SAMARINDA – Film animasi karya anak bangsa, Jumbo, mencetak sejarah baru sebagai film animasi terlaris di Asia Tenggara sepanjang masa. Dirilis sejak 31 Maret 2025, film ini berhasil menarik perhatian publik dengan capaian luar biasa: 5.472.439 penonton hanya dalam 20 hari penayangan.
Karya epik yang disutradarai oleh Ryan Adriandhy ini diproduksi oleh lebih dari 420 kreator dari seluruh Indonesia. Tak hanya memukau dari sisi visual, Jumbo juga menyuguhkan kisah menyentuh yang dapat dinikmati lintas usia, menandai pergeseran besar dalam lanskap film animasi lokal yang biasanya identik dengan segmen anak-anak.
Dengan genre petualangan fantasi, film ini turut diperkuat oleh dua produser ternama, Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari. Cerita Jumbo mengangkat tema tentang proses anak-anak dalam menghadapi duka melalui kekuatan imajinasi, persahabatan, musik, dan permainan peran.
Dibintangi nama-nama selebriti yang sudah mentereng di dunia perfilman, dan aktor serta aktris cilik yang berhasil menyampaikan makna ke seluruh penonton. Karya ini menjadi salah satu jembatan untuk film animasi Indonesia ke kanca internasional.
Tak hanya itu, original soundtrack yang berjudul “Selalu Ada di Nadimu” ciptaan Laleilmanino yang dinyanyikan oleh Prince Poetiray, Quinn Salman, dan Bunga Citra Lestari ini juga sukses membuat penonton menitihkan air mata dan viral diberbagai media sosial, seperti TikTok dan Instagram.
Pengisi suara tersebut antara lain, Prince Poetiray sebagai Don, Den Bagus Satrio Sasono sebagai Don usia empat tahun, Yusuf Ozkan sebagai Nurman, Graciella Abigail sebagai Maesaroh, Quinn Salman sebagai Meri, Muhammad Hidayat sebagai Atta, Kiki Narendra sebagai Pak Rusli, Ariel “Noah) sebagai Ayah Don, Bunga Citra lestari sebagai Ibu Don, Cinta Laura Kiehl sebagai Ibu Meri, Ariyo Wahab sebagai Ayah Meri, Angga Yunanda sebagai Acil, dan pengisi suara lainnya.
Berdasarkan pantauan Radar Samarinda di lapangan dan Aplikasi TIX ID, hampir setiap jam penayangan film Jumbo selalu terisi lebih dari setengah kapasitas yang tersedia.
Sepasang suami-istri yang membawa anaknya, Eko, Siti dan bintang, sepakat mengatakan, Film Jumbo sangat menarik dan menghibur bagi dirinya dan keluarga.
“Banyak pelajaran yang bisa diambil, semoga lebih banyak lagi film yang seperti ini, karena sangat mengedukasi dan bermanfaat bagi anak-anak khususnya,” ujar Eko.
“Film ini mempunyai banyak pesan moral. Tadi ada seperti, pembullyan. Tapi dapat dieksekusi dengan baik, sehingga saat menonton, kita terbawa suasana dengan alur ceritanya,” tambah Siti .
Senada dengan dengan keluarga Eko, dua orang mahasiswa Siti dan Rabiah mengaku bahwa, mereka tidak menyangka bahwa karya tersebut merupakan jerih payah produksi anak bangsa. Keduanya berpendapat, Film Jumbo secara kualitas sudah layak bersaing dengan rumah studio internasional.
“Semoga dengan film Jumbo menjadi pembuka bagi kreator Indonesia untuk semangat menghasilkan karya, dan terus menghadirkan kejutan-kejutan baru di dunia film animasi,” seru Siti.
“Dengan banyaknya jumlah penonton, kami harap akan selalu ada dan bertambah film animasi yang berkualitas, dan mempunyai nilai yang bisa dinikmati oleh semua usia,” tambah Rabiah.
Sebagai salah satu film yang bersanding dengan karya lainnya di libur lebaran, Film Jumbo memberi warna baru dalam dunia perfilman Indonesia. Kehadiran karya ini menampik kesimpulan yang sering digaungkan bahwa penikmat layar lebar Indonesia hanya terbuka untuk genre horror belaka.
Film ini sanggup merangkul semua kalangan usia yang membekas di hati penonton anak-anak dan bernostalgia bagi penonton dewasa. Dengan beragam aspek nilai moral yang terkandung, Film Jumbo berhasil membuka mata penikmat layar tancap Indonesia bahwasanya karya yang besar dapat dihasilkan dari usaha gigih murni anak bangsa.
Penulis: Hadi Winata
Editor: Nicha R






