Kopi Liberika Luwak Kaltim Mendunia, dari Guru SD hingga Pasar Global

KUKAR — Di tengah fluktuasi harga komoditas global, sektor riil Kaltim tetap bergerak. Dari Desa Prangat Baru, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kukar, muncul kisah ketekunan seorang guru sekolah dasar yang berhasil mengangkat kopi Liberika luwak hingga menembus pasar internasional.

Rindoni, pria asal Lamongan, Jawa Timur, mengikuti program transmigrasi pada 1989. Ia menikah pada 1988 dengan Sriyani dan dikaruniai empat orang putra. Di sela pengabdiannya sebagai guru SD, Rindoni mulai mencoba menanam kopi pada 1997. Jenis yang dipilih adalah kopi Liberika, yang dinilai paling sesuai dengan karakter tanah khatulistiwa yang didominasi dataran rendah.

Kopi Liberika dikenal memiliki karakter rasa yang ringan dan ramah di lambung, sehingga tidak menyebabkan asam lambung. Dari keunggulan inilah Rindoni kemudian melihat peluang. Ia tidak hanya berhenti pada budidaya kopi biasa, tetapi mengembangkan kopi Liberika luwak sebagai produk bernilai tambah. Ketekunan tersebut dijalani bertahun-tahun hingga akhirnya membuahkan hasil.

Pada 2021, Rindoni mendapat penghargaan nasional Program CSR dari Pertamina sebagai petani inspiratif karena keberhasilannya mengembangkan kopi luwak. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara personal, tetapi juga membawa perubahan bagi lingkungan sekitar. Berkat perannya, Desa Prangat Baru kemudian ditetapkan sebagai desa terbaik tingkat Provinsi Kaltim.

Produk kopi yang dikembangkan Rindoni dipasarkan dengan merek KAPAK PRABU, singkatan dari Kampung Kopi Luwak Prangat Baru. Saat ini, kopi luwak KAPAK PRABU telah merambah pasar luar negeri. Antara lain Aljazair, Belanda, Spanyol, dan Italia.

KUKAR Kopi Liberika 1
Penulis bersama Rindoni (kanan) di Kampung Kopi Luwak Prangat Baru, Kecamatan Marangkayu, Kutai Kartanegara.

Di dalam negeri, kopi ini juga memiliki pelanggan setia dari kalangan pejabat. Gubernur Kaltim disebut menjadi salah satu pelanggan tetap. Bahkan, Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka disebut pernah menikmati kopi luwak produksi Rindoni.

Untuk menjaga kualitas dan konsistensi rasa, Rindoni juga mengembangkan berbagai metode pascapanen guna membentuk karakter kopi. Ia menerapkan proses red honey, washed process, dan natural process.

Proses fermentasi honey dilakukan selama sekitar 25 hari, washed process selama 15–20 hari, sedangkan natural process membutuhkan waktu paling panjang, yakni 30–45 hari. Perbedaan durasi fermentasi ini menghasilkan karakter rasa yang khas dan memperkuat posisi kopi Liberika luwak KAPAK PRABU di pasar premium.

“Saya berharap tidak hanya saya yang mengembangkan kopi Liberika, tetapi para petani lain juga ikut menjadikan Kaltim sebagai penghasil kopi Liberika terbesar di dunia,” ujar Rindoni, pria kelahiran Lamongan, 1 Juli 1968.

Pewarta: Wahyudi R
Editor: Agus S

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.