spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ancur Paddas dan Puncak Rasul, Makanan Khas Berau Sejak Abad 17

TANJUNG REDEB – Puncak Rasul dan Ancur Paddas adalah dua makanan khas Kabupaten Berau yang tidak pernah absen pada setiap kegiatan upacara adat. Hal itu karena kedua kuliner tersebut wajib untuk selalu disajikan sejak zaman kerajaan.

Pasalnya, dua makanan khas itu punya makna tersendiri bagi masyarakat Bumi Batiwakkal. Seperti Ancur Paddas, yang dilihat dari namanya mempunyai arti Bubur Pedas. Memang benar rasa bubur yang satu ini terasa sedikit pedas.

Untuk diketahui, Ancur Paddas sudah dikenal sebagai makanan khas Suku Banua sejak tahun 1600-an atau abad ke-17. Dulunya, kuliner itu selalu disajikan sebagai makanan ringan untuk menjamu para tamu di Keraton Kesultanan Berau.

Di beberapa kampung biasanya bubur itu selalu disajikan saat ada upacara adat atau kegiatan syukuran. Namun, kadang dihidangkan saat perayaan Bapallas Bidan atau naik ayunan bagi warga yang baru melahirkan.

Selanjutnya , makanan asli Berau yang tak kalah populer bila momen kegiatan istimewa tiba adalah kue Puncak Rasul yang juga memiliki makna filosofis. Konon sejak zaman kerajaan, kue berbahan dasar ketan ini, merupakan menu wajib dalam berbagai acara syukuran dan keagamaan.

Jenis kuliner itu dibentuk kerucut menjulang ke atas. Namun berbeda dengan nasi tumpeng, puncak rasul memiliki berbagai warna yang masing-masing memiliki filosofi tersendiri. Di atas puncak rasul, terdapat sebutir telur ayam kampung yang dimaknai sebagai jabatan manusia tertinggi yakni Nabi Muhammad SAW.

Kedua kuliner itu kembali disajikan saat HUT Kabupaten Berau ke-69 tahun dan Kota Tanjung Redeb ke-212 tahun. Bahkan, untuk melestarikan makanan asli kesultanan Berau itu, pihak Dinas Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata (Disbudpar) Berau menggelar lomba bagi masyarakat yang digelar di GOR Taruna, Jalan Pemuda, Tanjung Redeb, pada Jumat (16/9).

Kepala Disbudpar Berau, Ilyas Natsir mengatakan, keseluruhan peserta lomba mencapai 59 peserta yang dari setiap kampung, kecamatan, organisasi perangkat daerah, serta dari kalangan masyarakat.

“Agar Berau juga lebih dikenal menjadi daya tarik bagi para pengunjung, baik itu wisatawan atau pun bagi masyarakat yang datang dari luar,” tuturnya.
Lomba tersebut turut dihadiri Bupati Berau, Sri Juniarsih. Dirinya mengapresiasi segenap jajaran panitia penyelenggara, beserta seluruh peserta lomba.

Dalam sambutannya, ia menyebutkan, Pemkab Berau memiliki komitmen untuk meningkatkan ekonomi masyarakat melalui pengembangan usaha berbasis kearifan lokal. Sri meminta dinas terkait untuk berupaya mempromosikan dua kuliner itu.

“Kuliner ini perlu dilestarikan apalagi sudah populer sejak zaman kerajaan. Sehingganya, harus ada fasilitas pembinaan, pelatihan, serta kredit lunak kepada UMKM,” ucapnya.

Terakhir, kepala daerah wanita pertama di Berau itu berpesan, supaya kuliner Puncak Rasul dan Ancur Paddas tidak tergerus di tengah arus zaman. Melalui kesempatan itu, ia mengajak masyarakat, terutama para pemuda untuk tetap menjaga dan melestarikan kedua makanan khas tersebut.

“Kalau perlu setiap acara adat hingga spot-spot wisata makanan ini selalu ada dan menjadi menu hidangan khas Bumi Batiwakkal,” pungkasnya. (Dez)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.4k Pengikut
Mengikuti
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img