Dari Pesisir Delta Kini Mendunia: Energi dan Harapan Pendidikan di Desa Sepatin

TENGGARONG – Jarum jam menunjukkan tepat pukul 06.55 pagi, Ainun, gadis yang kini menginjak usia 13 tahun, mulai bergegas penuh semangat. Duduk di pelataran rumah, ia kemudian mengencangkan tali sepatunya. Tas ransel warna hitam tergendong di punggung mungilnya. Tangan tua ibunya yang mulai keriput pun disambar, dicium dengan perlahan dan penuh hormat. Bagi Ainun, pagi itu bukan sekadar rutinitas biasa, ia melangkah mantap menuju ke sekolah. Memastikan cita-citanya tidak sebatas harapan, pun bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

Ainun, menjadi satu dari ratusan anak di Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara, yang masih memiliki semangat untuk menimba ilmu. Siswa Kelas 7 SMP Negeri 6 Anggana ini memiliki tekad kuat. Ingin cita-citanya tidak sekadar terkurung di dalam desa, terkungkung dalam wilayah 3T: Terdepan, Terluar dan Tertinggal.

Jembatan kayu ulin selebar tak lebih 1 meter, jadi saksi betapa semangatnya Ainun untuk menuntut ilmu. Bukan sekadar jadi akses utama mobilitas warga, bagi Ainun menjadi jalan untuk menuju cita-citanya.

Meski ia berada di Desa Sepatin, namun karya Ainun sukses terbang menembus hingga ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Kegemarannya mencorat-coret buku gambar dengan pensil warnanya yang hampir habis, sekilas bakat tersebut mulai menunjukkan potensinya. Tarian tangan mungil dan pesona alam yang memenuhi imajinasinya, karyanya pun masuk dalam pameran International Union for Conservation of Nature (IUCN) atau Serikat Internasional untuk Konservasi Alam. Pameran yang memang fokus pada isu lingkungan, yang digelar pada 9-15 Oktober 2025.

“Alhamdulillah senang karya ini bisa dikenal ke luar negeri,” ucap Ainun malu-malu.

Ainun merupakan satu dari sekian banyak anak-anak yang berprestasi Desa Sepatin. Meski berada di wilayah delta, tidak membuat mereka berhenti berharap keluar dari serba keterbatasan. Buah keberhasilan ini pun tidak diraih dalam waktu singkat, banyak tantangan yang telah dihadapi.

Melalui Sekolah Negeri Terapung, tantangan tersebut dijawab lugas oleh Pertamina Hulu Mahakam (PHM). Sukses membawa energi baru bagi pendidikan di Desa Sepatin. Melalui Program Guru Penggerak, tingkat pendidikan yang rendah, kini bertransformasi dengan mengukir prestasi di luar negeri.

KOLABORASI GURU PENGGERAK

Naila Faza Kamila menjadi salah satu saksi pendidikan di Desa Sepatin yang mulai bertumbuh dan berjalan ke arah yang lebih baik. Datang menjadi guru penggerak, hasil kolaborasi PHM dan Yayasan Indonesia Mengajar.

PHOTO 2025 10 23 13 23 07
Naila Faza Kamila, bersama beberapa siswi SMP Negeri 6 Anggana, yang asyik belajar menggunakan Chromebook. (Rafi’i/Media Kaltim)

Dara berusia 27 tahun ini, menjalani tahun pertamanya di SMP Negeri 6 Anggana. Merangkap sebagai fasilitator pendidikan, Faza bertugas melihat kebutuhan SMP Negeri 6 Anggana. Memastikan program dan pendampingan apa yang perlu didorong dan dikembangkan.

“Kalau guru merasa butuh hal dan ilmu baru, bisa saya berperan sebagai trainer. Supaya ilmu itu bisa diterapkan ke anak-anak,” jelas Faza.

Memasuki tahun keempat sejak 2021 kolaborasi PHM dan Yayasan Indonesia Mengajar, perlahan tapi pasti SMP Negeri 6 Anggana mulai bertumbuh menjadi salah satu sekolah yang berkembang dan dikenal di Kecamatan Anggana. Awalnya guru yang hanya 3 orang, kini mencapai 9 orang.

Pengajar Muda yang sempat mengajar di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat ini menyebut dampak besar positif dirasakan SMP Negeri 6 Anggana. Lantaran dengan adanya Program Guru Penggerak, banyak potensi yang ditemukan. Salah satunya menemukan bakat Ainun, seorang gadis kecil yang tumbuh dan hidup di Desa Sepatin.

Namun tidak terpaku pada proses pengembangan pengajaran yang semakin diminati siswa saja. Program ini juga terus mempublikasikan apa yang sudah dilakukan dan dicapai. Hasilnya, sekolah-sekolah pesisir mulai diperhitungkan. Terutama dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pengampu pendidikan, hingga berhasil menjadi sekolah pertama sebagai Sekolah Rujukan Google (SRG) di pesisir Kukar.

PHOTO 2025 10 23 13 23 50
Siswi SMP Negeri 6 Anggana. (Rafi’i/ Media Kaltim

“Tinggal kontinuitas sustainability (keberlanjutan) kita coba jaga, karena yang kita kembangkan manusia dan kemandirian,” lanjut Faza.

SDM GURU MENINGKAT PESAT

Pembenahan pun dilakukan, seiring berjalannya Sekolah Negeri Terapung melalui Program Guru Penggerak dari PHM. Secara internal, guru yang awalnya hanya berjumlah 3 orang terus digembleng dan diarahkan. Tangan dingin Kepala SMP Negeri 6 Anggana, Tandarman dan para guru penggerak sukses menelurkan prestasi demi prestasi.

Kolaborasi dalam peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) guru di SMP Negeri 6 Anggana pun terbilang berhasil. SDM guru yang semakin berkualitas, berbanding lurus dengan pencapaian para siswa. “Alhamdulillah sejak 2019 piala baru 3, di 2022 Alhamdulillah sekarang bingung taruh piala prestasi dari anak-anak termasuk medali,” ujar Tandarman.

Total ada 62 prestasi yang diraih oleh guru maupun siswa SMP Negeri 6 Anggana, dari medio 2022-2024. Pun berhasil meraih empat penghargaan tingkat internasional, salah satunya Silver Award di ajang internasional The 16th Global CSR Award di Hanoi, Vietnam.

“Alhamdulillah sekarang (meraih) Adiwiyata, tahun lalu Adiwiyata tingkat kabupaten. Ini berkat kerja sama dan kolaborasi dengan PHM,” jelas Tandarman.

“Ide menjadikan SMPN 6 sebagai sekolah terapung sebagai contoh nyata kolaborasi yang sukses antara sekolah dan PHM,” lanjutnya.

KOMITMEN NYATA DUKUNG PENDIDIKAN PESISIR

Perjalanan Program Guru Penggerak melalui Sekolah Negeri Terapung, bukti nyata dukungan pengembangan SDM di Desa Sepatin. Tertinggal dari segala sisi dan lini, mulai dari sarana dan prasarana (sapras) hingga infrastrukturnya. Upaya ini menjadi langkah konkret, pengentasan masalah pendidikan di wilayah terpencil.

PHOTO 2025 10 23 13 24 31
Head of CRC Zona 8 PHM, Achmad Krisna Hadiyanto, saat berbagi cerita bersama siswa SMP Negeri 6 Anggana di salah satu ruang kelas. (Rafi’i/Media Kaltim)

Bak gayung bersambut, tawaran pengembangan SDM yang ditawarkan PHM kepada sekolah dan pemerintah desa tampak memberikan hasil. Dengan fokus utama meningkatkan kualitas dunia pendidikan pesisir, tepatnya di SMP Negeri 6 Anggana.

“Harapannya agar apa yang kami nilai diawal itu belum bagus kualitas pendidikannya, jadi lebih baik lagi,” ucap Head of CRC Zona 8 PHM, Achmad Krisna Hadiyanto.

Ini sekaligus menunjukkan bahwa energi tidak hanya sebatas menggerakkan roda mesin dan industri. Namun memberikan energi dan harapan baru, bahwa pendidikan merupakan hak setiap anak. Meski berada jauh dari daratan, terpisahkan oleh perairan. Harapannya, banyak Ainun-Ainun lainnya yang mampu berprestasi dan menembus batas isolasi. Tidak sekadar bercita-cita, tapi bisa mewujudkannya.

“Sekarang prestasi SMP Negeri 6 Anggana terus meningkat di regional, nasional dan internasional,” tutup Krisna.

Penulis : Muhammad Rafi’i

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.