Selasa, Januari 26, 2021

Samarinda-Kutim Buka Belajar Tatap Muka, Balikpapan Pikir-pikir

Dilema Belajar di Tengah Penyebaran Covid-19

Di tengah penyebaran Covid-19 yang tak kunjung mereda, pelajar di dua daerah di Kaltim akan mulai menjalani belajar tatap muka. Amankah bagi mereka?

Menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim, Anwar Sanusi, dua daerah yang hampir pasti bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka pada Januari 2021, adalah Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

Walau bisa digelar, lanjut Anwar, aturan pembelajarannya berbeda satu sama lain, serta pastinya memberlakukan protokol kesehatan (prokes) sangat ketat. Di Samarinda, pembelajaran hanya dilakukan pada sekolah berlokasi di zona kuning.

Itupun dengan menerapkan aturan pembatasan kapasitas, yakni dari total ruang kelas yang ada maksimal hanya diisi 50%. Sementara di Kutim, pembelajaran hanya bisa dilakukan pada sekolah yang berada di zona hijau.

Adapun Balikpapan dan Penajam Paser Utara (PPU) belum ada keputusan karena masih menunggu hasil verifikasi kesiapan yang dilakukan masing-masing daerah. Sedangkan Kukar, tambah Anwar, menunggu keputusan provinsi. “Yang menjadi prioritas utama, kesehatan dan keselamatan guru dan murid,” katanya.

Anwar menambahkan, daerah lain yakni Kubar, Mahulu, Berau, Paser, dan Bontang, diputuskan menunda pelaksanaan pembelajaran tatap muka.

Data yang dirilis Satgas Penanganan Covid-19, menyebutkan, sampai Rabu (30/12/2020) siang, Kaltim menempati posisi teratas provinsi di Kalimantan dengan penambahan kasus baru Corona. Selama 24 jam terakhir, terjadi penambahan sebanyak 319 kasus (kumulatif 26.712 kasus).

Atau secara nasional di posisi keenam, di bawah DKI Jakarta yang bertambah sebanyak 2.053 kasus, Jabar 1.233 kasus, Jateng 951 kasus, Jatim 896 kasus, dan kelima ditempati Sulawesi Selatan dengan 538 penambahan kasus baru.

BACA JUGA :  Sudah 36 Ribu Kasus Positif di Kaltim, Kadinkes: Jangan Merasa Kuat

Dari 319 kasus baru tadi, mengutip data Satgas Covid-19 Kaltim, daerah dengan jumlah penambahan terbanyak terjadi di Balikpapan berjumlah 86 kasus, Kukar 57 kasus, Berau 42 kasus, Samarinda 37 kasus, Kubar 35 kasus, PPU 19 kasus, Kutim 14 kasus, Paser 13, Bontang 12 kasus baru, sedangkan Mahakam Ulu sampai Rabu pukul 12 Wita melaporkan nihil kasus baru Covid-19.

BACA JUGA :  Belasan Pegawai Terpapar Covid-19, Pegawai Kantor Gubernur Kaltim WFH

Anwar tak menyebutkan kenapa bukan Mahulu yang dibuka proses belajar tatap mukanya. Daerah yang lebih dari sebulan tercatat menjadi daerah zona kuning satu-satunya di Kaltim. Bukannya malah Samarinda atau Kutim yang penambahan kasusnya tergolong tinggi.

Disebut tinggi, karena jumlah kematian di Samarinda hingga kini sudah mencapai 218 orang. Adapun Kutim kasus meninggal karena Corona mencapai 56 orang. Untuk Mahulu, sejak Covid-19 dinyatakan masuk Indonesia pada awal Maret 2020, kasus kematiannya tercatat hanya 2 orang, dengan kasus positif 40 dan sembuh 24 kasus.

Corona tak memandang usia. Data Satgas Covid-19 Balikpapan bisa menjadi pegangan bahwa balita dan anak-anak juga rentan terpapar. Dari hasil analisa selama 14-22 Desember 2020, untuk anak berusia 0-10 tahun terjadi penambahan 24 anak positif, yang mana semuanya tertular dari klaster keluarga.

Pada rentang usia 10-18 tahun, menurut juru bicara Satgas Covid-19 Balikpapan Andi Sri Juliarty, penambahannya sebanyak 11 anak. Kemudian, usia 19-25 tahun terjadi penambahan 28 kasus, dan terakhir umur 20-45 tahun sebanyak 207 kasus.

Di tengah pandemi yang tak jelas kapan berakhir, memilih antara pendidikan atau kesehatan memang dilema. Dari sisi kesehatan sudah jelas, anak jadi prioritas karena merupakan generasi penerus bangsa. Sementara dari sisi pendidikan, pembelajaran jarak jauh tak bisa selamanya dilakukan sebab menimbulkan kejenuhan bahkan bisa memicu stres pada anak.

BACA JUGA :  Pemerkosa Anak Tiri di Samarinda Berusaha Bunuh Diri di Depan Petugas

Belajar jarak jauh juga dinilai kurang efektif dan terhalang banyak kendala, mulai dari perbedaan akses dan kualitas internet yang mengakibatkan perbedaan hasil belajar. Belum lagi munculnya tekanan psikososial sebagai akibat minimnya interaksi dengan guru, teman, dan lingkungan luar. (red2)

PEMASANGAN IKLAN : 0811-5405-033

BERITA POPULER