PASER – Memasuki pertengahan bulan Ramadan, permintaan telur ayam di sentra pemeliharaan milik Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Paser terus mengalami kenaikan yang signifikan.
Kepala Disbunak Paser, Djoko Bawono, mengungkapkan pihaknya kewalahan dalam memenuhi permintaan telur dari masyarakat. Bahkan, untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, pihaknya mulai membatasi pembelian telur.
“Kewalahan kita karena sebelum panen sudah ada order dari masyarakat sekitar UPTD Petangis, tapi sekarang sudah kita batasi pembeliannya,” kata Djoko Bawono, Senin(17/3/2025)
Meningkatnya permintaan telur ini disinyalir karena harga telur produksi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pembibitan dan Perawatan Ternak Disbunak Paser di Desa Saing Prupuk, Kecamatan Batu Engau jauh lebih murah dibandingkan harga telur di pasaran.
“Mungkin karena tertarik dengan harga yang murah, sebab telur di pasar berkisar Rp32 ribu sampai Rp33 ribu bergantung ukuran, sementara kita menjual di harga Rp27 ribu sampai Rp28 ribu,” ungkapnya.
Produksi telur di sentra pemeliharaan ayam saat ini sudah mencapai 8.400 butir per hari, namun angka tersebut belum mencapai puncak produksi yang diperkirakan Disbunak Paser.
“Sebenarnya produksi maksimal kita perkirakan 80 persen dari kapasitas kandang sebanyak 12.500 ekor, sehingga posisi bertelur puncak mencapai 9.600 butir per hari,” sebutnya
Guna mengantisipasi telur yang dijual pecah, ke depan Disbunak Paser tidak akan menjual telur per kilogram melainkan hanya dijual per piring.
Penulis: Nash
Editor: Nicha R