spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Drama Kasus Korupsi Mentan Syahrul: Dari ‘Hilang’ hingga Pengunduran Diri

JAKARTA – Drama dugaan kasus korupsi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, yang akrab disapa SYL, belum berakhir. Kasus ini mencakup sejumlah peristiwa mulai dari kepergiannya yang tiba-tiba di Eropa hingga pengajuan pengunduran diri jabatannya kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Awalnya, nama Syahrul diselidiki oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Juni 2023, ketika sedang berlangsung penyelidikan terkait dugaan korupsi di Kementerian Pertanian (Kementan).

Sejak saat itu, dia telah disebut-sebut sebagai tersangka, meskipun dia membantah terlibat dan mengaku tidak mengerti korupsi seperti apa yang dimaksud.

Informasi wartawan, dari sumber internal KPK, pada tanggal 16 Januari 2023, perkara dugaan tindak pidana korupsi berupa penerimaan hadiah/janji/sesuatu oleh Pegawai Negeri atau yang mewakilinya di lingkungan Kementerian Pertanian 2019-2023 (spnn.lidik-05/Lid.01.00/01/01/2023) telah disetujui untuk naik ke penyidikan dengan calon tersangka SYL (Menteri Pertanian RI tahun 2019 hingga 2024).

Syahrul, bersama Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian tahun 2021 hingga saat ini dan Direktur Pupuk Pestisida tahun 2020-2022/Direktur Alat Mesin Pertanian tahun 2023, telah diduga melakukan tindak pidana korupsi. Penyelidikan terhadap mereka telah dimulai sejak 16 Januari 2023.

KPK memanggil Syahrul Yasin Limpo pertama kali pada Jumat (16/6), tetapi dia tidak hadir dengan alasan sedang menjalankan tugas negara, yakni menghadiri Agriculture Ministers Meeting G20 di India. Dia meminta penjadwalan ulang pemeriksaan hingga 27 Juni 2023.

Namun, KPK kemudian memanggilnya kembali pada 19 Juni 2023. Politikus NasDem itu akhirnya hadir di gedung lembaga antikorupsi tersebut untuk menjawab sejumlah pertanyaan penyidik.

“Saya kooperatif diperiksa. Sudah saya jawab. Tanya ke KPK (soal perkara kasus dugaan korupsi),” ujar Syahrul setelah diperiksa.

KPK menyebut ada tiga klaster dugaan korupsi di Kementan yang tengah diselidiki. Klaster pertama yang sedang ditangani terkait penempatan pegawai.

“Yang ada sekarang, yang sedang ditangani baru klaster pertama. Jadi, rekan-rekan mohon bersabar karena masih ada klaster kedua, ketiga,” ujar Plt. Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu di Kantornya, Jakarta, Senin (19/6).

Berdasarkan temuan KPK pada perkara sebelumnya, penempatan pegawai dalam jabatan masih sering disalahgunakan melalui praktik-praktik yang melanggar hukum, seperti jual-beli jabatan, pemerasan, kolusi hingga nepotisme.

Presiden Jokowi akhirnya buka suara soal pemeriksaan Mentan SYL. Ia meminta agar semua pihak menghormati proses hukum yang sedang berjalan.

“Hormati proses hukum yang ada, hormati proses hukum yang ada,” kata Jokowi di Pasar Parungpung, Bogor, Rabu (21/6).

Meski Jokowi berbicara secara singkat, sebelumnya, ia sudah pernah mengingatkan para menteri untuk berhati-hati dalam mengelola anggaran kementeriannya.

KPK juga menggeledah rumah dinas Syahrul di Jalan Widya Chandra V Nomor 28, Jakarta Selatan pada Kamis (28/9) sore. Rombongan penyidik KPK tiba di rumah politikus NasDem itu sekitar pukul 17.00 WIB.

Hingga pukul 22.00 WIB, setidaknya sudah ada dua mobil berwarna hitam yang keluar masuk rumah SYL, di mana seorang penyidik KPK terlihat mengeluarkan sebuah mesin penghitung uang.

Penggeledahan dilanjutkan hingga Jumat (29/9) pagi. Sekitar pukul 12.11 WIB, sejumlah petugas KPK keluar dari sana menggunakan tujuh mobil hitam dengan membawa koper kecil, tas, dan berkas-berkas.

Tim penyidik KPK juga menemukan dan mengamankan 12 unit senjata api, dokumen yang diduga terkait perkara, hingga uang sekitar Rp30 miliar dari rumah dinas SYL.

“Puluh miliar yang ditemukan dalam penggeledahan dimaksud. Kami sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian daerah tentunya terkait dengan temuan (senjata api) dalam proses geledah dimaksud,” kata Kepala Bagian Pemberitaan KPK Ali Fikri.

Sementara itu, Polda Metro Jaya menyebut 12 senjata api tersebut terdiri dari jenis revolver S&W atau Smith and Wesson hingga Tanfoglio.

KPK dikabarkan telah menetapkan SYL sebagai tersangka pada Jumat (29/9). Namun, Kepala Bagian Pemberitaan KPK Ali Fikri menyatakan bahwa tim penyidik masih terus mengumpulkan dan memperkuat alat bukti, termasuk melalui penggeledahan rumah dinas SYL.

“Yang pasti pengumpulan bukti terus KPK lakukan. Sebagaimana yang sering kami sampaikan, KPK hanya akan sampaikan seluruh proses penanganan perkara secara utuh pada saatnya setelah semua proses cukup dilakukan,” kata Ali.

Selain rumah dinas Syahrul, KPK juga memeriksa Kantor Kementan di Jakarta Selatan. Setidak nya terdapat tiga ruang yang digeledah pada Jumat (28/9), yakni ruang kerja menteri, ruang kerja sekretaris jenderal, dan ruang kepala organisasi serta kepegawaian Kementan.

“Ditemukan dan diamankan bukti antara lain dokumen dan bukti elektronik yang diduga memiliki kaitan erat dengan perbuatan pidana yang dilakukan para tersangka dalam perkara ini,” ujar Kepala Bagian Pemberitaan KPK Ali Fikri melalui keterangan tertulis, Sabtu (30/9).

Di sisi lain, KPK mengklaim ada pihak tertentu yang berupaya merintangi proses penggeledahan di Kantor Kementan.

“Saat tim penyidik KPK melakukan penggeledahan di Gedung Kementan RI di Jakarta Selatan, tim penyidik mendapati adanya dokumen tertentu yang dikondisikan dan diduga akan dimusnahkan,” jelas Ali.

“Beberapa dokumen dimaksud diduga kuat adalah bukti adanya aliran uang yang diterima para pihak yang ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara ini,” sambungnya.

KPK lantas menetapkan tiga pasal dalam kasus dugaan korupsi di Kementerian Pertanian, yakni pemerasan dalam jabatan, gratifikasi, hingga tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Namun, perhatian publik kemudian tertuju pada ‘kepergian’ Syahrul Yasin Limpo ke Eropa. Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi mengatakan bahwa Mentan Syahrul ‘hilang’ di Eropa.

Ia mengklaim terakhir kali bertemu SYL sebelum keberangkatan kunjungan kerja sang menteri ke Spanyol.

“Terakhir (kontak dengan Mentan SYL) pas keberangkatan, kalau saya ya. Cuma kalo pejabat (Kementan) eselon 1 yang ikut kan terakhir sampai di Spanyol itu masih bersama-sama,” kata Harvick.

Sudah hampir seminggu Harvick mengaku tidak bisa menghubungi Mentan Syahrul. Ia mengklaim kabar terakhir dari Syahrul datang saat sang menteri kunjungan kerja di Spanyol.

Bendahara Umum NasDem Ahmad Sahroni mengatakan SYL sedang menjalani pengobatan usai tugas kenegaraan di Eropa. Ia mengatakan koleganya itu akan pulang ke Indonesia pada tanggal 5 Oktober.

“Pak SYL itu ada kegiatan di luar negeri yang tadinya tanggal 1 (Oktober) harus pulang. Cuma karena masalah fisiknya, masalah prostat, jadi dia langsung ke RS,” ujar Sahroni.

Mengenai pengobatan ini, Sahroni menjelaskan, “Maka itu tanggal 5 (Oktober) sudah di Jakarta.”

Selanjutnya, penyidik KPK juga menggeledah dua rumah yang dimiliki oleh Mentan Syahrul di Kota Makassar, Sulawesi Selatan pada Rabu (4/10).

Penggeledahan pertama dilakukan di rumah yang berada di Kompleks Bumi Permata Hijau (BPH) Blok C, Kecamatan Rappocini, Makassar. Aparat kepolisian bersenjata lengkap ikut mengawal penggeledahan ini.

Penyidik KPK kemudian keluar dari rumah tersebut dengan membawa satu koper cokelat. Mereka lalu bergegas meninggalkan rumah tersebut sekitar pukul 15.27 WITA.

Penggeledahan kedua dilakukan di rumah SYL di Jalan Pelita Raya, Kecamatan Rappocini.

Sekitar pukul 16.30 WITA, penyidik keluar dengan membawa satu buah koper. Penyidik lembaga antirasuah juga membawa mobil merek Audi dengan plat DD 57 US yang diduga milik SYL.

Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Silmy Karim menyatakan bahwa Mentan Syahrul Yasin sudah tiba di Indonesia pada Rabu (4/10). Ia melewati pemeriksaan imigrasi di Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 18.46 WIB.

Syahrul disambut para pegawai yang telah menunggunya di Gedung A Kementan saat ia tiba. Ia juga sempat memberikan pernyataan kepada wartawan.

Setelah itu, Syahrul langsung menuju Istana Negara untuk mengajukan pengunduran diri dari jabatan Menteri Pertanian kepada Menteri Sekretaris Negara Pratikno. Ia menyampaikan bahwa dirinya tengah menghadapi proses hukum dan merasa perlu melepaskan jabatannya. Meskipun, ia menolak menerima stigmatisasi atau tuduhan ‘hilang’ dengan sengaja di Eropa.

Namun, hingga saat itu, SYL belum menerima panggilan untuk bertemu langsung dengan Presiden Jokowi.

Selain pengunduran diri, SYL juga menghadapi pemeriksaan oleh Polda Metro Jaya yang berlangsung sekitar 3 jam. Ia mengaku lelah setelah baru tiba dari luar negeri semalam. Pemeriksaan tersebut terkait dengan laporan masyarakat mengenai dugaan pemerasan yang dilaporkan pada 12 Agustus 2023. (MK)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img