SAMARINDA – Meski anggaran operasional belum turun, Sekolah Rakyat Kalimantan Timur tetap berjalan dengan semangat gotong royong. Lembaga pendidikan baru yang diresmikan 30 September 2025 ini menjadi harapan bagi 58 anak dari keluarga miskin ekstrem. Mulai dari yatim piatu, anak dengan orang tua gangguan jiwa, hingga mereka yang sempat putus sekolah karena kemiskinan.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 58 Kaltim, Rabiatul Adawiyah, M.Pd, mengungkapkan, seluruh siswa berasal dari keluarga desil 1 dan 2 atau kategori miskin dan miskin ekstrem. “Sebagian besar anak-anak datang tanpa bekal cukup. Banyak hanya punya satu atau dua stel pakaian, bahkan beberapa mengenakan baju sumbangan,” ujarnya di Samarinda.
Meski kebutuhan dasar seperti seragam, sepatu, alat tulis, perlengkapan makan-minum, hingga laptop dijamin pemerintah, Rabiatul menyebut banyak kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi secara mandiri. “Untuk sementara, kami mendahulukan kebutuhan penting seperti ATK, alat kebersihan, alat tidur, dan obat-obatan. Tapi karena pembelanjaan harus melalui vendor, beberapa kebutuhan darurat seperti listrik dan obat terpaksa kami tanggulangi dulu pribadi,” katanya.

Biaya operasional harian pun tak sedikit. Voucher listrik misalnya, bisa habis Rp1 juta setiap tiga hari atau sekitar Rp9,5 juta per bulan. “Sampai sekarang, belum ada anggaran masuk,” ujarnya.
Sekolah ini menempati gedung bekas asrama SMA 10 Samarinda yang kini digunakan sementara di bawah kewenangan Pemprov Kaltim. Bangunan tersebut memiliki 56 kamar yang masing-masing menampung empat siswa, dilengkapi ruang belajar, sarana olahraga, dan fasilitas digitalisasi pendidikan.
Saat ini terdapat 29 siswa SD dan 25 siswa SMA, sementara jenjang SMP masih dalam tahap perencanaan. Di SD, sistem belajar disesuaikan dengan kemampuan membaca, bukan usia. “Ada yang baru mulai dari nol, ada yang pernah sekolah sampai kelas tiga. Kami bagi dua kelompok besar, yaitu kelas kecil (1–3) dan kelas besar (4–6),” jelas Rabiatul.
Sekolah Rakyat juga memiliki 15 guru yang mengajar lintas jenjang, termasuk guru SMA yang membantu SD untuk pelajaran bahasa Inggris, olahraga, dan agama. “Kami terus berupaya memberikan yang terbaik. Ini sekolah rakyat, semangatnya gotong royong, bukan hanya antara guru dan siswa, tapi juga masyarakat,” tegasnya.

Kebutuhan mendesak kini adalah karpet atau ambal untuk salat, serta peralatan ibadah dan obat-obatan harian. “Kami sudah mengajukan permohonan ke Baznas, semoga mendapat perhatian,” katanya.
Ke depan, Pemprov Kaltim berencana memindahkan lokasi permanen Sekolah Rakyat ke kawasan Bukit Biru, Tenggarong, di atas lahan seluas enam hektare yang tengah disiapkan. Fasilitas lengkap seperti asrama, ruang belajar, sarana olahraga, dan laboratorium digital akan mendukung pendidikan terpadu bagi anak-anak kurang mampu.
“Sekolah ini bukan sekadar tempat belajar, tapi tempat membangun masa depan. Anak-anak ini berhak punya mimpi, dan tugas kami memastikan mimpi itu punya jalan,” tutup Rabiatul dengan haru. (esf/rls)
Editor: Agus S



