Selasa, Januari 26, 2021

Inilah Fakta dan Fungsi Black Box Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang Telah Ditemukan

JAKARTA – Black box atau kotak hitam adalah istilah umum yang digunakan dalam industri penerbangan untuk merekam data selama pesawat diterbangkan. Walaupun disebut kotak hitam, black box dibalut warna yang terang menyala atau cerah agar mudah teridentifikasi dalam operasi pencarian.

Black box kini menjadi perbincangan usai insiden Sriwijaya Air SJ 182 jatuh di Kepulauan Seribu, Jakarta. Black box telah ditemukan di sekitar Pulau Laki-Pulau Lancang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, pukul 16.20 WIB. Black box ditemukan setelah empat hari pencarian. Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya mengatakan black box yang ditemukan adalah perekam data penerbangan atau flight data recorder (FDR).

Berikut fakta-fakta dari black box:

  1. Black Box Ada Dua Bagian
    Black box terdiri dari dua bagian peralatan perekam data penerbangan, CVR (Cockpit Voice Recorder) dan FDR (Flight Data Recorder). FDR bertugas untuk terus merekam beragam data tentang semua aspek pesawat saat terbang dari satu tempat ke tempat lain. Sementara CVR merekam percakapan di dek penerbangan dan suara-suara seperti transmisi radio dan alarm otomatis.
  2. Black box tidak berwarna hitam
    Melansir DW, istilah penggunaan nama black box muncul pertama pada Perang Dunia II, yang berasal dari pengembangan radio, radar, dan alat bantu navigasi elektronik di pesawat tempur Inggris dan Sekutu. Perangkat elektronik yang sering dirahasiakan ini secara harfiah terbungkus dalam kotak hitam atau rumah non-reflektif. Oleh karena itu dinamakan ‘Blackbox’. Selain itu, warna oranye dipilih agar terlihat terang dan mencolok secara visual di antara puing-puing setelah kecelakaan. Black box adalah alat perekam elektronik yang ditempatkan di dalam pesawat terbang untuk memudahkan investigasi kecelakaan dan berbagai insiden penerbangan.
  3. Ditemukan pertama di Australia
    Melansir ABC, orang yang pertama kali menemukan alat rekaman black box adalah DR David Warren. Ia menemukan menciptakan alat tersebut karena ayahnya korban jiwa akibat kecelakaan pesawat di Selat Bass pada tahun 1934, saat David masih berusia sembilan tahun. Pada awal tahun 50-an, DR Warren memiliki ide untuk menciptakan sebuah alat perekam data penerbangan dan percakapan di dek kokpit, untuk membantu para analis memecahkan penyebab insiden kecelakaan.
    Akhirnya pada 1956 Ia berhasil menyelesaikan prototipe tersebut dengan nama ARL Flight Memory Unit. Namun 5 tahun berselang, penemuannya tidak mendapat perhatian dari pihak penerbangan setempat. Lalu ciptaanya diproduksi secara massal di Inggris da Amerika Serikat, dan akhirnya digunakan di berbagai negara sebagai pelengkap keamanan pesawat.
  4. Hanya merekam 2 jam percakapan kokpit
    Fakta teknologi black box selanjutnya ialah alat perekam black box memiliki perekaman data penerbangan digital yang cukup lama, hingga 25 jam. Black box hanya merekam percakapan di dek kokpit paling lama 2 jam.
  5. Butuh Waktu Lama Melacak Black Box
    Black box dilengkapi dengan sinyal pemancar bawah air yang mulai mengeluarkan denyut sinyal jika sebuah sensor di dalamnya sudah terkena air. Kotak hitam dapat memberikan sinyal hingga kedalaman lebih dari empat kilometer, dan dapat memancarkan sinyal “ping” tiap detiknya selama 30 hari sebelum baterainya habis.
  6. Hampir tidak bisa dihancurkan
    Black box dibungkus dengan titanium ganda atau baja yang tahan karat, hal ini mampu menahan alat tersebut dari benturan dan ledakan. Pada bagian yang berisi memori penyimpanan data, peneliti telah melakukan beberapa uji kekuatan, salah satunya dengan menekan blackbox dengan bobot 227 kilogram di atasnya, dan peneliti mencoba menghancurkan alat itu dengan dilebur api 1.100 derajat celcius, namun black box masih dapat bertahan.
  7. Teknologinya tidak sehebat smartphone
    Para ahli menilai, teknologi yang digunakan black box saat ini sudah saatnya untuk diperbaharui. Pasalnya alat tersebut tidak memiliki fitur yang canggih untuk memudahkan penyelidikan, layaknya ponsel pintar untuk mengirim data secara realtime. Namun saat ini, bandwidth yang dibutuhkan untuk mengirimkan data terkini dari pesawat masih belum dapat menunjang, karena data penerbangan dinilai banyak. Penulis dunia aviasi Stephen Trimble mengatakan bahwa Boeing telah mengajukan hak paten pada sistem yang akan mengirimkan subset data termasuk lokasi pesawat secara realtime untuk menggantikan black box. (dikutip dari CNNindonesia.com)
BACA JUGA :  Dukung Inovasi Anak Negeri, Pupuk Kaltim Beli GeNose C19
BACA JUGA :  Mantan Wakil Bupati PPU Ihwan Datu Adam Meninggal, Hari Ini Diterbangkan dari Jakarta ke Penajam

PEMASANGAN IKLAN : 0811-5405-033

BERITA POPULER