spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Prestasi Etam di Kamboja

Catatan Rizal Effendi  

SAYA sempat bertemu Ketua KONI Kaltim Rusdiansyah Aras di Hotel Bluesky Pandurata, Jakarta,  Senin (15/5) lalu. Dia dan rombongan pengurus lainnya juga baru tiba dari Kamboja mengawal 24 atlet Kaltim yang ikut berjuang membela kontingen Indonesia di arena SEA Games 2023, yang berlangsung di sana.

Wajahnya semringah, memberi isyarat bahwa anak-anak Kaltim sukses menyumbang medali. “Alhamdulillah, atlet-atlet kita mampu berjaya, mereka mempersembahkan tambahan medali untuk Indonesia sehingga melebihi target,” kata Rusdi, yang sempat bersama-sama saya menjadi wartawan Kaltim Post.

Dari perjuangan mereka di Kamboja, atlet Kaltim menyumbang 8 medali emas, 4 perak dan 5 perunggu dari 8 cabor yang diikuti. Hanya cabang E-Sport yang gagal menyabet medali, sedang lainnya sukses mengalahkan lawan-lawannya sampai di babak perebutan gelar.

Ketujuh cabor yang sukses itu adalah  gulat menyumbang 3 medali emas, 2 perak, dan 2 perunggu. Lalu dayung (2 emas), cricket ( 1 emas, 2 perak), pencak silat (1 emas),  sepak bola (1 emas), hockey outdoor (1 perunggu),  dan obstacle race (1 perunggu).

Medali emas pertama dari atlet Kaltim datang dari pesilat putra Iqbal Chandra Pratama, yang turun di kelas F. Dalam duel final yang berlangsung di Chory Changvar International Convention and Exhibition Center, Iqbal menumbangkan pesilat Mohd Sharul Zecky Sulaiman dari negeri jiran Malaysia.

Rusdi menyaksikan langsung pertandingan  tersebut. Deg-degan juga.  “Alhamdulillah saya lega begitu Iqbal dinyatakan sebagai pemenang,” kata Rusdi. Sementara Iqbal mengaku bangga  bisa mempersembahkan medali emas buat Indonesia. “Sejak awal saya optimis bisa mengalahkan Sharul,” kata pesilat yang sebelumnya juga pernah menjadi juara Asian Games 2018.

Dalam cabor gulat, Kaltim menurunkan 7 atletnya. Semua menyumbang medali. Di situ ada Zainal Abidin, Suparmanto, Annisa Safitria, Mutiara Ayuningtyas, Hamka Gulat Ardiansyah Darmansyah, dan M Aliansyah. Mereka didampingi pelatih Rudiansyah Darmasyah Samsu dan Suryadi Gunawan.

Dari arena Elephant Hall 1, Morodok Techno National Stadium, Phnom Penh, pegulat Suparmanto (63 kg Greco Roman Putra) dan Muhammad Aliansyah (67 kg Greco Roman Putra)  berhasil mempersembahkan medali emas. Ini  baru pertama kali mereka gapai  di arena SEA Games, makanya mereka sangat bangga. Satu lagi emas direnggut pegulat Mutiara Ayuningtyas. Sementara 2 perak diraih Zainal Abidin dan Hamka Gulat. Sedang 2 perunggu dari pegulat Annisa Safitria dan Ardiansyah Darmansyah.

Atlet dayung Kaltim asal Desa Kelumpang, Barong Tongkok, Kubar,  Harjuna yang bergabung dalam tim Traditional Boat Race (TBR) juga berhasil menyabet 2 medali emas. “Hebat, Harjuna dan teman-temannya mampu mempersembahkan emas. Ini kebanggaan kita,” kata Ketua PODSI Kaltim Abdul Rasid, yang juga ketua DPRD Kukar.

Sementara itu, Berlian Duma Pare dan Laili Salsabila yang bergabung dalam tim Cricket Indonesia juga mampu mempersembahkan  satu emas dan dua perak.

Sedang 5 perunggu selain 2 dari gulat, juga dipersembahkan oleh tim hockey outdoor putra dan putri. Lalu  satu perunggu lagi datang dari cabor baru yaitu obstacle race. Itu atas nama Angga Cahya, yang sebelumnya dikenal sebagai atlet panjat tebing.

Obstacle Race adalah lari halang rintang ekstrem. Ini cabang olahraga di mana pemain yang berjalan menggunakan kaki, harus mampu melewati berbagai rintangan dan hambatan.

BINTANG KALTIM

Salah satu bintang Timnas U-22 yang sukses meraih emas di Kamboja adalah Muhammad Taufany Muslihuddin. Dia pemain Borneo FC kelahiran Kota Raja, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Berkat gol pamungkasnya dari luar kotak penalti membuat Garuda Nusantara melaju ke babak final. Secara dramatis Indonesia mengalahkan Timnas Vietnam 3-2 meski dengan kekuatan 10 pemain saja. Sesuatu yang tak pernah terbayangkan. “Itu mukjizat,” kata seorang warga Tenggarong.

Menurut Zulkarnain, wartawan olahraga yang juga pengurus KONI Kaltim, penampilan Taufany memang sangat impresif. Dia yang berada di posisi gelandang bertahan, di luar dugaan berhasil membantu serangan di saat yang sangat dibutuhkan. “Luar biasa kehebatan anak Rondong Demang Tenggarong itu,” ulasnya langsung dari Olympic Stadium Phnom Penh.

Seperti kita ketahui bersama, dalam babak final Indonesia kembali meraih kemenangan dramatis dengan menumbangkan Timnas Thailand 5-2. Saya tak bisa melukiskan dengan kata-kata, betapa dahsyatnya kemenangan yang kita capai. Meraih medali emas, setelah 32 tahun puasa.

Dari Medan, Presiden Jokowi selain bersyukur dan mengucapkan selamat, dia juga mengajak sejumlah menteri yang mengikuti acara kunjungan kerjanya makan durian bersama. “Lega, lega,” katanya penuh semangat.

Saya yang ikut nobar di samping Hotel Bluesky Pandurata Jakarta larut dalam suasana kemenangan dengan penonton lain yang saya tidak kenal. Pokoknya kita bersatu penuh kegembiraan. Teman saya, Pak Wiwik sampai buka baju. Kebetulan saya juga pesan es durian. Kok pas dengan Pak Jokowi.

Saya lihat dari layar TV, ayah Taufany, Zukran yang nobar di Tenggarong bersama warga setempat juga melampiaskan kebahagiaan. “Rasanya campur aduk. Terima kasih ya Allah,” katanya terharu.

Bakat sepak bola Taufany turun dari sang ayah. Zukran pernah memperkuat tim Persatuan Sepak Bola Kukar (Persiku). Sedang Taufany yang kini berusia 21 tahun, mengawali kariernya ketika dia diikutkan sang ayah berlatih bola di sekolah sepak bola (SSB), yang berpusat di Stadion Rondong Demang Tenggarong pada tahun 2015. Kemudian berlanjut ke Sekolah Khusus Olahraga (SKOI) di Samarinda.

Berkat latihan yang keras, kelas permainan Taufany semakin terlihat. Dia sempat memperkuat Borneo FC U-16 dan  dipanggil untuk bergabung dengan Timnas Indonesia All Star. Lalu ditarik ikut serta dalam turnamen International Youth Championship 2021.

Dalam seleksi Timnas U-22 yang ketat dia lolos. Taufany akhirnya menjadi salah satu dari 20 pemain yang dipilih pelatih Indra Sjafri bermain di ajang SEA Games 2023 Kamboja. Asisten pelatih Bima Sakti asal Balikpapan yang mendampingi Indra Sjafri juga bangga ada anak Kaltim di antara pemain yang mereka asuh.

“Saya sangat bangga anak saya bisa bermain di Timnas. Saya ingatkan kepada Taufany, harus terus berlatih dan bekerja keras jangan cepat puas. Kita harus membuktikan bahwa anak Kukar juga bisa berprestasi,” kata Zukran penuh semangat.

Dari Balikpapan, cucu saya Defa berjingkrak-jingkrak melihat Timnas Indonesia juara. “Hebat Indonesia, Kai, Defa juga mau seperti itu,” katanya. Cucu saya yang duduk di kelas 3 SD ini beberapa kali memperkuat “timnas” sekolahnya dalam turnamen sepak bola mini. “MU gimana, Kai?” katanya menggoda saya. (*)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
16.0k Pengikut
Mengikuti