BONTANG – Sebuah video yang beredar pada Minggu (23/03/2025) memperlihatkan banyaknya ikan mati yang mengambang di perairan Bontang Lestari dan Santan Ilir, Kabupaten Kutai Kartanegara. Video tersebut memperlihatkan nelayan yang melaut dan menemukan ikan-ikan yang sudah mati, serta mengapung di permukaan air.
Masbudi, salah satu nelayan yang terdampak, mengatakan insiden ini terjadi di perairan dangkal sekitar Bontang Lestari dan Santan Ilir. Ia menduga penyebabnya adalah pembuangan limbah dari pengolahan sawit yang dilakukan oleh PT. Energi Unggul Persada (EUP), yang membuang limbahnya ke sungai yang bermuara langsung ke laut di dua wilayah tersebut.
Peristiwa Ini terjadi sekitar tanggal 15 Maret 2025. Mulai dari ikan besar hingga kecil pun mati. Kejadian seperti ini bukan pertama kali. Sekitar dua tahun belakangan, Masbudi dan nelayan lainnya merasakan dampak dari pencemaran yang diduga disebabkan oleh pembuangan limbah ini.
Pihaknya mengaku tidak tahu bagaimana harus membuat laporan sehingga mereka mengupload video tersebut ke sosial media sebagai salah satu cara agar dapat dilihat banyak khalayak.
Ia menyebutkan kerugian yang dialami berdampak ke mata pencaharian ratusan nelayan lainnya. Terakhir ia mendapatkan sekitar 50 kilo ikan yang mati dari perangkap ikan yang dia pasang
“Yang masuk perangkap mati, sudah busuk semua, tidak bisa diperjualbelikan,” katanya.
Ia pun harus memasang perangkap lebih jauh dan hal tersebut memakan bahan bakar yang lebih banyak.
“Tangkapan makin berkurang, bensin kapal makin banyak terpakai karna jaraknya lumayan,” ujarnya.
Senada dengan Masbudi, Rahman, nelayan asal Kelurahan Bontang Lestari, juga mengeluhkan hal yang sama. Apalagi, karena kedekatannya dengan lokasi pembuangan limbah, Rahman mengungkapkan bahwa ia merasakan aroma menyengat dari limbah tersebut.
“Bau menyengat, kadang sampe sesak,” terangnya.
Ia berharap pemerintah dapat bertindak cepat terlebih ini berpengaruh terhadap ekosistem laut yang berpengaruh pada hasil tangkapan mereka, dan dapat berpengaruh terhadap ekonomi para nelayan.
“Profesi ini mata pencaharian utama, sudah saya geluti semenjak bujang,” jelasnya
Penulis: Syakurah
Editor: Nicha R