spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

HUT “Kota Sambal”

Catatan Rizal Effendi

SETELAH Provinsi Kalimantan Timur, giliran Samarinda dan Balikpapan berulang tahun. Samarinda merayakan hari jadinya tanggal 21 Januari. Sabtu besok. Terpaut 12 hari dari HUT Kaltim.  Sedang Balikpapan, 10 Februari nanti. Yang menarik, Samarinda selalu merayakan dua hari jadi, yaitu hari jadi kota dan hari jadi pemerintah kota.

Pada tahun 2023 ini, Samarinda merayakan hari jadi pemerintah kota ke-63 dan hari jadi kota ke-355. Sedang Balikpapan merayakan hari jadi kota ke-126. Pintu gerbang Kaltim ini setahu saya tak pernah merayakan hari jadi terbentuknya pemerintah kota.

Saya tidak begitu tahu kenapa hari jadi pemerintah Kota Samarinda juga dirayakan. Lalu menggunakan patokan waktu yang mana. Dari data perkembangan administratif, tahun 1950 Samarinda ditetapkan sebagai ibu kota keresidenan, tahun 1953 sebagai ibu kota Daerah Istimewa Kutai, tahun 1957 sebagai ibu kota provinsi, tahun 1959 sebagai kotapraja, tahun 1965 sebagai kotamadya dan tahun 1999 sebagai kota.

Tapi bisa jadi patokannya sejak ditetapkannya Kapten Soedjono AJ sebagai wali kota pertama tahun 1960. Makanya hari jadi Pemkot memasuki tahun ke-63.

Ketika Presiden Jokowi menetapkan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kaltim, muncul di cuitan medsos istilah yang menarik dan membuat kita tersenyum. Kalau Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi disingkat dalam akronim “Jabodetabek,” maka Samarinda, Balikpapan, Tenggarong, Penajam, dan sekitarnya disingkat menjadi kawasan “Sambal Terong Pedas.” Sambal-nya adalah Samarinda dan Balikpapan.

Samarinda memutuskan hari jadi kotanya ketika orang-orang Bugis Wajo mulai bermukim di wilayah ini pada Januari 1668. Dalam Perda No 1 Tahun 1988 ditetapkan hari jadi Kota Samarinda pada tanggal 21 Januari 1688 Masehi bertepatan dengan 5 Sya’ban 1078 Hijriyah. Meski tanggal ini masih sering diperdebatkan karena sebelumnya sudah ada kampung di wilayah ini.

Konon orang-orang Wajo, Sengkang hijrah setelah pecah perang Gowa. Mereka tidak mau tunduk dengan perjanjian Bungayya, yang ditandatangani Sultan Hasanuddin. Ada yang memilih bergerilya, ada juga yang berlayar ke daerah lain termasuk ke Kalimantan.

Di antara yang memilih berlayar disebut-sebut nama bangsawan terkenal dari Wajo. Konon dia diterima baik oleh Sultan Kutai karena kesediaannya membantu  Sultan. Adalah La Mohang Daeng Mangkona namanya.  Bergelar Poa Ado.

Mulanya tinggal di muara Karang Mumus (Selili Seberang), yang kawasannya agak tinggi. Lalu mereka pindah ke Samarinda Seberang, tinggal di rumah rakit yang sama rendah. Itu salah satu versi yang menginspirasi munculnya nama Samarinda bermula dari kata “sama rendah.”

Versi lain menyebut nama itu bermula dari orang Banjar. Karena daratan sama rendahnya dengan ketinggian sungai Mahakam. Ada juga yang bilang dari Bahasa Sansekerta: “Samarindo,” yang berarti salam sejahtera. Ada lagi dari lisan Melayu, yang  bermula dari kata “samar” dan “indah.”

Salah satu warisan orang Wajo di Samarinda Seberang adalah kerajinan membuat sarung samarinda. Warna dan motifnya memang sangat kental dengan Sulawesi. Terutama warna merah kotak-kotak hitam. Dulu ketika Ibu Tien Soeharto berkunjung ke Samarinda, sempat populer sarung samarinda motif “Ibu Tien” untuk dikenakan kalangan wanita.

Daeng Mangkona disebut-sebut sebagai pendiri kota Samarinda. Setidaknya dia termasuk orang pertama yang merintis sampai berkembangnya suatu wilayah, yang kemudian disebut Kota Samarinda.

Dalam manuskrip salasilah Raja Kutai Kartanegara yang ditulis Khatib Muhammad Tahir dan dikutip ahli sejarah Belanda, CA Mees, disebutkan pada abad ke-13 (tahun 1201-1300)  sudah ada 6 perkampungan di wilayah Samarinda. Yakni, Pulau Atas, Karang Asam, Karamumus (Karang Mumus), Luah Bakung (Loa Bakung), Sembuyutan (Sambutan), dan Mangkupelas (Mangkupalas).

Sejak ditetapkan sebagai pemerintahan kota, Samarinda sudah memiliki 10 wali kota. Selain Kapten Soedjono, juga Mayor Ngudio, HM Kadrie Oening,  Anang Hasyim, Letkol Iswanto Rukin,  HA Waris Husain, Kol Lukman Said,  H Achmad Amins, H Syaharie Ja’ang sampai Andi Harun.

Wali kota paling populer adalah HM Kadrie Oening (1967-1980), yang banyak membuka wilayah baru dan berbagai terobosan. Dia yang berani menghapuskan angkutan becak tahun 1974. Sempat didemo, tapi  tak gentar. Tandatangannya mirip tulisan Allah dalam bahasa Arab.  Sedang wali kota paling singkat, Iswanto Rukin tahun 1985. Hanya sempat sebulan bertugas dia meninggal dunia karena serangan jantung.

Nama Kadrie Oening diabadikan oleh Gubernur Isran Noor menggantikan nama stadion atau Gelora Sempaja. Fasilitas di kompleks ini sebagian besar dibangun era Gubernur Suwarna AF untuk keperluan PON XVII dan sebagian lagi khususnya convention hall oleh Gubernur Awang Faroek Ishak.

Andi Harun yang sekarang  memimpin Samarinda adalah politisi dan pengusaha kelahiran Bone. Dia alumnus Fakultas Teknik Pertambangan UVRI dan Ilmu Hukum UMI Makassar. Tapi S2-nya, Ilmu Ekonomi dari Universitas Mulawarman. Sebelum menjadi wali kota, dia anggota DPRD Kaltim tiga periode (1999-2014). Tokoh yang dekat dengan bos PP Kaltim Said Amin ini, disebut-sebut juga calon kuat gubernur Kaltim 2024.

Menyambut hari jadinya, Samarinda me-launching motif batik khas Kota Tepian. Ini bagian dari kreasi Kota Peradaban.  Menurut Andi Harun, proses produksinya diserahkan ke pengrajin lokal. Tidak perlu ke Jawa. Batik itu akan dijadikan seragam pegawai di lingkungan Pemkot dan  perusahaan swasta.

Bersama wakilnya Rusmadi Wongso, Andi Harun terus berbenah. Program pembangunan Probebaya terus dikawal. Terkadang aksinya ada juga yang dikritik wartawan. Dia sempat heboh didemo soal insentif guru dan viral menghentikan pembangunan lapangan mini soccer di lahan milik Pemprov Kaltim.

Samarinda juga masih berjuang mengatasi banjir dan penataan pasar. Ini tidak gampang. Memerlukan perjuangan berat. Pasar Segiri dan Pasar Pagi masih perlu sentuhan khusus. Begitu juga Sungai Karang Mumus, yang masih sering meluap.

Samarinda saat ini berpenduduk 827.994 jiwa (data BPS 2022) dengan luas 718 km2. Wilayahnya terdiri dari  10 kecamatan dan 59 kelurahan. APBD 2023 mencapai Rp 3,9 triliun naik Rp 1,3 triliun dari 2022. Dengan PAD-nya sebesar Rp 600 miliar lebih.

Anggota DPRD Samarinda berjumlah 45 orang dengan komposisi PDIP 8, Gerindra 8, Golkar 5, PKS 5, Demokrat 5, NasDem 4, PAN 4, PKB 3, PPP 2 dan Hanura 1.

SUMUR MATHILDA

Balikpapan menetapkan hari jadinya merujuk pada momentum historis ketika dilakukan pengeboran perdana minyak mentah di sumur Mathilda pada tanggal 10 Februari 1897. Lokasinya di kaki Gunung Komendur, di sisi timur Teluk Balikpapan. Monumen sumurnya sampai sekarang masih ada.

Karena itu Balikpapan kerap disebut Kota Minyak. Bahkan tim sepakbolanya, Persiba kerap dijuluki “Tim Selicin Minyak.” Apalagi sekarang tengah dilakukan proyek perluasan kilang Balikpapan.  Nama proyeknya RDMP atau Refinery Development Master Plan. Sebagian wilayah pantai Balikpapan mulai Pelabuhan Semayang sampai perumahan di atas air, Margasari sudah menjadi kawasan kilang Balikpapan. Ada rencana jalan umum di situ bakal ditutup.

Proyek RDMP didesain untuk meningkatkan kapasitas kilang dari 260  ribu barel  menjadi 360 ribu barel per hari.  Terbesar di Tanah Air mengalahkan kilang Cilacap, Jawa Tengah. Pengoperasiannya secara bertahap mulai akhir 2023 ini.

Setidaknya ada 3 versi asal mula nama Balikpapan. Mulai cerita 10 papan yang balik ketika akan disumbangkan ke istana baru di Kutai Lama, nama “Kuleng Papan” dari  suku Pasir Balik yang artinya balik dan papan. Sampai cerita papan yang terbalik dari perahu karena terkena badai.

Sejak tahun 1960, Balikpapan seperti juga Samarinda,  sudah memiliki 10 wali kota. Mulai H Aji Raden Sayid Muhammad, Mayor Bambang Soetikno, Mayor Imat Saili, Mayor (Pol) Zainal Arifin, Letkol (Pol) H Asnawi Arbain, Kol CZI Syarifuddin Yoes, Kol Inf Tjutjup Suparna, Imdaad Hamid, Rizal Effendi, dan Rahmad Mas’ud. Sempat juga H Hermain Okol sebagai pelaksana tugas.

Jumlah penduduk Balikpapan saat ini sebanyak 688.318 jiwa. Lebih kecil sedikit dari Samarinda. Wilayah Balikpapan seluas  503,3 km2 terdiri 6 kecamatan, 34 kelurahan dan 1.143 RT. APBD 2023 mencapai Rp 3,5 triliun dengan PAD Rp 1,084 triliun. Ada angka defisitnya Rp 134 miliar.

Sama dengan Samarinda, anggota DPRD Balikpapan sebanyak 45 orang. Komposisinya Golkar 11,  PDIP 8, Gerindra 6, PKS 6, Demokrat 4, NasDem 3, PPP 3, Hanura 2, PKB 1 dan Perindo 1. Pada Pemilu 2019, warga Balikpapan yang mempunyai hak pilih (DPT) sebanyak  425.406 orang dan yang menggunakan hak suaranya 336.070 atau sekitar 79 persen.

Pada Pemilu 2024 nanti, kata Ketua KPU Noor Thoha, jumlah  anggota DPRD yang dipilih tetap 45. Hanya saja ada pergeseren kursi dapil.  Balikpapan Kota yang semula 6 kursi berkurang jadi 5. Demikian juga Balikpapan Tengah dari 8 menjadi 7. Balikpapan Barat tetap 6. Balikpapan Utara juga tetap 11. Balikpapan Timur dari 5 menjadi 6. Sedang Balikpapan Selatan dari 9 menjadi 10,

Balikpapan sekarang tampil dengan wajah baru. Ada tugu jam yang bisa berbunyi Hymne Balikpapan di persimpangan Kantor Wali Kota. Ada kapal wisata. Lagi besar-besaran membenahi Sungai Ampal untuk atasi banjir. Meski kontraktornya tertatih-tatih. Sayang, kata seorang warga, wali kotanya masih jomblo, alias belum ada wakilnya.

Samarinda selalu bersaing dengan Balikpapan. Dulu persaingan keras terjadi di lapangan hijau. Kalau sudah bertanding Persisam dengan Persiba, selalu berujung dengan perkelahian. Semua mau menang. Tapi sekarang sepak bola Samarinda lebih maju. Borneo FC pengganti Pusam berada di Liga 1, sedang Persiba hanya berlaga di Liga 2. Itu pun macet karena kompetisi Liga 2 dihentikan PSSI.

Dalam Porprov VII Kaltim di Berau, yang berakhir 7 Desember 2022, Samarinda meraih gelar juara umum. Memborong 254 medali emas. Sedang Balikpapan, yang nyaris tidak ikut berpartisipasi akhirnya berada di urutan ke-5. Bahkan gagal mempertahankan tradisi  meraih 100 emas.

Tapi urusan keberhasilan pembangunan, Samarinda selalu kalah unggul. Dalam Upacara HUT ke-66 Provinsi Kaltim, Senin, 9 Januari 2023, Balikpapan tetap peraih panji keberhasilan terbanyak dengan 16 panji. Tapi  Samarinda mulai membayangi berada di urutan ke-2 dengan 10 panji. Naik 3 dari tahun lalu. Dari wali kota sebelumnya termasuk era saya, Samarinda memang belum pernah di atas dalam peraihan panji.

Selain itu ada beberapa tokoh Balikpapan menerima penghargaan pada Rapat Paripurna DPRD Kaltim, Kamis (7/1) lalu. Di antaranya mantan ketua DPRD Andi Burhanuddin Solong yang meraih penghargaan tokoh berjasa di kepemudaan, Tjan Haryanto Chandra di bidang keagamaan, Soekiranto di bidang kepramukaan, Riswah Yuni di bidang UMKM dan saya sendiri di bidang kewartawanan.

Berkat jalan tol yang dibangun Gubernur Awang Faroek Ishak, jarak Samarinda dan Balikpapan sekarang terasa tidak jauh lagi. Saya sering pulang pergi. Soalnya cukup waktu satu jam sudah tembus. Juga tidak pusing dan mual karena kalau lewat jalan non tol berkelok-kelok. Cuma kita tak bisa lagi mampir di warung Tahu Sumedang. Padahal tahunya enak, apalagi kalau menjadi sajian di hari jadi. Dirgahayu Samarinda dan Balikpapan. Semoga “sambal”-nya makin pedas. (*)

15.9k Pengikut
Mengikuti