spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Batu Bara Makin Membara, Alam Kaltim Makin Merana

Harga batu bara di pasar dunia terus memecahkan rekor dua bulan belakangan. Pada Rabu, 6 Oktober 2021, bursa ICE Newcastle mencatat nilai jual kontrak (future) emas hitam menembus USD 262 per ton. Titik ini adalah yang tertinggi sepanjang sejarah dalam tren positif komoditas yang dimulai sejak Juni 2021.

Batu bara memang sedang membara. Ditilik dari harga rata-rata bulanan, nilai batu bara pada Oktober 2021 sudah naik 264 persen dibanding Oktober 2020. Komoditas ini naik 2,6 kali lipat hanya dalam setahun. Sama halnya dengan harga acuan batu bara (HBA) yang diterbitkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. HBA Oktober 2021 menembus USD 161,63 per ton atau naik dua kali lipat dibanding HBA Januari 2021 sebesar USD 75,84 per ton.

Sejumlah ekonom menyebutkan, menggilanya batu bara disebabkan beberapa faktor. Yang paling berpengaruh adalah kondisi energi di Tiongkok. Negara tujuan ekspor batu bara terbesar Indonesia ini sedang krisis energi. Krisis ini dilatarbelakangi ambisi Presiden Xi Jinping lewat program langit bersih jelang Olimpiade Musim Dingin Beijing pada Februari 2021 lalu.

Padahal, pada waktu yang sama, konsumsi energi di Tiongkok sedang naik-naiknya setelah bangkit dari pandemi. Permintaan batu bara juga bertambah karena ketegangan politik Tiongkok dengan Australia. Impor Tiongkok dari Negeri Kanguru terjun bebas. Kurangnya pasokan batu bara bahkan menyebabkan Tiongkok membatasi konsumsi listriknya besar-besaran (China Krisis Energi Listrik!, artikel Bisnis Indonesia, 2021).

Faktor kedua yang menyebabkan melambungnya harga batu bara adalah krisis serupa di Inggris. Negeri Ratu Elizabeth itu kesulitan pasokan BBM setelah keputusan Brexit (keluarnya Inggris dari Uni Eropa). Keadaan makin parah karena harga komoditas energi utama mereka yaitu gas alam naik tajam. Akhirnya, pembangkit-pembangkit listrik di Inggris terpaksa mengonsumsi batu bara.

Yang terakhir adalah kebijakan India merespons kondisi di Tiongkok dan Inggris. Negara tujuan ekspor batu bara Indonesia terbesar kedua ini sebenarnya produsen batu bara juga. Akan tetapi, India berupaya mengamankan pasokan dalam negeri mereka. Kebijakan tersebut turut menekan pasokan batu bara di pasar dunia (Krisis Energi Hantam Dunia, Ramai-ramai ‘Berebut’ Batu Bara?, artikel CNBC, 2021).

“Permintaan global sedang tinggi sementara stok terbatas. Ditambah faktor cuaca, harga komoditas melejit seperti sekarang,” terang Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Tutuk SH Cahyono, kepada kaltimkece.id jaringan mediakaltim.com.

Kaltim adalah satu dari antara daerah penghasil batu bara terbesar di Indonesia. Menurut Tutuk, cuaca buruk yang melanda Kaltim turut memengaruhi produksi emas hitam. BI Kaltim memprediksi, permintaan batu bara dalam jangka pendek cenderung masih tinggi. Sejumlah negara tujuan utama ekspor Indonesia juga sebentar lagi memasuki musim dingin. Konsumsi batu bara akan meningkat.

“Harga barang mentah memang naik dan turun seperti kita naik rollercoaster. Ini tidaklah mengagetkan,” tuturnya.

PREDIKSI PERTUMBUHAN EKONOMI
Sebagaimana tahun-tahun yang sudah lewat, kenaikan harga batu bara berpengaruh terhadap perekonomian Kaltim. Kondisi itu tidak lepas dari dominasi sektor pertambangan dan penggalian terhadap fondasi ekonomi Bumi Mulawarman. Badan Pusat Statistik Kaltim mencatat, sektor tersebut memberi andil 44,74 persen terhadap total produk domestik regional bruto (PDRB) Kaltim pada triwulan II 2021.

Menurut Tutuk, pengaruh kenaikan harga batu bara sebenarnya tidak signifikan. Walaupun ekonomi Kaltim tahun ini bakal positif, pertumbuhannya relatif tidak terlalu besar seperti pada 2019 atau sebelum pandemi.

Berbicara pertumbuhan ekonomi, sambung Tutuk, harus dilihat dari sisi produksi. Kondisi cuaca yang sedang tidak baik di Kaltim menyebabkan banyak perusahaan kesulitan menaikkan kapasitas produksi. Di samping itu, batas kuota produksi juga harus diikuti.

“Yang jelas, ekonomi Kaltim tetap positif. Produksi batu bara tetap naik walaupun tidak terlalu besar. Dari analisis kami, ekonomi Kaltim diprediksi tumbuh 2-3 persen tahun ini,” jelas Tutuk.

BI Kaltim memperkirakan, harga baru bara yang melejit tinggi tidak berlangsung lama. Harga komoditas dapat turun dengan cepat, secepat kenaikannya. Kondisi ini tidak terlepas dari kebijakan pemerintah Tiongkok yang tengah meningkatkan produksi batu bara dalam negeri. Pasokan tersebut diperkirakan turut memengaruhi harga emas hitam di pasar global.

Sementara untuk jangka menengah, Tiongkok bersiap mengurangi emisi karbon dengan menghentikan operasi pembangkit batu bara. Kebijakan ini berhubungan dengan program langit bersih tadi. Sebagai gantinya, Tiongkok menyiapkan sumber energi terbarukan dengan membangun 100 gigawatt pembangkit tenaga surya dan 50 gigawatt tenaga angin setiap tahun.

“Bukan Tiongkok saja, sejumlah negara mulai mengurangi penggunaan energi tak terbarukan. Untuk jangka menengah dan panjang, harga batu bara akan tertekan,” jelas Tutuk.

Ketidakpastian harga komoditas pada akhirnya memengaruhi serapan tenaga kerja. Sektor pertambangan disebut relatif kecil menyerap tenaga kerja, berbeda dengan sektor UMKM. Walaupun kontribusi ekonominya tidak sebesar pertambangan dan penggalian, UMKM melibatkan tenaga kerja dalam jumlah besar.

Berdasarkan catatan BPS Kaltim pada Februari 2021, persentase penduduk bekerja menurut lapangan pekerjaan utama sektor pertambangan hanya 8 persen. Dua sektor tertinggi penyumbang tenaga kerja di Kaltim adalah pertanian, kehutanan dan perikanan, dengan 23,59 persen; dan perdagangan besar dan eceran 19,72 persen.

TAMBANG ILEGAL MAKIN MARAK
Harga batu bara yang terus menggila juga membawa dampak negatif bagi Kaltim. Keadaan ini dimanfaatkan para penambang ilegal untuk mengeruk keuntungan yang besar. Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim, Pradarma Rupang, menilai bahwa kenaikan harga batu bara hanya membawa kerusakan lingkungan yang makin besar di Kaltim.

“Tambang ilegal akan mendapatkan uang yang besar dan cepat. Padahal, aktivitas ilegal ini menyebabkan kerusakan alam karena tidak ada reklamasi dan kegiatan pascatambang,” jelas Rupang. Menurutnya, laju kerusakan lingkungan ini tidak terpantau negara. Tanpa rencana kerja dan anggaran biaya selayaknya perusahaan sah, tidak dapat diketahui luas bukaan lahan dan angka produksi dari pertambangan ilegal.

Jatam Kaltim mencatat, sekurangnya ada 100 titik tambang ilegal di sepenjuru Kaltim. Jumlah terbanyak ditemukan di Kutai Kartanegara. (kk)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img