Gerakan Pangan Murah dan Normalisasi BBM Tahan Inflasi di Kaltim

SAMARINDA – Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menyebut bahwa aktivitas ekonomi daerah ini sepanjang Januari 2026 tetap terjaga, yang ditandai dengan inflasi di bulan yang sama terkendali, seiring normalisasi harga komoditas pangan setelah hari besar keagamaan dan tahun baru.

“Langkah pengendalian inflasi terus diperkuat melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kaltim bersama TPID kabupaten/kota,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim Jajang Hermawan di Samarinda, Selasa (3/2/2026).

Sejalan dengan upaya menjaga stabilitas harga, selama Januari 2026 TPID Kaltim pun terus memperkuat langkah pengendalian inflasi melalui strategi 4K (keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif).

Pada aspek keterjangkauan harga, pada periode Januari 2026, TPID Kaltim melaksanakan sebanyak 21 kali gerakan pangan murah, operasi pasar, dan kegiatan serupa lain di beberapa kabupaten/kota.

Ia menyebut bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Kaltim pada Januari 2026 mengalami inflasi sebesar 0,04 persen secara bulanan (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,71 persen (mtm).

Perkembangan tersebut mendorong inflasi tahunan Kaltim berada pada level 3,76 persen (yoy) dan inflasi tahun berjalan sebesar 0,04 persen (ytd). Meski tekanan inflasi bulanan menurun, inflasi tahunan Kaltim tercatat masih lebih tinggi dibandingkan nasional yang sebesar 3,55 persen (yoy).

Inflasi Kaltim pada Januari utamanya disumbang oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, sejalan dengan kenaikan harga emas yang masih berlanjut di awal tahun.

“Rata-rata harga emas mencapai Rp2.860.000 per gram atau meningkat 12 persen dibandingkan Desember 2025. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi 3,17 persen (mtm) dengan andil 0,23 persen (mtm),” ujarnya.

Tekanan inflasi juga bersumber dari kelompok pakaian dan alas kaki, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan komoditas pakaian serta penyesuaian tarif air minum PAM sebagai dampak kenaikan biaya operasional.

Namun, lanjut Jajang, tekanan inflasi yang lebih tinggi mampu ditahan oleh penurunan harga pada kelompok bahan makanan dan transportasi.

Penurunan harga pangan didukung panen raya di sejumlah sentra produksi, termasuk komoditas cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah di wilayah Jawa dan Sulawesi.

Selain itu, terjadi normalisasi tarif angkutan udara pascatingginya permintaan pada periode Natal dan Tahun Baru, serta penurunan harga BBM nonsubsidi pada awal Januari yang tercatat menurun sekitar 3–4 persen. (ANT/MK)

Pewarta : M.Ghofar
Editor : Zaenal Abidin

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.