BERAU – Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI) Kabupaten Berau tengah diterpa polemik internal. Sejumlah atlet melayangkan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Ketua POBSI Berau yang dinilai tidak sah secara administrasi dan minim komunikasi. Situasi ini memunculkan keresahan di kalangan atlet dan penggiat biliar di daerah.
Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Berau, Taupan Madjid, mengonfirmasi telah menerima laporan resmi terkait mosi tersebut. Sebagai langkah awal, pihaknya menugaskan bidang organisasi untuk melakukan penelusuran dan klarifikasi ke semua pihak.
“Kami sudah mendengar adanya mosi tidak percaya dari beberapa atlet. Tim organisasi sudah kami tugaskan untuk mencari tahu duduk perkaranya,” jelas Taupan.
Menurutnya, langkah investigasi ini penting agar KONI dapat memahami secara menyeluruh akar persoalan di tubuh POBSI. Ia menegaskan penyelesaian akan ditempuh secara musyawarah dengan tetap berpegang pada aturan organisasi.
“Kami ingin penyelesaian yang adil dan bijak. Prinsipnya, semua cabang olahraga di bawah KONI harus berjalan sehat, transparan, dan harmonis,” tegasnya.
Taupan juga mengungkapkan bahwa pelantikan pengurus POBSI tingkat kabupaten bukan kewenangan KONI Berau, melainkan langsung oleh POBSI Provinsi Kalimantan Timur. Karena itu, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan pengurus provinsi untuk memastikan keabsahan proses pelantikan yang dipersoalkan.
“Kami ingin memastikan apakah ada kekeliruan administrasi dalam pelantikan pengurus,” ujarnya.
Taupan Madjid berharap agar seluruh pihak menahan diri hingga hasil investigasi selesai. Ia menegaskan bahwa KONI Berau akan mengedepankan asas keadilan dan transparansi.
“Tujuan utama kami adalah menjaga semangat olahraga di Berau tetap hidup. Jangan sampai perbedaan pendapat justru menghambat prestasi atlet,” pungkasnya.
Di sisi lain, keresahan para atlet disuarakan oleh Anto, salah satu atlet biliar Berau. Ia mengaku tidak pernah dilibatkan dalam proses pemilihan ketua.
“Kami sama sekali tidak tahu soal pemilihan. Tidak ada pemberitahuan, tidak ada musyawarah,” ungkapnya.
Menurut Anto, sejak pergantian kepemimpinan, komunikasi antara pengurus dan atlet nyaris tidak ada. “Selama ini tidak ada visi dan kegiatan yang jelas. Silaturahmi pun tidak pernah dilakukan. Akibatnya, banyak atlet kehilangan semangat,” tuturnya.
Kondisi itu membuat para atlet bersama sejumlah rumah biliar seperti LS Billiard, 26 Billiard, A2R, dan Majestic Billiard mengambil langkah tegas dengan melayangkan surat pernyataan sikap kepada POBSI Provinsi Kaltim. Mereka juga meminta agar dilakukan pemilihan ulang ketua secara terbuka dan melibatkan seluruh klub.
Menanggapi hal tersebut, Ketua POBSI Berau, Saidin, mengimbau agar semua pihak menempuh penyelesaian melalui jalur organisasi.
“Kami tidak menutup diri. Bagi penggiat biliar yang ingin terlibat, silakan mendaftar secara resmi sebagai klub di bawah POBSI. Dengan begitu, mereka memiliki hak bicara dalam forum resmi seperti Muscab,” terangnya.
Saidin menepis tudingan bahwa pihaknya tidak pernah berkomunikasi dengan para pengelola rumah biliar. Ia menegaskan bahwa beberapa kali telah melakukan silaturahmi untuk membahas penjaringan atlet.
“Kami sempat bertemu dan berdiskusi dengan sejumlah rumah biliar, terutama dalam rangka penjaringan atlet daerah,” pungkasnya. (ril/dez)
Reporter: Aril Syahrulsyah
Editor: Dezwan






