spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Polisi Periksa 5 Saksi Kasus Perundungan Siswa SMP di PPU

PENAJAM – Kasus perundungan yang menimpa seorang pelajar kelas IX di salah satu SMP di Penajam Paser Utara (PPU) tengah ditangani Satreskrim Polres PPU. Sudah 5 saksi dipanggil untuk dimintai keterangan.
Kasus ini bermula dari penganiayaan di lingkungan sekolah, Senin (26/9/2022) sore.

Korban berinisial F mengalami luka lebam di bagian mata, rahang dan mengeluh sakit di bagian perut. Ia tinggal di salah satu sekolah asrama, dan penganiayaan diduga dilakukan oleh pelajar kelas XI Sekolah Menengah Atas (SMA).

Kapolres PPU AKBP Hendrik Eka Bahalwan melalui Kasat Reskrim Iptu Dian Kusnawan mengatakan, penganiayaan terhadap F terjadi di lingkungan sekolah. Kasus tersebut lalu dilaporkan oleh orang tua korban ke Polres pada Selasa (27/9/2022).

“Penyidik Satreskrim Polres PPU, telah meminta keterangan sebanyak lima orang saksi, termasuk korban dan pelaku dan pihak sekolah sudah kita mintai keterangan,” ujar Dian, Jumat, (30/9/2022).

Namun, polisi belum menetapkan pelaku penganiayaan sebagai tersangka. Alasannya karena polisi masih mengumpulkan barang bukti dan keterangan saksi untuk menguatkan. “Kami masih melakukan penyelidikan, korban juga sudah divisum,” sebutnya.

Dian menambahkan, alasan lainnya ialah karena pelaku dan korban masih di bawah umur. Maka masih dibukakan ruang untuk menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan.

“Sudah ada upaya pihak sekolah untuk diselesaikan secara kekeluargaan, tetapi belum ada titik temunya. Seumpamanya nanti mau diselesaikan secara kekeluargaan, itu terbuka lebar,” jelasnya.

Sebelumnya, Ibu korban, Rusdianti menceritakan, anak laki-lakinya tinggal di asrama yang ada di lingkungan sekolah mengalami perundungan yang dilakukan oleh pelajar kelas SMA. Penganiayaan itu terjadi, lantaran terjadi kesalahpahaman. Pelajar SMA itu merasa diolok-olok saat lewat di depan korban.

“Waktu kejadian anak saya bersama keempat temannya di panggil ke belakang sekolah kemudian dijejer. Pelaku yang merasa diolok-olok, karena tidak mendapatkan jawaban dari kelima anak itu kemudian pelaku menerjang anak saya sampai tersungkur di pagar,” kata dia,

Rusdianti menyatakan, penganiayaan terjadi di luar jam belajar. “Kejadiannya setelah asar, di luar jam sekolah. Karena anak saya tinggal di asrama sekolah,” tutup Rusdianti. (sbk)

BACA JUGA

15.9k Pengikut
Mengikuti