Minim Event Pemerintahan, Okupansi Hotel di PPU Merosot saat Ramadan

PPU – Tingkat hunian hotel di wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) selama Ramadan 2026 tercatat lesu. Okupansi rata-rata hanya berkisar maksimal 30 persen, turun dibanding bulan-bulan biasa yang masih mampu menyentuh 40–50 persen per bulan meski tanpa event besar.

Ketua DPC Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) PPU, Sandry Ernamurti, menyebut kondisi ini dipengaruhi minimnya aktivitas yang mendatangkan tamu dari luar daerah.

“Occupancy during Ramadan (dan sebulan sebelumnya) khususnya dari Penajam–Babulu maksimal 30 persen,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sepinya hunian dipicu tidak adanya kegiatan atau event yang membawa pengunjung dari luar daerah. Khususnya dari kalangan ASN/PNS dari luar PPU yang biasanya datang dalam kepentingan dinas.

“Sebab tidak ada aktivitas atau kegiatan atau event yang mendatangkan ASN/PNS dari luar PPU sehingga imbasnya hunian cukup sepi, turun dibanding bulan biasanya,” katanya.

Menurut Sandry, pada bulan normal tanpa event sekalipun, aktivitas pemerintahan masih berjalan sehingga okupansi relatif lebih baik. Hal ini disebabkan masih adanya kunjungan dari luar daerah berkaitan dengan kegiatan pemerintahan.

“Bulan biasa walau tidak ada event, namun aktivitas berjalan normal bisa menyentuh 40–50 persen per bulan,” jelasnya.

Pelaku usaha perhotelan berharap momentum Lebaran dapat menjadi penopang sementara di tengah lesunya okupansi memasuki Ramadan. “Semoga menjelang Lebaran, seperti tahun sebelumnya H-3 sampai H-1 sebelum Lebaran biasanya cukup bagus occupancy, bisa terjual 5–10 kamar per hari,” ucap Sandry.

Lebih lanjut, ia mengakui tantangan 2026 terasa lebih berat karena kondisi fiskal pemerintah tengah tertekan. Menilik industri perhotelan di PPU yang memang bertopang pada kegiatan Meetings, Incentives, Conferences/Conventions, and Exhibitions (MICE) dari sektor pemerintah.

“Tahun 2026 ini keuangan seluruh Indonesia di kabupaten dan provinsi itu sama, sedang tidak baik-baik saja, termasuk kementerian juga keuangannya terpangkas 50 persen karena produk MBG,” katanya.

Sandry menegaskan, perhotelan di PPU masih sangat bergantung pada kunjungan yang bersifat kepemerintahan. “Hotel di PPU hidup dari kunjungan yang bersifat kepemerintahan,”imbuhnya..

Sementara pasar dari sektor swasta maupun tamu tinggal jangka panjang relatif kecil. Ia menilai belum ada pendongkrak minat menginap di luar sektor pemerintahan karena pariwisata di koridor Penajam–Babulu masih lesu.

“Untuk kunjungan ke perusahaan swasta atau long term stay itu hanya sekitar 5 persen paling tinggi. Belum ada pendongkrak minat tinggal untuk hal lain sebab pariwisata masih mati suri dari Penajam–Babulu,” jelasnya.

Di lain sisi, geliat kunjungan ke kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) dinilai berada dalam ruang lingkup berbeda.

“Berbicara IKN itu ruang lingkup yang berbeda karena saat ini PAD PPU dari sumber perhotelan berpusat di IKN saja, sebab di sana selain orang datang untuk berinvestasi, sumber pemasukan juga datang dari kunjungan wisata, sehingga hunian tetap hidup,” pungkas Sandry.

Pewarta: Robbi Lalat

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.