Banjir Sepaku Meluas, 60 Rumah di Desa Suka Raja Terisolasi

NUSANTARA – Banjir yang melanda kawasan Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, kembali meluas. Setelah sebelumnya merendam Kelurahan Mentawir dengan ketinggian air mencapai 1,5 hingga 2 meter, banjir kini mengisolasi sedikitnya 60 rumah warga di RT 24 dan RT 25 Desa Suka Raja, Minggu (11/1/2026).

Meski ketinggian air di Suka Raja lebih rendah, berkisar 30–50 sentimeter, genangan tersebut tetap melumpuhkan aktivitas warga. Air bahkan meluap hingga badan jalan dengan Tinggi Muka Air (TMA) sekitar 10 sentimeter, menyulitkan akses keluar-masuk permukiman.

Ketua RT 25 Desa Suka Raja, Rahmad Waras Abdillah, menyebut banjir kali ini kembali menegaskan perlunya penanganan permanen, terutama melalui normalisasi sungai. Ia mengingatkan, upaya serupa pernah dilakukan sekitar lima tahun lalu dan terbukti efektif menekan banjir.

“Dulu sudah pernah, sudah 5 tahun lalu. Waktu itu cukup mengatasi persoalan banjir di sini. Kalaupun banjir, surutnya cepat, dan tinggi air tak setinggi sekarang,” jelasnya di lokasi, (11/1/2026).

Menurut Rahmad, penyempitan badan sungai diperparah longsoran tanah di bantaran serta belum adanya tindak lanjut program normalisasi lanjutan. Padahal, rencana penanganan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) sempat diwacanakan, namun hingga kini belum terealisasi secara fisik.

“Makanya normalisasi ini kami tunggu. Tentu dengan pengerjaan yang lebih baik paten. Selain itu, kami juga perlu solusi jembatan,” jelasnya.

Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Sepaku sejak sepekan terakhir menjadi pemicu utama luapan sungai. Di Desa Suka Raja, hujan deras mulai turun sekitar pukul 19.20 Wita dan air terus naik hingga dini hari. Pada pukul 03.00 Wita, sebagian besar rumah warga sudah mulai tergenang.

Data di lapangan mencatat, banjir berdampak pada delapan rumah dengan delapan kepala keluarga di RT 24. Sementara di RT 25, sebanyak 52 rumah terdampak dengan total 58 kepala keluarga atau sekitar 160 jiwa.

Minggu (11/1/2026) siang, sekitar pukul 13.00 Wita, jajaran Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) meninjau langsung lokasi banjir. Deputi Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN, Alimuddin, mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai untuk menentukan langkah penanganan, baik jangka pendek maupun permanen.

“Apakah mengatasi secara permanen, ataukah sementara. Apakah karena ini menjadi programnya BWS, tentu tetap berkoordinasi dengan OIKN. Seperti apa untuk mengatasinya. Apakah mengatasi secara permanen atau sementara dulu ya, kaitan dengan adanya bencana seperti ini,” terang Deputi Alimuddin.

Menurut dia, yang terpenting adalah permukiman warga tidak lagi terendam dan aktivitas ekonomi, terutama hasil kebun warga, tidak terganggu

“Persoalan nanti apakah tindak lanjutnya permanen atau tindakan sementara nanti teman-teman dari sarpras (sarana prasarana) nanti akan menilai. Juga harus diluruskan, banjir di sini kan sudah sering terjadi. Mungkin hari ini karena faktor curah hujan tinggi kemudian pasang air laut dan lain-lain sehingga terjadi seperti ini. Tapi mudah-mudahan ini yang terakhirlah terakhir,” tuturnya.

Lanjut Alimuddin, ada dua hal hasil rapat dengan sejumah pihak terkait. Di antaranya normalisasi termasuk revitalisasi sungai-sungai di Sepaku. Titik koordinatnya juga sudah ditentukan.

“Ada enam titik yang kita temukan tetapi empat dari enam itu sudah masuk dalam program. Salah satunya Kelurahan Mentawir,” terangnya.

Pewarta: Atmaja Riski
Editor : Nicha R

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.