Jumat, Oktober 22, 2021
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Warga Belakang Stadion Tanjung Laut Curhat ke Komisi III, Karena Pengecoran Jalan Sering Kebanjiran

BONTANG – Warga belakang Stadion Sepak Bola Tanjung Laut akhir-akhir ini mengeluh sering kebanjiran. Tersumbatnya aliran air di parit, diduga kuat menjadi penyebab air menggenang di wilayah belakang Gedung Ainia Rasyifa itu. Terlebih sejak ada proyek pengecoran jalan di atas parit, banjir makin sering muncul karena sampah banyak menumpuk di bagian bawah jalan.

Nurmi (35), salah satu warga RT 55 Kelurahan Berebas Tengah mengatakan, setiap hujan rumahnya dipastikan terendam banjir dengan ketinggian selutut hingga pinggang orang dewasa. “Sudah lima tahun saya tinggal disini. Baru kali ini sering banjir. Sebelumnya tidak pernah,” ujar Nurmi di sela-sela kunjungan lapangan Komisi III DPRD Bontang, Senin (27/9/2021).

Hal senada dikatakan warga lain bernama Ratna (34). Menurut dia, banjir semakin parah ketika hujan turun bersamaan dengan pasangnya air laut. Ratna menduga masih banyaknya tiang penyangga di bawah pengecoran jalan, membuat sampah menumpuk dan air parit tidak bisa mengalir. “Sampah itu dari daerah lain melewati parit disini. Kalau bisa di bagian atas sana dipasangi jaring, agar sampahnya tidak sampai menumpuk di bawah sini,” pinta Ratna dihadapan pejabat yang hadir.

Menanggapi keluhan tersebut, Kabid Sanitasi, Air Minum, dan Sumber Daya Air DInas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota (DPUPRK) Bontang, Karel mengatakan, jika pekerjaan pengecoran jalan dilakukan Dinas Perkim Kaltim pada 2019 lalu. Sehingga untuk usulan membongkar tiang-tiang di bawah jalan cor, harus dikoordinasikan lebih dulu. “Nanti akan kita tanyakan apakah tiang-tiang itu bagian dari struktur atau hanya alat bantu saat pekerjaan. Kalau alat bantu seharusnya nanti dilepas saja,” ucapnya.

Karel juga meminta dihadapan Komisi III, agar ada anggaran yang lebih besar untuk penanganan sedimentasi yang semakin meninggi, hingga menimbulkan pendangkalan dan membuat pembuangan air menjadi tidak lancar. “Harusnya dibuatkan kanal-kanal pembuangan yang bisa menahan tanah dari kanan kiri, dan bisa langsung mengarahkan pembuangan air ke laut,” tandasnya. (bms)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Hebat, Bontang Dinobatkan Kota Bersih di Asia Tenggara

0
JAKARTA – Kota Bontang, salah satu dari tiga kota di Indonesia dinobatkan sebagai Kota Ramah Lingkungan/Bersih di Asia Tenggara. Penghargaan itu diberikan The Association...

Pemuda Curi Celana Dalam Perempuan, Warga Jelawat Resah

0
SAMARINDA – Kaum hawa di Samarinda resah. Aksi pencurian celana dalam perempuan yang sedang dijemur terjadi di Jalan Jelawat, Samarinda Ilir, Rabu (21/10/2021). Aksi...