampel di daerah Kutai Barat dan Bontang. Tetapi belum ditemukan tikus yang positif dengan orang yang terkena penyakit pada dua daerah itu.

“Kami masih menyelidiki apakah ada orang yang terkena saat mandi atau mengkonsumsi air yang tercemar kencing tikus. Kami juga masih menunggu hasil pemeriksaan tikus di Kabupaten Mahakam Ulu, karena ada laporan ada pasien leptospirosis dari sana,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dengan ini mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak dengan air atau tanah yang tercemar kencing tikus. Jaya juga menyarankan untuk merebus air dahulu sebelum diminum atau digunakan untuk mandi.

“Kami juga akan berkerja sama dengan dinas terkait untuk memberantas tikus yang terutama berada di perkampungan. Kami sudah berkordinasi ke Dinas Pertanian dan Dinas Lingkungan Hidup untuk membantu menangkap dan memeriksa tikus,” ujarnya.

Kemudian, jika ada masyarakat yang mengalami gejala yang mengarah ke leptospirosis, segera periksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.

“Kasus ini jangan dianggap sepele, karena bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat,” tutup Jaya. (Nta/adv/Dinkes)

Pewarta : Nita
Editor : Nicha Ratnasari

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img